Budaya jam karet atau terlambat memang dianggap sebagai hal yang lumrah di Indonesia. Hal itu pun bertolak belakanga dengan Swiss di Eropa yang dikenal sangat tepat waktu dan efisien.
Dilansir detikTravel dari BBC, Rabu (20/7/2016) efisiensi dan budaya tepat waktu Swiss ternyata berasal dari prinsip hidup mereka. Menyadur definisi kebahagian seorang pemikir Jerman, Schopenhauer, bahwa kebahagiaan yang sejati berasal dari waktu dan kebiasaan yang efisien. Itulah yang yang menjadi alasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Orang Swiss terkenal tepat waktu dan efisien (Randy/detikTravel)
Didasarkan dari prinsip hidup yang efisien, sejumlah penghasil jam ternama dunia pun berasal dari Swiss. Tentu bukan rahasia, kalau jam tangan 'Made in Swiss' sudah begitu terkenal di dunia akan akurasinya yang tak pernah meleset barang sedetik.
Jika melihat jam di pusat perbelanjaan misalnya, tak sedikit yang berasal dari Swiss dengan lambang negaranya yang berbentuk salib putih dengan kotak merah. Tak sedikit juga traveler yang liburan ke Swiss dan pulang dengan membawa jam tangan.
Moda transportasi juga on-time (Randy/detikTravel)
Etos efisien itu pun juga dapat dijumpai pada berbagai moda kendaraan yang ada di Swiss, baik MRT, tram maupun bus. Apabila naik kendaraan umum, traveler dapat melihat estimasi waktu kendaraan di setiap haltenya. Apabila tertulis 2 menit, sudah pasti kendaraan akan datang tepat waktu tanpa telat.
Budaya itu pun juga dirasakan oleh penulis Amerika bernama Susan Jane Gilman yang pernah tinggal di Jeneva selama 11 tahun. Susan mengungkapkan, bahwa ia tidak pernah menaiki taksi yang tiba terlambat di tempat tujuan. Selalu tepat waktu atau lebih cepat.
Fakta menarik lainnya, sejumlah tempat umum seperti toilet pun sangat bersih di Swiss. Kalau dibandingkan secara efisiensi dan etos hidup, mungkin hanya Jepang yang bisa menyaingi Swiss.
Suasana sore hari di Zurich yang ramai namun bersih (Randy/detikTravel)
Di satu sisi, budaya tepat waktu Swiss juga punya kekurangan. Contohnya, masyarakat Swiss terbiasa melakukan Coffee Break setiap pukul 16.00 sore setiap harinya. Lantas semua kedai kopi akan langsung penuh dan menimbulkan antrean, karena semua orang datang pada waktu yang bersamaan!
Sedangkan dari segi pariwisata, Swiss juga diberkahi dengan banyak bangunan lama bergaya Bavarian hingga Pegunungan Alpen serta alam yang hijau. Rasanya hidup begitu sempurna dan serba tepat waktu di Swiss.
Traveling ke Swiss, traveler pun akan dibuat belajar banyak. Mulai dari etos waktu yang efisien hingga bagaimana belajar untuk menghargai waktu pribadi dan orang lain. Sekiranya hal positif itu bisa berguna dalam dunia kerja serta hidup pribadi.
Suasana alam nan hijau serta dikelilingi gunung es (Randy/detikTravel)
(rdy/shf)












































Komentar Terbanyak
Viral Bule Sebut Bali 'Neraka Dunia', Dispar Badung Bereaksi
Cair! Desa Wunut Bagikan THR untuk Seluruh Warga, Termasuk Bayi Baru Lahir
Garuda Indonesia Tidak Lagi Berstatus Bintang 5