Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 17 Jun 2019 17:25 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Hidup di Kota yang Ramai Turis, Apa Rasanya?

Shinta Angriyana
detikTravel
Ilustrasi Menara Eiffel (Angga/detikcom)
Ilustrasi Menara Eiffel (Angga/detikcom)
Singapura - Pariwisata bukan hanya sekadar plesiran, sudah jadi bisnis besar. Namun, bagaimana perspektif warganya yang didatangi banyak turis?

Sejumlah negara jadi tujuan internasional untuk dikunjungi dengan berbagai tujuan. Dilansir detikcom dari BBC, Jumat (14/6/2019) mereka mewawancarai sejumlah warga asing yang tinggal di wilayah yang penuh turis.

Setidaknya, ada 5 kota yang diambil menjadi contoh. Yakni London, Thailand, Singapura, Dubai dan Prancis. Tentu saja, London jadi destinasi dengan sejumlah atraksi mulai dari gedung-gedung bersejarah hingga sepakbola yang mendunia.

Begitupun dengan Singapura, sebagai 'pintu masuk' wilayah Asia Tenggara dari benua lain dan sebaliknya. Dubai pun demikian, dengan nuansa glamor buatan manusia namun berhasil menarik atensi wisatawan internasional. Paris, di Prancis pun tidak usah diragukan lagi pariwisata kelas dunia dengan menara ikonik, Eiffel.

Berikut selengkapnya:

Paris, Prancis

(CNN Travel)(CNN Travel)

Ibukota Prancis, Paris menjadi destinasi dunia dengan jumlah kunjungan mencapai 15,6 juta turis tahun 2014. Atraksi wisata sejarahnya mampu menyihir wisman untuk datang dan berkunjung di kota penuh cinta tersebut.

Meski mengalami kejadian naas tahun ini karena Gereja ikonik Notre Dame terbakar, nyatanya masih saja Paris kebajiran turis. Warga setempat pun mencari cara atau trik untuk berkunjung di momen yang cenderung sepi.

Christina Tubb, seorang warga AS yang pindah ke Prancis sejak tahun 2009 mengatakan kepada BBC bahwa ia bahkan tidak ingin ke Champs Élysées, kawasan yang memiliki sejumlah atraksi wisata populer. Namun, ia mengatakan memiliki trik khusus yakni dengan memiliki kartu tanda masuk musiman dan menggunakan pintu masuk rahasia di Museum Louvre. Prancis pun membagi wilayah ke 20 arrondissements (pembagian kawasan di Prancis -red). Umumnya, tempat yang ramai berada di nomor 10, 3 dan 9. Sedangkan tempat yang cenderung sepi ada di kawasan 15, 16 dan 15 yang terkenal dengan kawasan menengah ke atas dan sejumlah sekolah elite.

Singapura

(Masaul/detikcom)(Masaul/detikcom)

Inilah destinasi wisata favorit turis Indonesia. Letaknya tidak jauh, namun mudah dijangkau dengan berbagai akses. Singapura pun jadi pintu masuk ke berbagai kawasan Asia Tenggara.

Jayant Bhandari, seseorang yang berasal dari India namun sudah lama tinggal di Singapura mengatakan kepada BBC bahwa sifat orang Singapura pun mencerminkan tata kota yang sesuai. Yakni lekat dengan metropolitan, seperti berbelanja atau hang out di kafe. "Saya memilih untuk tidak pergi belanja di distrik Orchard Road terlalu sering, bukan karena terlalu banyak turis, tetapi karena di sana terlalu padat." ujarnya.

Sebenarnya, hal ini bisa dibilang masuk akal. Singapura adalah negara kecil, yang memiliki kehidupan padat. Sehingga, atraksi dan destinasi wisata pun tidak banyak ditemukan meski para pelaku wisata tetap berinovasi dari waktu ke waktu. Sehingga, warga lokal pun juga pergi ke tujuan yang sama seperti turis internasional.

Dubai

(Getty Images)(Getty Images)

Sama-sama kota dengan inovasi yang terus berkembang seperti Singapura, Dubai merupakan ikon Uni Emirat Arab akan pariwisata metropolitan dan urban. Di saat orang-orang sibuk berkunjung ke destinasi super mewah, orang yang sudah menetap di Dubai lama pun memilih untuk datang ke sejumlah tempat di waktu tertentu.

"Kami memilki rutinitas pada akhir pekan untuk memastikan bahwa kami keluar dari mal pada sore hari, ini untuk menghindari turis, dan penduduk lain juga," kata Emily Christensen, seorang direktur rekrutmen asal Inggris yang sudah menetap di dunai selama 16 tahun.

Umumya, destinasi favorit seperti Burj Khalifa dan Dubai Mall banyak dikunjungi turis pada waktu sore hari. Mereka yang sudah lama tinggal di Dubai, memilih waktu yang tidak umum dikunjungi turis atau jauh dari pusat wisatawan. Misalnya ke Dubai Marina, yang banyak dihuni oleh lajang dan penuh dengan hotel, bar dan restoran untuk melepas penat.

London, Inggris

(iStock)(iStock)

Tidak jauh dari Eropa, London di Inggris juga menjadi daya tarik wisatawan dunia. Tercatat tahun 2014 ad 18,7 juta wisatawan mengunjungi ibukota Inggris tersebut/

Namun, ternyata penduduk lokal sudah mulai 'berdamai' dengan turis internasional. "Anda akan jadi terbiasa dengan begitu banyak orang di sekitar Anda, itu yang menyebabkan kota ini jadi begitu riuh!" ujar Sophie Loveday, penduduk asli Inggris kepada BBC.

Sophie mengatakan hal yang sama, bahwa ia menghindari sejumlah wilayah ramai turis seperti West End di Leicester Square. Namun, dia masih mau menembus keramaian Covent Garden, sebuah kawasan belanja di West End, karena toko-tokonya yang unik dengan sentuhan modern. Namun ia mengatakan, bahwa untuk menghindari hiruk pikuk kota dapat mengunjungi ke kawasan pinggiran Richmond, dengan atraksi naik kapal di sungai Thames dan bersantap di sejumlah kedai atau bar.

BACA JUGA: Roma Sudah Muak dengan Turis

Bangkok, Thailand

(Annisa Budiarti/d'Traveler)(Annisa Budiarti/d'Traveler)

Ibukota Thailand ini seakan tidak pernah sepi dari wisatawan internasional. Umumnya, mereka dari Eropa dan Australia, namun tidak jarang orang Indonesia pun gemar ke Negeri Gajah Putih.

Ketsara Chocksmai, seorang penduduk asli dan direktur agen perjalanan mengatakan bahwa lonjakan turis bersifat musiman. Sehingga, penduduk yang sudah lama tinggal atau warga lokal bisa mengantisipasi di waktu-waktu tertentu. Ia merasa kota Bangkok sangat menyenangkan mulai Juni sampai September karena banyaknya turis. "Ini musim hujan bagi kami, jadi tak banyak turis yang berkunjung pada periode itu," ucapnya.

Namun, penduduk lokal umumnya menolak ke tempat-tempat ramai seperti Khao San Road di Bangkok atau bahkan kawasan Pattaya. Penduduk lokal acap kali mencari ketenangan di kuil yang begitu banyak di kota, seperti Wat Phra Kaew di kota tua yang dianggap paling suci karena memiliki "Buddha Zamrud" dengan ketinggian 6,6 meter dan diukir dari sebongkah batu giok. (bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA