Beberapa waktu lalu, saya berkesempatan melancong ke Istanbul, Turki. Meski hanya transit, saya gunakan waktu sebaik mungkin untuk mampir ke beberapa destinasi terkenal di sana seperti Hagia Sophia dan Masjid Sultan Ahmed atau yang dikenal dengan nama Masjid Biru.
Kedua bangunan tersebut umurnya sudah ratusan tahun serta menjadi destinasi bersejarah di Istanbul. Khusus di Masjid Biru, ada pengalaman unik yang saya rasakan pertama kali.
Saya datang ke sana sebagai turis, sekaligus dengan niat untuk beribadah. Waktu itu menunjukan pukul 09.00 pagi waktu setempat, namun ternyata Masjid Biru sudah ramai oleh turis dari orang dewasa sampai anak-anak.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Petugas masjid, kemudian akan memberikan kita plastik secara gratis untuk tempat menaruh alas kaki. Begitu sudah masuk ke dalam masjid, ada rak untuk menaruh alas kaki yang sudah diplastikan tadi. Suatu hal simpel tapi patut diacungi jempol, menjaga kebersihan masjid dan menjaga rasa aman jamaah agar alas kakinya tidak hilang.
Kala itu di dalam Masjid Biru sudah ramai oleh turis. Ada yang salat dan beberapa lainnya berfoto-foto mengabadikan kaca-kaca mozaik yang berwarna biru nan cantik. Saya menuju bagian tengah, tempat untuk salat, diberi pembatas berupa kayu dan bagi yang bukan Muslim dilarang untuk menginjakan kaki.
Ada rasa syahdu dan bangga di hati saat bertakbir di dalam Masjid Biru. Masjid yang sangat bersejarah karena dibangun sejak tahun dan masuk dalam daftar salah satu masjid tercantik di dunia.
Setelah mengucapkan salam, saya kaget saat melihat belakang. Para turis yang tidak salat alias bukan Muslim, berjejer dan mengeluarkan kamera. Mereka memotret sekaligus melihat orang-orang yang sedang salat, termasuk mungkin salah satunya saya yang baru saja salat.
Inilah pertama kalinya saya ditonton dan dipotret saat sedang salat. Suatu pengalaman unik, yang pasti tidak akan saya dapatkan di Indonesia yang mayoritas penduduknya Muslim. Namun bagi saya pribadi, tidak masalah mereka (turis yang bukan Muslim) melihat dan memotret saya saat sedang salat. Mereka tentu jarang melihat masjid, apalagi melihat orang-orang yang sedang salat dengan gerakan-gerakan khusus.
Usut punya usut, tak sedikit turis yang tertarik untuk mengenal dan mempelajari tentang Islam. Hal itu terlihat dari papan bertuliskan, 'To Understand Islam Please Contact Our Specialist In The Islamic Information Center'. Bahkan, ada kursus untuk membaca Al Quran juga lho!
Setelah salat, saya bergegas menuju Bandara Ataturk untuk melanjutkan perjalanan. Assalamualaikum, Masjid Biru!
(aff/aff)










































