Kini, cukup mudah melihat foto-foto Korea Utara karena sudah banyak tur operator yang menawarkan perjalanan ke sana. Buka saja di internet atau sosial media, deretan foto Korea Utara terlihat jelas. Foto yang pasti bikin turis penasaran dan tertarik untuk datang langsung ke sana.
Namun apa jadinya, jika para pembelot dari Korea Utara melihat foto-foto negaranya yang dipotret turis. Bagi turis, foto-foto itu bisa jadi barang mahal dan sulit didapat. Sedangkan bagi para pembelot, mereka akan bercerita bagaimana rasanya hidup di negara yang terisolir. Yang tidak pernah, melihat dunia luar.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beginilah cerita mereka, kala melihat foto-foto Korea Utara yang dipotret turis:
"Foto ini mengingatkan saya, betapa sibuknya orang-orang kala jam kerja. Satu-satunya yang bisa membuat kami berhenti, adalah melihat orang asing (turis) yang sedang lewat," ujar Kim Jun Hyok, yang meninggalkan Pyongyang ke Korea Selatan pada tahun 2014.
"Ini adalah foto-foto sekelompok siswa sekolah. Mereka berlatih seadanya, bukan dengan sepatu olahraga dan olahraga di atas aspal. Bukan di lapangan olahraga," kata Han Lagu Chol yang pindah ke Korea Selatan di tahun 2014.
"Ini adalah Arc dari Triumph, didirikan untuk memperingati Kim Il Sung yang dinilai membebaskan Korea dari Jepang. Mungkin, ini bangunan terbesar di dunia untuk menghormati peristiwa yang tidak pernah terjadi," jelas seorang peneliti Rusia yang mengambil studi tentang Korea Utara, Fyodor Tertitskiy.
"Suatu kendaraan propoganda, mobil buatan yang dipakai untuk masuk ke desa-desa. Dipakai dengan cara dikayuh," kata Han Lagu Chol.
"Kabarnya para tahanan penjara dimasukan ke dalam kebun binatang, untuk menjadi santapan satwa," kata Kang Jimin yang pindah ke Inggris tahun 2005 silam.
"Orang ini adalah Daehaksaeng gyuchaldae, petugas kedisiplinan. Biasanya mereka menegur para wanita yang memakai pakaian terlalu berwarna-warni atau mencolok," ungkap Han Lagu Chol.
"Saat saya masih jadi mahasiswa, diharuskan bekerja di ladang. Awalnya takut melihat lintah, lama-lama sudah terbiasa melihat ular yang besar-besar," tutur Kang Jimin.
"Para wanita petugas lalu lintas di Korea Utara, saat puber mereka akan ingin sekali menggenakan rok pendek," ucap Kang Jimin yang kabarnya pernah punya memori indah dengan wanita petugas lalu lintas.
"Truk ini sudah digunakan sejak tahun 1958 sampai sekarang, untuk membawa makanan ke perternakan babi," kata Kim Jun Hyok.
"Donju (kaum elit Korea Utara) senang berkuda. Naik kuda di Korea Utara harganya KPW 100.000 (atau jika dirupiahkan sekitar Rp 1,4 juta) untuk satu jam," ucap Han Lagu Chol.
"Fakta bahwa kehidupan Korea Utara tidak berubah dan terus sama sampai sekarang, adalah sebuah 'keajaiban'," kata Kang Jimin. (/)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru