Melihat Ritual Rasa Syukur Masyarakat Adat di Desa Sapit Lombok

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Melihat Ritual Rasa Syukur Masyarakat Adat di Desa Sapit Lombok

Harianto Nukman - detikTravel
Minggu, 07 Okt 2018 21:55 WIB
Melihat Ritual Rasa Syukur Masyarakat Adat di Desa Sapit Lombok
Ritual Pembadaq Pengkaya (Harianto/detikTravel)
Lombok Timur - Masyarakat Desa Sapit di Lombok Timur masih melestarikan budaya adat. Salah satunya, ritual kala panen atas rasa syukur.

Ritual tradisi Pembadaq Pengkaya merupakan ritual untuk melaporkan hasil panen kepada Sang Pencipta atas rahmat dan hidayah-Nya. Hal ini saban tahun selalu dilaksanakan oleh masyarakat adat di Dusun Batu Pandang, Desa Sapit, Kecamatan Suela, Kabupaten Lombok Timur, NTB.

"Menurut cerita dari leluhur kami di Desa Sapit ini, kebiasaan ritual adat ini sudah dilakukan lebih dari 500 tahun lalu. Menurut cerita mereka sudah ribuan tahun yang lalu sudah ada dilakukan," ungkap Amaq Ulfi, salah seorang pemangku adat kepada detikTravel baru-baru ini.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ungkapan rasa syukur warga atas nikmat dan limpahan karunia yang telah diberikan-Nya itu dimanifestasikan dengan ritual adat.

Pemangku adat tengah melakukan pesiapan doa di dalam areal Kampu Bebubus BatuPemangku adat tengah melakukan pesiapan doa di dalam areal Kampu Bebubus Batu (Harianto/detikTravel)


Pembadaq Pengkaya merupakan ritual fase kedua dalam upacara adat Bebubus Batu. Ritual ini dilakukan usai musim panen. Sedangkan Bebubus Batu fase pertama dilakukan ketika musim tanam tiba.

Pembadaq Pengkaya ini bentuknya adalah upacara doa dan zikir bersama yang dipusatkan di areal Kampu, letaknya berada di tengah lahan persawahan warga.

Warga dan turis yang ikut serta (Harianto/detikTravel)Warga dan turis yang ikut serta (Harianto/detikTravel)


Prosesi ritual adat Pembadaq Pengkaya diikuti oleh kyai, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan tokoh adat desa setempat. Kadang, ada juga turis internasional yang datang untuk melihat proses ritual.

Tamu dan warga luar desa juga diundang untuk turut hadir, seperti yang dilaksanakan pada Rabu siang (3/10/2018) dihadiri detikTravel, warga desa tetangga juga turis mancanegara dari Jerman dan Spanyol.

"Saya sangat tertarik dengan seremonial semacam ini. Ada hal yang sama dengan yang ada di negara saya. Seremonial makan bersama para petani, tapi sudah mulai luntur," kata Manuel, warga negara Jerman yang datang bersama istrinya, Maria yang berkebangsaan Spanyol.

(sna/aff)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads