Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 07 Jun 2020 07:37 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Bukan Atlantis, Ini Museum Bawah Laut di Australia

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Museum bawah laut di Australia.
Foto: (Richard Woodget/Museum of Underwater Art)
Townsville -

Museum tak melulu ada di daratan, tapi juga di bawah laut. Contohnya seperti museum bawah laut Australia ini yang mirip di film Atlantis.

Traveler pecinta film fiksi ilmiah pasti pernah menonton film bertema Atlantis sang kota hilang. Apabila ingin merasakan suasana serupa, Museum of Underwater Art (MOUA) di Australia bisa jadi pilihan.

Dilihat detikcom dari situs resminya, Sabtu (6/6/2020), museum dengan konsep bawah laut itu berada di kawasan Great Barrier Reef yang cukup populer. Untuk mencapainya, traveler harus lebih dulu menaiki boat selama dua jam perjalanan dari Townsville.

Diketahui, Museum of Underwater Art (MOUA) itu digagas oleh perupa bernama Jason deCaires Taylor. Pria yang awalnya datang ke Australia untuk menjadi instruktur diving ini juga sekaligus seniman dan aktivis pecinta lingkungan.

Kecintaannya pada laut dan alam pun ia tuangkan dalam museum tersebut. Salah satu karyanya yang cukup fenomenal adalah sebuah patung di atas air yang bisa berubah warna sesuai suhu temperatur laut. Diketahui, patung itu juga merupakan karya nyata akan perubahan iklim.

"Saya ingin menunjukkan pada semua orang, apa yang terjadi pada terumbu karang di lingkungan kita. Jadi saya menghubungkan terumbu karang dan komunitas," ujar Taylor.

Museum bawah laut di Australia.Museum bawah laut di Australia (Jason deCaires Taylor)

Namun, salah satu karya terbaiknya adalah instalasi bernama "Coral Greenhouse" yang ada di bawah air. Telah rampung pada Desember 2019 lalu, rencananya instalasi itu akan segera dibuka bulan ini. Hanya saja, corona membuat pembukaannya mundur lagi.

Layaknya sebuah rumah kaca berbentuk segitiga, instalasi berukuran besar itu menyimpan sejumlah patung pelajar yang tengah meneliti terumbu karang. Selain itu, instalasi itu juga dibuat untuk memecah ombak.

"Ketika bicara tentang terumbu karang, kita bicara akan apa yang kita tinggalkan untuk generasi muda," ujar Taylor.

Misi besarnya, Taylor ingin mewariskan semangat dan pemahaman akan laut dan lingkungannya untuk generasi mendatang. Sedianya, orang-orang akan lebih peduli tentang laut.

Di luar daya tariknya sebagai objek wisata, museum karya Taylor itu juga sekaligus menjadi laboratorium. Tingkat kadar air, level oksigen serta binatang bawah laut yang ada di sekitarnya juga terus dipantau. Kamera pengawas pun ditaruh sedemikian rupa untuk memantau terumbu karang.

Lebih lanjut, pemasangan instalasi seni di bawah laut itu pun bukan perkara mudah. Ada 500 potong baja yang dibagi ke 5 bagian dan dirakit terpisah di bawah laut. Tak tanggung-tanggung, total beratnya mencapai 64 ton.

"Ini adalah instalasi terberat yang pernah saya buat," ujar Taylor.

Diketahui, proyek itu menjadi karya kedua Taylor untuk Museum of Underwater Art (MOUA). Ke depannya, dua instalasi mendatang akan dipasang terpisah di bagian lain di Palm Island, Queensland. Diharapkan, museum ini bisa jadi daya tarik wisata.

Adapun, Taylor juga menjadi tokoh di balik sejumlah museum bawah laut lain di dunia. Contohnya seperti "Vicissitudes" di Grenada, Spanyol, Museo Subacuático de Arte di Kepulauan Bahama dan lainnya.



Simak Video "Remaja Autis di Australia Ditemukan Usai Hilang 2 Hari di Hutan"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA