Dewa Buaya Bagi Suku Pemburu Kepala di Malaysia

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Laporan dari Malaysia

Dewa Buaya Bagi Suku Pemburu Kepala di Malaysia

- detikTravel
Senin, 09 Feb 2015 12:37 WIB
Dewa Buaya Bagi Suku Pemburu Kepala di Malaysia
Tugu buaya suku Lundayeh di Mari Mari Village (Afif/detikTravel)
Kinabalu - Mari Mari Village di Kinabalu, Malaysia merupakan tempat turis untuk mengenal lebih dekat kehidupan suku-suku yang menetap di kawasan Sabah. Salah satunya yakni Suku Lundayeh sebagai pemburu kepala dan mengsakralkan buaya.

Masih ada satu cerita menarik yang saya dapatkan di Mari mari Village. Masih juga soal suku Lundayeh yang disebut head hunter alias para pemburu kepala manusia.

Di Mari Mari Village yang berjarak sekitar 45 menit dari pusat kota Kinabalu, terdapat 5 suku yang masing-masing disimbolkan dalam 5 rumah adatnya, yaitu Kadazan Dusun, Bajo, Lundayeh, Murut, dan Rungus. Usut punya usut, kelima suku tersebut merupakan pecahan dari suku Dayak yang tersebar di Kalimantan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kembali ke Mari Mari Village, di bagian suku Lundayeh, turis bisa mengetahui lebih dekat tentang suku pemburu kepala manusia ini. Bahkan, bisa memegang pedang mandau yang digunakan untuk memenggal kepala. Namun ternyata, ada hal lain yang juga menarik di sana. Ada patung buaya!

Di sebelah rumah adat suku Lundayeh, turis biasanya tidak ngeh dengan gumpalan tanah yang padat bentuknya panjang. Kalau diperhatikan, bentuknya ternyata adalah buaya. Dengan, batu-batu yang runcing di punggungnya layaknya sisik buaya sungguhan.

"Buaya, menjadi dewa atau yang dihormati oleh suku Lundayeh," kata Alister, pemandu setempat kepada saya.

Baca Juga: Kisah Para Pemburu Kepala di Malaysia

Menurut Alister, suku Lundayeh tidak pernah membunuh atau berburu buaya. Mereka begitu menjaga hewan tersebut, yang di sisi lain (boleh percaya boleh tidak) buaya juga tidak akan menyerang orang-orang dari suku Lundayeh.

Informasi tambahan yang saya dapatkan dengan bermodal browsing di internet, di kampung-kampung yang ditempati suku Lundayeh memang terdapat patung buaya seperti ini. Ketika para pria pulang sehabis berburu kepala manusia, mereka akan berpesta dan minum tuak sambil mengelilingi tugu buaya itu.

"Terdapat banyak patung seperti ini di perbukitan-perbukitan di Sabah yang dekat atau di dalam desa-desa suku Lundayeh. Hanya saja, untuk mencapai desanya cukup jauh jaraknya," papar Alister.

Turis pun dipersilakan untuk berfoto di tugu buaya di Mari Mari Village ini. Jepret!

(aff/aff)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads