Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 09 Okt 2020 18:09 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Phuket Jadi Kota Hantu, Pulihnya Akan Lebih Lama dari Usai Tsunami

Femi Diah
detikTravel
kota utama di Phuket, Patong, sepi layaknya kota hantu (Lillian SUWANRUMPHA / AFP) / TO GO WITH: Thailandhealthviruseconomytourism)
Phuket jadi kota hantu saat pandemi virus Corona (AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA)
Phuket -

Phuket menjadi kota mati saat pandemi virus Corona. Diprediksi, pulau itu bakal lebih sulit pulih ketimbang usai diterjang tsunami. Penari go-go Phuket duduk bermain ponsel di bar kosong.

Kolam renang kosong, kursi-kursi di restoran-restoran ditumpuk tinggi. Sebanyak 3.000 hotel di Patong tutup. Pantai yang biasanya penuh pengunjung juga melompong. Sampai-sampai penyu laut langka bisa menuju pantai dengan rileks.

Suasana itu jomplang dibandingkan tahun lalu. Lebih dari sembilan juta wisatawan mengunjungi Phuket, hingga menjadikannya destinasi wisata paling favorit kedua di Thailand setelah Bangkok.

Keputusasaan pun mulai membayangi pekerja wisata di Phuket. Sebagian bertahan, namun sebagian besar lainnya memilih banting setir bekerja apa saja untuk mendapatkan uang.

"Bos saya membantu staf untuk tetap memiliki pekerjaan, namun saya rasa kami tidak bisa bertahan setelah akhir tahun," kata Jantima Tongsrijern, manajer bar Pum Pui, dan dikutip AFP, Jumat (9/10/2020).

Patong di Phuket menjadi kota hantu saat pandemi virus Corona.Hotel-hotel kosong, bahkan 3.000 hotel di Patong, Phuket tutup saat pandemi virus Corona. (AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA)

Sepinya Phuket dari wisatawan berdampak besar terhadap ekonomi pengusaha, pekerja, dan warganya. Wisata memang menjadi motor kehidupan Phuket. Biasanya, Phuket mendapatkan 80 persen pemasukan dari wisata, sektor yang mempekerjakan 300.000 orang.

Tapi kini, puluhan dari ratusan pekerja itu kehilangan pekerjaannya. Sebagian besar pulang ke daerah asal. Sebagian lain memilih bertahan dengan gaji yang tak lagi utuh dan bergantung kepada distribusi makanan dari badan sosial.

Salah satu pemilik bar di Phuket, Orathai Sidel, menyebut dia bisa mendapatkan 100.000 baht atau Rp 42,7 juta dalam sebulan pada puncak kedatangan wisatawan.

Setelah bisnisnya terimbas COVID-19, kini dia menjual makanan ringan di pinggir jalan. Usaha itu menghasilkan USD 3 Rp 44 ribu per hari dan digunakan untuk membiayai sekolah anak-anaknya.

"Kami hanya bertarung untuk bisa bertahan," kata sesama pedagang kaki lima Poi, dipecat pada bulan Juni dari restoran tempat dia dulu bekerja.

Phuket sedianya akan menyambut turis asing pertama Thailand sejak April sebagai percobaan, tetapi pembukaan gerbang negara pada akhirnya diundur. Kemudian muncul opsi dengan kewajiban karantina dan wisata eksklusif yang menyasar kelas khusus.

"Kami harus fokus pada pengembangan pelanggan lokal dan pelancong perorangan daripada pariwisata massal," kata Preechawut Keesin.

Patong di Phuket menjadi kota hantu saat pandemi virus Corona.Kelab malam di Patong, Phuket tak ada pengunjung saat pandemi virus Corona. Foto: AFP/LILLIAN SUWANRUMPHA

Sebelum pandemi, wisatawan domestik hanya mencapai 30 persen dari pengunjung ke Phuket. Kini dengan mau tidak mau mendongkrak jumlah wisatawan dari domestik, Phuket dipaksa merancang ulang model bisnisnya.

Paket uji coba wisata di Phuket sudah ditawarkan kepada wisatawan domestik dengan harga serendah USD 30 atau setara dengan Rp 400 ribuan untuk dua malam, termasuk penerbangan dari Bangkok. Dengan harga rendah itu, bisa jadi sih hotel-hotel kemungkinan sulit untuk balik modal.

"Kami tidak mengharapkan (Phuket) kembali normal dalam waktu tiga tahun ke depan. Situasinya jauh lebih buruk daripada setelah tsunami tahun 2004," dia menegaskan.

(fem/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA