Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 22 Sep 2016 19:30 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Kisah Suku yang Menghuni 'Neraka' di Bumi

Suku Afar di Danakil (Dave Stamboulis/BBC)
Afar - Danakil di Ethiopia dikenal sebagai tempat terpanas di bumi. Namun, ternyata daerah tersebut dihuni oleh sekelompok suku etnik yang berjuang hidup.

Danakil merupakan suatu gurun yang berada di kawasan Afra, sebelah utara Ethiopia. Berbeda dengan gurun-gurun pada umumnya yang biasanya berwara cokelat nan tandus, Danakil justru berwarna-warni.

Tapi jangan terkecoh dengan warnanya yang kuning ngejreng, Danakil juga dijuluki gerbang neraka akibat suhu udaranya yang super panas. Sehari-hari suhu di Danakil berkisar dari 39 hingga lebih dari 50 derajat celcius. Setengah dari titik didih!

Herannya, ternyata ada saja masyarakat etnik yang tinggal di 'neraka' tersebut. Dilansir detikTravel dari BBC, Kamis (22/9/2016) Danakil dihuni oleh suku etnik Afar yang berjuang untuk bertahan hidup.

Danakil yang disebut neraka di bumi (Dave Stamboulis/BBC)Danakil yang disebut neraka di bumi (Dave Stamboulis/BBC)
Hidup secara berpindah-pindah, Suku Afar menggantungkan hidupnya sebagai pengambil garam dari sejumlah danau belerang tersebar di Danakil. Sekilas mengingatkan akan para penambang belerang di Kawah Ijen, Jawa Timur.

Di bawah terpaan sinar matahari yang super panas dan bau belerang, Suku Afar mengambil garam secara manual dan mengantarkannya ke penadah dengan unta. Mereka pun dibayar sekitar 150 birr atau Rp 85 ribu per hari. Tentu tak sepadan dengan perjuangan mereka.

Suku Afar yang hidup dari menambang garam (Dave Stamboulis/BBC)Suku Afar yang hidup dari menambang garam (Dave Stamboulis/BBC)
Selain berprofesi sebagai penambang, tak sedikit juga anggota Suku Afar yang menjadi joki. Tugasnya adalah memandu unta pengangkut garam ke penadah. Sebagai joki, uang bayaran pun harus disetor ke pemilik unta sekaligus untuk makanannya. Sisanya baru untuk sang joki.

Dari jerih parah Suku Afar itulah, komoditas garam tersebar di seluruh Ethiopia dan berbagai negara di Afrika. Bahwa dibalik keberadaan suatu barang, ada orang-orang yang bekerja keras dan berjuang untuk bertahan hidup.

Rombongan karavan unta yang membawa garam (Dave Stamboulis/BBC)Rombongan karavan unta yang membawa garam (Dave Stamboulis/BBC)
Namun perlahan, tradisi menambang garam Suku Afar mulai tergantikan seiring datangnya wisatawan. Tak sedikit joki unta yang menawarkan jasa keliling Danakil. Bahkan di dareah terpanas di bum, ada saja turis yang datang.

Sekiranya keberadaan turis mungkin dapat membuat hidup Suku Afar menjadi lebih baik. Di satu sisi, tradisi menambang Suku Afar mungkin bisa hilang seiring dengan berjalannya waktu. (rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA