Kisah Negeri yang Penduduknya Paling Benci Terlambat
Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Kisah Negeri yang Penduduknya Paling Benci Terlambat

Johanes Randy Prakoso - detikTravel
Kamis, 21 Jul 2016 11:50 WIB
Kisah Negeri yang Penduduknya Paling Benci Terlambat
Zurich di Swiss (Randy/detikTravel)
Zurich - Arloji buatan Swiss sering menjadi oleh-oleh wisatawan. Kenapa bangsa ini pintar membuat jam? Itu ada kaitan dengan budaya mereka yang tepat waktu dan benci terlambat.

Budaya jam karet atau terlambat memang dianggap sebagai hal yang lumrah di Indonesia. Hal itu pun bertolak belakanga dengan Swiss di Eropa yang dikenal sangat tepat waktu dan efisien.

Dilansir detikTravel dari BBC, Rabu (20/7/2016) efisiensi dan budaya tepat waktu Swiss ternyata berasal dari prinsip hidup mereka. Menyadur definisi kebahagian seorang pemikir Jerman, Schopenhauer, bahwa kebahagiaan yang sejati berasal dari waktu dan kebiasaan yang efisien. Itulah yang yang menjadi alasan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal itu pun dibuktikan langsung oleh traveler bernama Eric Weiner yang traveling ke Swiss. Diungkapkan oleh Eric, masyarakat di Swiss selalu datang tepat waktu dan tak pernah telat. Jika berjanji untuk bertemu pada pukul 14.00, maka mereka akan datang tepat waktu atau lebih awal.


Orang Swiss terkenal tepat waktu dan efisien (Randy/detikTravel)

Didasarkan dari prinsip hidup yang efisien, sejumlah penghasil jam ternama dunia pun berasal dari Swiss. Tentu bukan rahasia, kalau jam tangan 'Made in Swiss' sudah begitu terkenal di dunia akan akurasinya yang tak pernah meleset barang sedetik.

Jika melihat jam di pusat perbelanjaan misalnya, tak sedikit yang berasal dari Swiss dengan lambang negaranya yang berbentuk salib putih dengan kotak merah. Tak sedikit juga traveler yang liburan ke Swiss dan pulang dengan membawa jam tangan.


Moda transportasi juga on-time (Randy/detikTravel)

Etos efisien itu pun juga dapat dijumpai pada berbagai moda kendaraan yang ada di Swiss, baik MRT, tram maupun bus. Apabila naik kendaraan umum, traveler dapat melihat estimasi waktu kendaraan di setiap haltenya. Apabila tertulis 2 menit, sudah pasti kendaraan akan datang tepat waktu tanpa telat.

Budaya itu pun juga dirasakan oleh penulis Amerika bernama Susan Jane Gilman yang pernah tinggal di Jeneva selama 11 tahun. Susan mengungkapkan, bahwa ia tidak pernah menaiki taksi yang tiba terlambat di tempat tujuan. Selalu tepat waktu atau lebih cepat.

Fakta menarik lainnya, sejumlah tempat umum seperti toilet pun sangat bersih di Swiss. Kalau dibandingkan secara efisiensi dan etos hidup, mungkin hanya Jepang yang bisa menyaingi Swiss.


Suasana sore hari di Zurich yang ramai namun bersih (Randy/detikTravel)

Di satu sisi, budaya tepat waktu Swiss juga punya kekurangan. Contohnya, masyarakat Swiss terbiasa melakukan Coffee Break setiap pukul 16.00 sore setiap harinya. Lantas semua kedai kopi akan langsung penuh dan menimbulkan antrean, karena semua orang datang pada waktu yang bersamaan!

Sedangkan dari segi pariwisata, Swiss juga diberkahi dengan banyak bangunan lama bergaya Bavarian hingga Pegunungan Alpen serta alam yang hijau. Rasanya hidup begitu sempurna dan serba tepat waktu di Swiss.

Traveling ke Swiss, traveler pun akan dibuat belajar banyak. Mulai dari etos waktu yang efisien hingga bagaimana belajar untuk menghargai waktu pribadi dan orang lain. Sekiranya hal positif itu bisa berguna dalam dunia kerja serta hidup pribadi.


Suasana alam nan hijau serta dikelilingi gunung es (Randy/detikTravel)




(rdy/shf)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads