Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

ADVERTISEMENT

Minggu, 14 Agu 2022 05:42 WIB

INTERNATIONAL DESTINATIONS

Granadilla, Kota Hantu yang Terlantar Karena Kesalahan

Yasmin Nurfadila
detikTravel
Public castle of Granadilla and Gabriel y Galan reservoir, Extremadura, spain
Pemandangan Granadilla. Foto: (Getty Images/iStockphoto/estivillml)
Extremadura -

Pada tahun 1960an pemerintah Spanyol mengevakuasi warga Desa Granadilla untuk dijadikan dam. Tetapi, rencana itu tidak pernah diwujudkan dan desa dibiarkan kosong seperti kota hantu.

Desa yang dikelilingi benteng yang indah dan tertata rapi ini adalah sebuah wilayah tak berpenghuni. Dahulu desa ini berjalan layaknya desa-desa lain, berisi penduduk dan diramaikan oleh berbagai aktivitas.

Dilansir dari BBC, awalnya Granadilla dibangun oleh umat Muslim pada abad ke-9 Masehi. Lokasi desa ini sangat strategis. Penduduknya dapat dengan mudah memantau rute perjalanan dan perdagangan kuno yang bernama Ruta de la Plata.

Hingga saat ini bentuk dan bangunan-bangunan di kota kecil atau desa Granadilla itu tak berubah. Menjadikannya satu dari sedikit desa dengan benteng yang masih terjaga dengan baik.

Sayangnya, kekokohan bangunan dan benteng ini tak lagi memiliki penikmat tetap. Karena tidak ada penduduk yang diperbolehkan tinggal di tempat ini.

Pelarangan ini dimulai sejak masa pemerintahan diktator Fransisco Franco pada tahun 1950an. Pada saat itu Spanyol tengah gencar mengembangkan perekonomian. Salah satunya dengan membangun dam atau bendungan.

Salah satu proyek bendungan ini bertempat di Sungai Alagón yang berada dekat dari Granadilla. Proyek ini bernama reservoir Gabriel y Galán.

Kemudian pada tahun 1955, setelah rancangan bendungan selesai pemerintah mengumumkan bahwa Granadilla menjadi salah satu wilayah yang akan terendam. Oleh karena itu masyarakat penghuninya harus dievakuasi.

Selama 10 tahun, sebanyak 1.000 penduduk Granadilla dipaksa keluar. Banyak dari mereka yang pindah ke pemukiman-pemukiman terdekat. Namun, pada tahun 1963 ketika bendungan mulai diisi, ternyata air tersebut tidak menyentuh desa Granadilla sedikitpun. Meski begitu, para penduduknya tetap tidak diperbolehkan kembali.

Pengalaman ini merupakan hal yang traumatis bagi para warga Granadilla. Hingga saat ini banyak yang masih menyimpan rasa frustasi tersebut.

"Itu adalah sebuah parodi. Mereka mengusir kami, mengklaim bahwa bendungan akan membanjiri kota, padahal itu mustahil karena letak kota lebih tinggi daripada bendungan. Namun, saat itu merupakan masa-masa diktator, dan kami tidak memiliki hak. Namun yang paling membuat saya frustasi adalah selama masa demokrasi, saya telah berjuang untuk mengembalikan Granadilla bersama mantan asosiasi anak-anak (Granadilla), dan tidak ada pihak pemerintah yang mendengarkan kami," kata presiden dari Asosiasi Putra Granadilla Eugenio Jiménez.

Salah seorang mantan penduduk Granadilla bernama Purificación Jiménez juga menceritakan kesedihan mereka ketika dipaksa harus meninggalkan desa.

"Saya masih ingat ketika ada keluarga yang meninggalkan desa, semua orang keluar menuju gerbang desa untuk mengucapkan selamat tinggal dan menangis," ujarnya.

Sayangnya, meski setelah lebih dari 70 tahun para penduduk Granadilla tetap tidak diperbolehkan untuk mengklaim kembali rumah mereka. Hal ini karena pemerintah masih berpegang pada skema banjir yang telah ditandatangani oleh Franco.

Sejak tahun 1980 Granadilla menjadi situs artistik-historis yang dapat dikunjungi siapapun. Turis lokal maupun mancanegara dapat berkunjung ke desa ini untuk menikmati keindahan desa yang tak pernah lagi mendapat sentuhan hiruk pikuk keseharian penduduk.

Sementara itu, para penduduk awal Granadilla bersama dengan keturunannya tetap berkunjung ke desa ini secara rutin. Mereka berkumpul setiap dua kali dalam setahun, yaitu pada All Saints' Day (1 November) dan Day of the Assumption of Mary (15 Agustus).



Simak Video "Berenang santai Sambil Berfloaties Ria Menikmati indahnya Pemandangan Alam Tepi Laut, Lombok"
[Gambas:Video 20detik]
(ysn/fem)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA