Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 15 Mar 2018 18:50 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Kisah Suku Terpencil Pemburu Kepala Manusia di Myanmar dan Malaysia

Syanti Mustika
detikTravel
Foto: Tato di wajah lelaki Suku Koyak (Neelima Vallangi/BBC)
Nagaland - Beragam suku di tempat terjauh di Bumi, punya tradisi yang unik. Salah satunya adalah berburu kepala manusia sebagai bukti kemenangan.

Berkunjung ke suatu daerah, kita mesti tahu tradisi yang berlaku di daerah tersebut. Salah satu suku terpencil yang berada di wilayah perbatasan India dan Myanmar memiliki tradisi yang tidak biasa, yaitu berburu kepala.


Dikumpulkan detikTravel dari beragam sumber, Kamis (15/3/2018) suku yang memiliki tradisi berburu kepala ini adalah Suku Koyak. Suku ini berada di wilayah Nagaland, perbatasan Myanmar dengan India. Mereka mendiami daerah terpencil berupa desa di perbukitan.

Suku Koyak juga memiliki tato yang melambangkan ciri khas suku. Bukan di tangan, punggung, atau kaki, melainkan di wajah. Para pria yang memiliki tato di wajah berarti mereka adalah prajurit perang. Merekalah yang bertugas menjaga desa dari serangan musuh, binatang buas, ataupun suku-suku lain.

Pemukiman Suku Koyak (Neelima Vallangi/BBC)Pemukiman Suku Koyak (Neelima Vallangi/BBC)
Jika mereka sedang berperang, Suku Koyak terkenal dengan ganasnya. Tanpa ragu mereka akan memotong dan mengambil kepala musuhnya sebagai bukti kemenangan. Ngeri!

Kepala-kepala musuh disimpan dan dipajang di dalam rumah. Bagi mereka, kepala musuh dipercaya bisa memberikan kesuburan dan digunakan sebagai ritual anak laki-laki mereka.

Selain bukti kemenangan, kepala musuh pun merupakan syarat bagi pria Suku Koyak agar mendapatkan tato di wajah. Tato itu melambangkan tingkatan yang paling tinggi bagi kasta para pria di sana.

Meski begitu, rupanya tradisi berburu kepala sudah lama tidak dilakukan oleh para pria Suku Koyak. Terakhir, adalah di tahun 1940-an mana kala pemerintah India melarang perburuan kepala. Lantas, kepala-kepala manusia yang disimpan di tiap rumah akhirnya dikuburkan ke tanah.

Selain Suku Koyak, ternyata juga ada Suku Lundayeh yang menetap di perbukitan di Sabah, Malaysia yang memiliki tradisi sama. Mereka berburu kepala sebagai syarat untuk menikah.


Kepala yang diburu pun adalah kepala pria. Mereka tidak pernah dan tidak boleh memenggal kepala wanita dan anak-anak. Pedang yang digunakannya namanya mandau seperti Suku Dayak di Kalimantan. Setelah kepala didapatkan, nantinya pria tersebut akan menyerahkan kepala kepada orang tua wanita.

Kepala-kepala yang diburu tersebut, nantinya juga diletakan di dalam rumah dan disusun di sebuah tiang. Namun, kini Suku Lundayeh tidak lagi melakukan tradisi berburu kepala. Mereka sudah meninggalkannya dan cukup menjadi cerita atau sejarah yang diceritakan secara turun menurun. (sym/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA