Masih ada satu cerita menarik yang saya dapatkan di Mari mari Village. Masih juga soal suku Lundayeh yang disebut head hunter alias para pemburu kepala manusia.
Di Mari Mari Village yang berjarak sekitar 45 menit dari pusat kota Kinabalu, terdapat 5 suku yang masing-masing disimbolkan dalam 5 rumah adatnya, yaitu Kadazan Dusun, Bajo, Lundayeh, Murut, dan Rungus. Usut punya usut, kelima suku tersebut merupakan pecahan dari suku Dayak yang tersebar di Kalimantan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sebelah rumah adat suku Lundayeh, turis biasanya tidak ngeh dengan gumpalan tanah yang padat bentuknya panjang. Kalau diperhatikan, bentuknya ternyata adalah buaya. Dengan, batu-batu yang runcing di punggungnya layaknya sisik buaya sungguhan.
"Buaya, menjadi dewa atau yang dihormati oleh suku Lundayeh," kata Alister, pemandu setempat kepada saya.
Baca Juga: Kisah Para Pemburu Kepala di Malaysia
Menurut Alister, suku Lundayeh tidak pernah membunuh atau berburu buaya. Mereka begitu menjaga hewan tersebut, yang di sisi lain (boleh percaya boleh tidak) buaya juga tidak akan menyerang orang-orang dari suku Lundayeh.
Informasi tambahan yang saya dapatkan dengan bermodal browsing di internet, di kampung-kampung yang ditempati suku Lundayeh memang terdapat patung buaya seperti ini. Ketika para pria pulang sehabis berburu kepala manusia, mereka akan berpesta dan minum tuak sambil mengelilingi tugu buaya itu.
"Terdapat banyak patung seperti ini di perbukitan-perbukitan di Sabah yang dekat atau di dalam desa-desa suku Lundayeh. Hanya saja, untuk mencapai desanya cukup jauh jaraknya," papar Alister.
Turis pun dipersilakan untuk berfoto di tugu buaya di Mari Mari Village ini. Jepret!
(aff/aff)











































Komentar Terbanyak
Viral Bule Inggris Menangis Lihat Sampah, Bukit Pergasingan Langsung Ditutup
Viral Sawah Bergaya Sabana di Prambanan, Petani Protes Lahan Jadi Tempat Bikin Konten
Citilink Ngegas, Armada Jadi 43 Pesawat, Terbang Lagi dari Bandung Mulai 17 Agustus