Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 17 Mei 2020 15:15 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Tentang Laut Mati dan Keistimewaannya

Maria Karsia
detikTravel
Laut Mati
Pantai Neve, Laut Mati bagian Israel (Foto: Maria Karsia)
Jakarta -

Laut Mati jadi salah satu destinasi eksotis di Timur Tengah. Berikut ini ulasan tentang destinasi itu dan keistimewaan yang menyertainya.

Sebelum menulis reportase ini, saya sempat mengintip sebentar di Google, lokasi-lokasi resort Laut Mati yang sempat kami singgahi maupun yang sekadar lewat. Sebagian besar tempat itu tutup karena alasan COVID-19. Banyak kafe dan restoran tidak beroperasi.

Siapa yang menyangka bahwa tempat yang baru kami kunjungi di akhir Januari itu sekarang sama kondisinya dengan banyak tempat di belahan dunia lain dan bahkan di tanah air. Kegiatan ekonomi dunia, di manapun seolah berhenti.

Saya dengar, sekarang perlahan Israel mulai melonggarkan lockdown-nya, tapi apakah akan segera membuka perbatasannya, belum terdengar beritanya. Entah kapan, belum seorangpun bisa memprediksi, wabah yang melanda dunia ini akan berakhir.

Arab Saudi, belum mengumumkan akan membuka Mekah kembali untuk ibadah umrah, setelah ditutup di awal Maret. Israel masih menutup pintu perbatasannya dari negara-negara yang berbatasan dengannya sejak 9 Maret. Hampir sama dengan Arab Saudi, industri pariwisata Israel berkembang karena kunjungan turis mancanegara yang mengunjungi kota-kota seperti Jerussalem, Bethlehem, Jericho dan Hebron.

Hakikatnya manusia hidup, dari sejak sejarah peradaban manusia mulai dikenal, adalah menjelajahi dunia. Mari berpikir positif, jika wabah COVID-19 berlalu, interaksi manusia akan kembali normal. Semoga dengan cara memandang dunia yang lebih baik, manusia penghuni bumi ini memiliki masa depan yang cerah.

Laut MatiPetunjuk ke Laut Mati (Foto: Maria Karsia)

Cara ke Laut Mati

Baiklah, kembali ke tujuan awal, mari sekarang kita mulai melongok dan menjelajahi Laut Mati. Memasuki Jordan dan setelah mengunjungi Petra, perjalanan kami lanjutkan untuk memasuki Israel lewat darat menuju perbatasan Allenby Bridge, perbatasan Jordan dan Israel.

Sebelum menuju ke perbatasan, kami melewati wilayah pinggir Laut Mati yang letaknya membujur dari Timur ke Barat negara Jordan. Laut Mati juga dapat dikunjungi dari tiga negara, yaitu Yordania, Palestina, dan Israel.

Pertama, kami melintas area Laut Mati, dari sisi Yordania. Di sini kami hanya mengabadikan foto sebentar, lokasi itu di KM-18 sebelah barat dari Amman menuju Allenby Bridge.

Laut Mati permukaannya lebih rendah dari permukaan laut. Kurang lebih 417 meter di bawah permukaan laut. Apa yang kita rasakan ketika berada di wilayah seperti ini? Saya hanya sedikit merasa ada tekanan di telinga.

Setelah memasuki wilayah ini, kami dibawa berkunjung ke toko souvenir, yang menjual semua produk yang dihasilkan dari mineral Laut Mati. Toko souvenir ini masih ada di wilayah Yordania.

Kami dihimbau untuk tidak membeli produk Laut Mati yang dihasilkan oleh perusahaan Israel, karena solidaritas, protes pendudukan Palestina oleh Israel. Kami tidak mengunjungi pantai Laut Mati dari sisi Yordania.

Kami mengunjungi Pantai Neve yang terletak di bagian Israel. Pantai ini dapat dijangkau setelah melewati perbatasan Allenby Bridge. Kami sempat mampir di Jericho, tempat mesjid Nabi Musa.

Pantai Neve adalah salah satu lokasi pantai dan resort Laut Mati. Setelahnya kami baru melanjutkan perjalanan masuk ke Jerussalem.

Resor di Laut MatiResor di Laut Mati (Foto: Maria Karsia)

Keistimewaan Laut Mati

Laut Mati bisa dikatakan sebagai salah satu fenomena alam yang belum tentu dapat ditemukan di tempat lain di dunia. Sebenarnya Laut Mati merupakan sebuah danau.

Laut Mati adalah tempat terendah di dunia. Berada di 417,5 meter di bawah permukaan laut dan ini adalah titik terendah di Bumi.

Laut Mati mendapatkan sumber airnya dari Sungai Yordan yang memiliki panjang 67 km. Diperkirakan volume air yang terdapat di Laut Mati mencapai 147 km3. Itulah sebabnya, danau ini tidak dinamai danau karena terlalu luas, lebih menyerupai laut, luasnya kurang lebih sekitar 800km2.

Menurut penelitian geologi, Laut Mati terbentuk sejak 3 juta tahun lalu saat terjadi retakan kecil yang terdapat pada lembah Sungai Yordan atau juga dikenal dengan nama Jordan Riff Valley. Di saat bersamaan, air yang berasal dari laut masuk melalui celah tersebut, berkumpul membentuk danau.

Kondisi iklim yang kering ditambah evaporasi yang tinggi menyebabkan mineral yang terdapat di dalam air berubah. Ditambah kandungan garam, gipsum, dan kapur yang terdapat di sekitar retakan membentuk danau dengan konsentrasi garam yang sangat tinggi.

Dinamai Laut Mati karena kandungan garamnya yang sangat tinggi, tidak ada makhluk yang dapat hidup di dalam airnya. Kandungan garam yang terdapat di dalam air Laut Mati bisa mencapai 33,7%, sedangkan kandungan rata-rata garam yang ada di laut seluruh dunia hanya 3,5%.

Untuk itu, pengunjung yang ingin berenang di Laut Mati, selalu diperingatkan untuk berhati-hati. Agar air tidak mengenai mata, karena dapat merusak kornea mata. Jika tak sengaja kena, harus cepat-cepat dibilas.

Tidak seperti namanya yang menyeramkan, ternyata Laut Mati menyuguhkan pemandangan yang indah. Banyak resor dan hotel bertebaran di sepanjang pinggir Laut Mati. Kebanyakan lokasi resort itu berada di bagian negara Israel.

Lumpur dan khasiat garam Laut MatiLumpur dan khasiat garam Laut Mati (Foto: Maria Karsia)

Khasiat garam dari Laut Mati

Kandungan mineral lumpur Laut Mati terbukti dapat mempercantik kulit. Tidak hanya untuk kecantikan saja, kandungan garam mineralnya juga banyak dimanfaatkan untuk kesehatan seperti memperbaiki tekstur kulit serta memperlancar peredaran darah.

Saya sendiri mencoba sedikit mencungkil lumpur Laut Mati langsung dari sumbernya, dan mengoleskannya pada wajah sebagai masker. Setelah 10 menit saya membilasnya, terasa kulit lebih segar dan jadi kencang.

Memang, sejak zaman dahulu, Cleopatra sang ratu Mesir yang cantik, Raja Salomo hingga Herodes Agung dikisahkan pernah mengunjungi Laut Mati karena manfaat dari lumpur tersebut.

Di zaman modern ini, banyak perusahaan mengolah lumpur untuk bahan komersial terutama lumpur dan garam Laut Mati. Oleh karenanya industri kosmetik sangat berkembang pesat di sana.

Dikarenakan konsentrasi garam yang terdapat pada Laut Mati sangat tinggi, wisatawan yang tak dapat berenang pun akan mengapung secara otomatis. Air Laut Mati terasa lebih kental dibandingkan dengan air laut pada umumnya, dan udara di sekitar Laut Mati terbilang bersih.

Kami berhenti dua kali untuk melihat pemandangan indah pinggir pantai Laut Mati, pertama ketika masuk Israel dan kedua kalinya ketika perjalanan menuju Mesir keluar dari Israel.

Kali kedua kunjungan, di tempat resort yang berbeda, kami mampir untuk makan siang di sebuah kafe. Lokasi resort itu terletak di Ein Bokek, di selatan Israel menuju Mesir. Hanya saya lupa nama kafenya.

Hidangannya lumayan enak, khas masakan Timur Tengah dan juga makanan ala Barat. Salad buah zaitun dan ayam panggangnya sungguh lezat. Ada jus buah granit (delima) yang kaya vitamin C.

Setelah makan siang, kami bisa berjalan-jalan menikmati pantai Laut Mati. Jika di Pantai Neve kami lihat pantainya seperti normal pantai berpasir dan memegang lumpur, pantai di Ein Bokek, kami bisa merasakan bermain dengan butiran-butiran kristal garam di pinggir pantai yang bercampur pasir.

Laut Mati kian menyusut

Ada fakta yang mengkhawatirkan tentang eksistensi Laut Mati. Air di Laut Mati mulai menyusut tiap tahunnya. Berdasarkan majalah lingkungan yang dikutip oleh tour guide kami, penyusutannya mencapai 1 meter setiap tahun.

Selain penyusutan, masalah lain yang dihadapi oleh Laut Mati adalah kekeringan. Hal ini disebabkan karena proses penguapan yang cukup tinggi. Ditambah lagi, pemerintah Palestina, Yordania, dan Israel mengambil sumber air yang berasal dari Sungai Yordan untuk pertanian dan kebutuhan lainnya.

Padahal Sungai Yordan adalah satu-satunya sungai yang bermuara ke Laut Mati. Jadi bukan tidak mungkin suatu hari nanti Laut Mati semakin menyusut dan hanya meninggalkan garam dan mineral saja.

Untuk itu, sejak tahun 2016, pemerintah Yordania dan Israel bekerjasama untuk mengatasi masalah penyusutan tersebut. Mereka membuat sebuah kanal untuk mengalirkan air ke Laut Mati. Menurut beberapa tautan berita, setelah lockdown, kondisi Laut Mati dan sekitarnya udaranya lebih bersih dan sejuk.

Itulah beberapa fakta dan berkah Laut Mati bagi tiga negara yang mengelilinginya. Selain dari banyak dibangunnya industri pariwisata berupa resort-resort hotel, hasil dari industri kosmetik juga sangat besar di sana.

Laut MatiButiran kristal di pantai di Ein Bokek, Laut Mati (Foto: Maria Karsia)

Miliaran dolar dari Laut Mati

Dari data yang dilansir oleh tour leader kami, dan hasil penelusuran saya, data menyebut bahwa setiap negara dapat menghasilkan jutaan bahkan miliaran dolar dari Laut Mati. Israel mendapatkan USD 3 miliar per tahun dari penjualan mineral saja.

Yordania menghasilkan USD 1,2 miliar per tahun. Palestina menghasilkan USD 918 juta per tahun. Itu data pada tahun 2016.

Jadi bisa diasumsikan bahwa pasti ada peningkatan pemasukan setiap tahunnya. Apa lagi ada peningkatan wisatawan mancanegara yang berkunjung ke sana tiap tahun, dan semakin banyak orang yang membeli produk kosmetik Laut Mati juga sisi ekspornya.

Kembali ke situasi saat ini, jika wabah Corona memakan waktu lama, maka negara di dunia, dan juga termasuk Timur Tengah seperti Arab Saudi, Yordania, Israel, Palestina, Mesir yang saya kunjungi, sudah dapat dipastikan kehilangan pemasukan dari turis.Karena mereka menerapkan pembatasan yang sangat ketat dari jalur manapun, darat, laut dan udara.

Harapannya dengan aksi menutup pintu-pintu masuk dan keluar ke negara mereka, dapat menghentikan penularan impor virus. Yordania sempat ricuh karena kebijakan lockdown total karena tidak diikuti dengan ketersediaan bahan makanan.

Sekarang kebijakan itu dilonggarkan oleh pemerintahnya. Meski jumlah positif Corona di negara tersebut masih dapat dikontrol, pemerintah Yordania menutup akses udara ke dan dari negaranya sejak awal Maret.

Israel dan Palestina memutuskan untuk bekerjasama membatasi pergerakan warganya. Pada tanggal 7 Maret 2020, Israel mengunci akses ke Kota Bethlehem sedangkan otoritas Palestina menutup Gereja Bethlehem selama 2 minggu.

Penulis: Maria Karsia. Traveler, wartawan lepas, penulis buku, dan pemerhati masalah sosial budaya



Simak Video "PBB Protes Keras Israel Caplok Tepi Barat Palestina "
[Gambas:Video 20detik]
(msl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA