Masjid Kobe beralamat di 2-25-14 Nakayamatedori, Chuo Ward, Kobe. Dalam perjalanan rombongan media dari Jakarta ke Jepang atas undangan Japan National Tourism Organization (JNTO) dan Cathay Pacific, Masjid Kobe menjadi salah satu destinasi yang disinggahi.
Waktu menunjukan pukul 14.00, ketika saya dan rombongan media lainnya tiba di Masjid Kobe, Kamis (28/5/2015). Awalnya, saya mengira masjid ini berada di tengah lapangan luas atau di pinggir jalanan besar yang mudah terlihat. Tak disangka, ternyata masjidnya ada di jalanan kecil yang di depannya hanya jalan mobil satu arah saja.
Pemandangan Masjid Kobe bak masjid-masjid ala Timur Tengah. Bertingkat dua, punya satu kubah besar dan dua minaret tinggi yang mengapit pintu utamanya. Warna bangunannya kecokelatan, serta terdapat jendela berukuran besar di kanan dan kirinya.
Bicara soal sejarah, umat Muslim di Jepang berasal dari para imigran. Dari suku Tartar di Tiongkok di awal abad ke-20 sampai para imigran asal India sampai Mesir. Lalu di tahun 1935, diresmikanlah masjid ini yang mana Islam sudah pelan-pelan dipercaya sebagai agama di Jepang.
Masjid Kobe pun dinilai bersejarah, karena sebagai masjid pertama yang ada di Negeri Sakura. Sempat terkena serangan bom saat Perang Dunia II, tapi bangunannya tidak hancur. Masih berdiri tegak seperti yang saya lihat sekarang ini.
Setelah membuka sepatu, saya langsung ke arah kiri untuk mengambil air wudhu untuk menunaikan salat jamaq qashar zuhur dan ashar. Sepanjang kaki melangkah, masjid ini sangat bersih. Kamar mandinya juga bersih dan tidak ada air yang tergenang. Siapa saja diharuskan memakai sandal yang sudah disiapkan untuk mengambil wudhu atau ke kamar kecil.
Di depan pintu masuk menuju ruangan salat terdapat tulisan 'No Photographs'. Ah sayang seribu sayang, artinya saya dilarang memotret isi dalam masjidnya. Apa daya, peraturannya sudah seperti itu.
Bagian dalam Masjid Kobe, dihiasi oleh karpet merah. Disediakan peci untuk menutup kepala dan banyak Al Quran di rak buku di kanan dan kirinya.
Lampu chandelier berwarna kuning menghiasi langit-langit. Di dekat tempat imam salat, terdapat tangga kecil sebagai tempat untuk berkhutbah saat salat Jumat atau salat Ied. Berbeda dengan masjid-masjid di Indonesia yang umumnya adalah mimbar.
Untuk jamaah pria di lantai satu dan jamaah wanita di lantai dua. Lagi-lagi, ruangan salatnya pun sangat bersih. Suasananya sungguh nyaman, tidak panas dan tenang. Untuk kapasitas, mungkin bisa menampung ratusan jamaah saja.
(Sri Anindiati Nursastri/Sri Anindiati Nursastri)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru