Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 27 Feb 2021 21:05 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Sucikan Diri, Ini Tradisi Bertelanjang dalam Meraih Peruntungan

Bonauli
detikTravel
Festival telanjang di Jepang
Hadaka Matsuri (CNN)
Okayama -

Jepang dan aneka festival uniknya begitu menarik untuk diulik. Kali ini ada festival telanjang yang tetap bertahan di tengah pandemi virus Corona.

Hadaka Matsuri, itulah nama festivalnya. Dilansir dari News Australia, Sabtu (27/2/2021), festival ini sudah dilakukan terus menerus selama lebih dari 500 tahun.

Dikenal dengan nama Saidaiji Eyo atau Festival Telanjang, tradisi ini sudah berevolusi seiring berjalannya waktu. Pada Periode Muromachi (1338-1573), ketika itu penduduk desa berlomba untuk mendapatkan jimat kertas, yang diberikan oleh seorang pendeta di Kuil Saidaiji Kannonin.

Semakin banyak penduduk desa menginginkan jimat kertas yang beruntung itu dan ritual itu bertambah besar. Tetapi mereka menyadari bahwa kertas itu mudah robek. Pakaian mereka juga ikut menghalangi.

Lalu muncul kebiasaan baru, yakni kertas diganti kayu dan pakaian tak lagi dikenakan. Dengan warisan panjangnya, festival ini juga ditetapkan sebagai Aset Budaya Rakyat Tak Benda Penting pada tahun 2016.

Festival Telanjang, Hadaka MatsuriFestival Telanjang, Hadaka Matsuri Foto: (AFP)

Ini adalah salah satu dari beberapa festival telanjang yang diadakan di seluruh Jepang. Yang lain diadakan di Yotsukaido di prefektur Chiba, menampilkan pria berkelahi dan membawa anak-anak melewati lumpur sebagai metode pengusiran setan dan nasib buruk.

Eyo berhubungan dengan istilah yang disebut ichiyo-raifuku, yang berarti bertahan di musim dingin yang ekstrem sebelum memasuki musim semi yang hangat.

Tahun ini, festival kembali digelar di prefektur Okayama di bagian selatan pulau Honshu. Namun tak seperti tahun-tahun sebelumnya, pandemi membuat festival ini terlihat berbeda. Pandemi mengubah Hadaka Matsuri yang biasanya dihadiri 10 ribu pria, menyusut jadi hanya ratusan orang saja.

Oiya, Hadaka Matsuri hanya dilakukan oleh pria saja. Mulai dari anak-anak sampai pria dewasa, berkumpul di sore hari. Sejak dini mereka dididik untuk mencintai dan mengerti tradisi ini.

Setelah malam, para pria akan menghabiskan satu atau dua jam berlarian di sekitar halaman kuil dalam persiapan dan menyucikan diri mereka. Mereka menggunakan air dingin, sebelum menjejalkan diri ke dalam bangunan utama kuil.

Sebenarnya para peserta festival tidak benar-benar telanjang. Mereka tetap mengenakan pakaian bawahan tradisional yang disebut fundoshi dan sepasang kaus kaki putih yang disebut tabi.

Ketika lampu padam pada pukul 10 malam, seorang pendeta melemparkan 100 ikat ranting dan dua tongkat shingi suci sepanjang 20 sentimeter ke kerumunan dari jendela setinggi empat meter di atas.

Siapa pun yang berhasil mengambilnya konon katanya bakal menikmati tahun penuh keberuntungan. Shingi lebih diincar daripada ranting.

Peserta berkerumun layaknya ikan pepes, berdesak-desakan untuk mengambil salah satu bungkusan atau bahkan kedua tongkat itu. Sementara kita tahu bahwa situasi seperti itu sangat terlarang dilakukan pada hari ini, pandemi.

Keseluruhan acara berlangsung sekitar 30 menit dan peserta biasanya mengalami beberapa luka, memar dan sendi yang terkilir. Dulu pengunjung biasanya datang dari seluruh Jepang dan beberapa dari luar negeri hanya untuk merasakan jadi bagian dari festival ini.

Tetapi penyelenggara acara mengonfirmasi bahwa acara Hadaka Matsuri tahun ini, yang berlangsung pada tanggal 20 Februari lalu dilakukan terbatas. Hanya kelompok terpilih yang terdiri dari 100 atau lebih pria yang telah menangkap shingi dalam beberapa tahun terakhir dan tentu saja tertutup untuk penonton.

Alih-alih memperebutkan tongkat, para pria berkumpul di Kuil Saidaiji Kannonin untuk berdoa bagi kesuburan, diakhirinya pandemi dan perdamaian dunia, sambil tetap menjaga jarak sosial.

Kasus Covid-19 harian sendiri telah menurun dalam beberapa pekan terakhir di Jepang. Tapi Tokyo masih termasuk di antara beberapa prefektur yang berada dalam keadaan darurat untuk mengendalikan virus. Sementara untuk saat ini Negari Sakura telah melaporkan lebih dari 430 ribu kasus Covid-19 dan lebih dari 7.000 kematian.



Simak Video "Gempa M 6,1 Guncang Tokyo, Listrik Stasiun Padam-Lampu Jalan Goyang"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/ddn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA