Masdar, Kota Canggih di Abu Dhabi yang Tak Pernah Selesai

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Masdar, Kota Canggih di Abu Dhabi yang Tak Pernah Selesai

Johanes Randy Prakoso - detikTravel
Jumat, 30 Sep 2016 07:21 WIB
Masdar, Kota Canggih di Abu Dhabi yang Tak Pernah Selesai
Kota Masdar yang tengah dibangun di Abu Dhabi (masdar.ae)
Abu Dhabi - Lahir dari keprihatinan akan perubahan iklim, Abu Dhabi membuat Kota Masdar yang ramah lingkungan. Walau hampir jadi, tapi pembangunannya tak pernah selesai.

Perusahaan Uni Emirat Arab yang bernama Masdar membuat sebuah kota yang ramah lingkungan. Dilansir detikTravel dari situs resminya, Jumat (30/9/2016) ide itu pun diimplementasikan dalam Kota Masdar yang dibangun pada tahun 2006 silam hingga kini.

Sebagai kota ramah lingkungan, Masdar pun dibangun dengan prinsip 100% hijau dan bebas dari emisi karbon. Menggunakan DP awal sebesar USD 22 miliar atau sekitar Rp 285 triliun, pembangunan pun mulai dilakukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kemudian dibangunlah plaza megah yang modern dan dihiasi oleh bangunan bergaya terakota, lengkap dengan arsitektur Arab. Rencananya sejumlah bangunan itu akan dipergunakan sebagai wadah dari sekitar 1.500 bisnis yang ramah lingkungan.

Menariknya, operator Kota Masdar juga membuat sebuah teknologi ramah lingkungan yang dapat mengubah udara panas dari gurun menjadi udara sejuk. Fungsinya adalah untuk mendinginkan temperatur Masdar hingga 20 derajat celcius, atau lebih dingin dari temperatur Abu Dhabi pada umumnya.

Tapi tidak hanya ramah lingkungan secara energi, moda transportasi yang ada di Masdar juga dibuat 100% ramah lingkungan. Caranya adalah dengan membuat kendaraan tenaga listrik yang disebut Personal Rapid Transit atau PRT.

Keberadaan PRT pun dapat ditemui di berbagai sudut Kota Masdar, ibaratnya sebuah sepeda sewaan yang dapat dipakai oleh siapa saja secara cuma-cuma. Namun bagi traveler yang membawa sepeda juga diperbolehkan, selama tidak menggunakan kendaraan berbahan bakar bensin.

Yang lebih kerennya, Masdar juga dilengkapi dengan sistem sensor. Fungsinya adalah untuk mengurangi pemakaian air dan energi untuk cahaya hingga 50%. Jadi tidak ada yang terbuang percuma.

Secara teknis Kota Masdar dibuat untuk sekitar 50 ribu pekerja yang hidup di dalamnya. Termasuk juga 50 ribu orang yang berasal dari area di sekitarnya. Kekurangannya hanya satu, kota itu tidak pernah selesai dibangun.

Padahal awalnya pembangunan Masdar direncanakan akan rampung pada tahun 2016. Tapi karena krisis moneter yang sempat mendera, penyelesaian projek tersebut jadi molor hingga tahun 2030.

Hingga hari ini, baru 5% dari konsep awal Masdar yang telah rampung. Bukannya menjadi kota ramah lingkungan, Masdar malah menjadi kota hantu yang sepi. Semoga saja kota ramah lingkungan ini bisa segera rampung. (fay/fay)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads