Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 10 Okt 2019 22:45 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Salah Kaprah Ninja

Afif Farhan
detikTravel
Ilustrasi ninja (Ninja Museum)
Ilustrasi ninja (Ninja Museum)
Tokyo - Lewat film-film, ninja digambarkan jago bertarung mengalahkan musuh dengan berbagai senjata. Tapi, itu adalah salah kaprah!

"Ninja juga manusia biasa," kata Jinichi Kawakami, grand master ninja terakhir Jepang menurut Museum Ninja Iga.

BBC pernah mewawancarai Kawakami. Dia disebut-sebut sebagai ninja terakhir di Jepang dan diberi gelar 'grand master'. Sedikit cerita tentangnya, pria berusia 70 tahun ini tidak menyangka pernah belajar tentang ninja.

Dilansir detikcom dari BBC, Kamis (10/10/2019) sewaktu kecil, Kawakami pernah diajarkan berbagai teknik ninjutsu oleh seseorang yang tak dikenal di desanya. Namanya anak kecil, Kawakami senang-senang saja.

Berjalannya waktu, Kawakami baru tahu kalau dia selama ini belajar tentang ninja. Kawakami tahu berbagai macam senjata ninja, filosofi, cara membuat bom asap hingga teknik bela dirinya.

"Saya pikir kami hanya bermain dan saya tidak sadar kalau sedang belajar ninjutsu. Saya malah bertanya-tanya, apakah dia melatih saya untuk menjadi pencuri? Karena dia mengajari saya cara berjalan dengan tenang dan cara masuk ke rumah," paparnya sambil tertawa.

Jinichi Kawakami (Japan Ninja Council)Jinichi Kawakami (Japan Ninja Council)


Museum Ninja Iga di Kota Iga, Jepang menyimpan banyak sejarah ninja. Hanya saja, informasinya tidak mendalam dan beberapa teknik ninja pun tidak diketahui.

Sejarah mencatat, ninja adalah suatu pasukan mata-mata di Zaman Edo pada tahun 1600 sampai 1800-an. Ninja bertugas mencuri informasi atau dokumen rahasia, dengan pakaian hitam-hitam yang menjadi ciri khasnya.

Bahkan pada era Perang Dunia II, ninja menjadi pasukan tentara Jepang. Tugas mereka adalah mencuri informasi mengenai kekuatan musuh.

"Ninja dibekali dengan banyak kemampuan dan strategi," ujar Kawakami yang kini mendirikan Japan Ninja Council dan berfokus mengajarkan ilmu-ilmu ninja untuk seni bela diri dan ketahanan fisik.

Iga dan Koga, dua kota di Jepang diyakini sebagai penghasil ninja terbaik. Asal tahu saja, ada banyak penyebutan ninja. Ada yang disebut Shinobi, Ukami, Kanja, Rappa, Onmitsu, dan Ninjyutsusha.

Ilustrasi ninja (Sora News)Ilustrasi ninja (Sora News)


Apakah ninja seperti yang di film-film?

"Tidak, tidak seperti itu. Ninja yang ada di film, hanya ada di film," jawab Kawakami.

"Ninja bukan pembunuh," tegasnya.

Kawakami menjelaskan, ninja tidak pernah melakukan kontak langsung dengan musuh. Ninja bergerak secara diam-diam dan mencoba untuk tidak ketahuan.

"Ninja tidak mencuri perhatian. Terkadang, membawa pedang pun bukan pilihan karena terlalu besar ukurannya," paparnya.

Senjata-senjata ninja lebih banyak digunakan untuk menghalau musuh dan melindungi diri dari kejauhan. Bahkan ada perkataan ninja yang terkenal, 'mengayunkan pedang adalah seni bela diri paling rendah'.

Berbagai senjata ninja (Ninja Museum)Berbagai senjata ninja (Ninja Museum)


BACA JUGA: Mengulik Kunai dan Ninja

Yang lebih bikin terkejut, Kawakami menjelaskan kalau menjadi ninja bukanlah pekerjaan utama bagi seorang ninja. Pekerjaan utamanya, mungkin bisa jadi bertani, berkebun, dan ya seperti orang-orang pada umumnya.

"Karena kamu tidak bisa mencari nafkah kalau menjadi seorang ninja," katanya sambil tersenyum.

Menurut Kawakami, saat Zaman Edo, beberapa ninja dipercaya untuk menjadi tangan kanan samurai. Saat itu para ninjanya ada yang aslinya adalah pedagang, petani, dan pengrajin.

(Ninja Museum)(Ninja Museum)


Masih adakah ninja di zaman sekarang?

"Di zaman dulu, kemampuan ninja adalah untuk memata-matai dan membuat ramuan untuk menyembuhkan. Tapi kini, kita punya internet, teknologi, dan berbagai obat dari para dokter," jawab Kawakami.

"Ninja tidak memiliki tempat di zaman modern," tutupnya.

Simak Video "Sensasi Menjadi Ninja di Kafe Tokyo"
[Gambas:Video 20detik]
(aff/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA