Ada tempat-tempat yang meninggalkan kesan mendalam. The Pinnacles Desert adalah salah satunya.
Boleh dibilang, inilah salah satu destinasi paling ikonik di Australia Barat. Foto-foto gurun pasir dengan ratusan pilar batu menjulang yang terlihat seperti lanskap di planet Mars begitu melekat di kepala. Sejak lama view semenakjubkan itu hanya dilihat dari layar. Saat kesempatan datang untuk mengunjungi langsung, hanya ada satu perasaan, tidak sabar.
Perjalanan menuju The Pinnacles dimulai dari Perth pada tengah hari pada akhir Mei lalu. Bus dari paket open trip yang kami pesan melalui Antavaya menjemput tepat waktu pukul 11.45. Setelah berhenti di beberapa titik untuk menjemput peserta lain, bus akhirnya meninggalkan pusat kota menuju arah utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemandangan perlahan berubah. Gedung-gedung tinggi Perth berganti dengan padang rumput luas, semak khas Australia Barat, dan jalan raya yang membentang lurus sejauh mata memandang. Udara musim dingin yang sejuk membuat perjalanan terasa nyaman. Langit biru tanpa awan menemani sepanjang perjalanan.
Sekitar satu jam kemudian, rombongan tiba di Moore River Estuary di kawasan Guilderton. Dari atas bukit pasir, pemandangan yang tersaji langsung mencuri perhatian. Sungai berwarna biru kehijauan mengalir tenang sebelum bertemu dengan birunya Samudra Hindia. Di antara keduanya terbentang hamparan pasir putih yang membentuk lanskap unik dan sangat fotogenik.
Banyak wisatawan memanfaatkan lokasi ini untuk berfoto atau sekadar menikmati pemandangan. Angin laut berembus cukup kencang, membuat suasana terasa segar dan jauh dari hiruk-pikuk kota.
Di tempat yang berjarak ribuan kilometer dari Indonesia itu, muncul kejutan kecil. Saya bertemu dengan sebuah keluarga Indonesia yang sedang berwisata. Sebagian anggota keluarga itu baru saja menyelesaikan salat berjamaah di taman tepi sungai.
Obrolan pun mengalir hangat. "Kami rutin ke sini, setahun bisa tiga kali. Tempat wisata ini gratis, cukup bayar parkir. Dulu malah parkirnya juga gratis," kata Nanang Suryana, warga negara Indonesia asal Jakarta yang sudah 18 tahun menetap di Perth.
Berjumpa Nanang Surayana, keluarga dari Indonesia, di Moore River Estuary di kawasan Guilderton, Australia Barat (Femi Diah/detikcom) |
Menurut dia, lokasi ini menjadi favorit keluarga karena mudah dijangkau dari Perth dan memiliki fasilitas yang memadai.
"Tempatnya mudah dijangkau dari Perth, air memadai, ada spot barbeku, jadi tinggal bawa bahan makanan. Air juga tersedia untuk memasak dan wudhu. Tempat salat juga mudah, meskipun tidak ada musala tinggal gelar alas saja di sini. Lokasinya bersih," ujarnya.
Moore River Estuary di kawasan Guilderton, Australia Barat (Femi Diah/detikcom) |
Obrolan tentang destinasi wisata, makanan halal, hingga kehidupan muslim di Perth berlangsung singkat. Tak lama kemudian, rombongan kami harus kembali melanjutkan perjalanan.
Tujuan berikutnya adalah kawasan Cervantes, gerbang menuju The Pinnacles. Jaraknya hanya sekitar 30 menit dari Moore River Estuary. Tiga puluh menit yang benar-benar terasa 30 menit. Tanpa lampu merah, tanpa kemacetan, bahkan kendaraan yang berpapasan bisa dihitung dengan jari.
Dalam perjalanan itu, bus memasuki kawasan Nilgen Nature Reserve, sebuah cagar alam seluas lebih dari 5.500 hektare yang menjadi rumah bagi ratusan spesies tumbuhan dan satwa khas Australia Barat.
Cervantes, gerbang menuju The Pinnacles, di Nilgen Nature Reserve (Femi Diah/detikcom) |
Pemandu kami, Alicia, menjelaskan salah satu hal paling menarik dari kawasan ini. Banyak tanaman tampak gosong seperti baru saja terbakar. Namun ternyata, kebakaran justru menjadi bagian penting dari siklus hidup mereka.
Api membantu membuka polong atau bunga yang telah mengering sehingga biji-bijinya dapat keluar dan tersebar oleh angin.
Cervantes, gerbang menuju The Pinnacles, di Nilgen Nature Reserve (Femi Diah/detikcom) |
"Semua biji di dalamnya akan tersebar terbawa angin. Api justru baik untuk tanaman ini," kata Alicia sambil menunjukkan salah satu tanaman di kawasan tersebut.
Dari titik itu, garis biru Samudra Hindia terlihat di kejauhan. Perpaduan vegetasi liar, bukit pasir, dan lautan menciptakan lanskap yang khas Australia Barat.
Tak lama kemudian, tibalah saat yang ditunggu-tunggu. Bus memasuki kawasan The Pinnacles Desert.
Sebelum turun, Alicia memberikan peringatan. "Tempat ini sangat indah saat matahari terbenam, tetapi akan terasa menyeramkan setelah gelap. Tidak ada lampu sama sekali di sana," katanya.
Tak sampai lima menit berjalan dari area parkir, saya akhirnya berada di tengah hamparan pasir dan pilar-pilar batu kapur yang selama ini hanya saya lihat di foto.
Pemandangan itu benar-benar terasa tidak biasa.
Ratusan batu menjulang dari permukaan pasir dengan bentuk yang beragam. Ada yang tinggi dan ramping, ada yang pendek dan membulat. Semuanya berdiri sendiri-sendiri, seolah dipahat secara acak oleh alam selama ribuan tahun.
The Pinnacles View di Australia Barat (Femi Diah/detikcom) |
Para ilmuwan masih memperdebatkan bagaimana formasi ini terbentuk. Namun satu hal yang pasti, hasil akhirnya sungguh luar biasa. Meski hanya berada di sana dalam waktu singkat, The Pinnacles berhasil meninggalkan kesan yang kuat. Terlebih saat matahari mulai turun.
The Pinnacles View di Australia Barat (Femi Diah/detikcom) |
Inilah momen yang paling ditunggu. Sinar matahari sore menyapu permukaan gurun dan pilar-pilar batu dengan warna keemasan. Bayangan panjang terbentuk di atas pasir, membuat setiap sudut terlihat semakin dramatis. Langit yang sebelumnya biru perlahan berubah menjadi perpaduan kuning, jingga, dan merah.
Banyak pengunjung berhenti berjalan. Sebagian sibuk mengabadikan momen dengan kamera. Sebagian lainnya memilih diam menikmati salah satu pertunjukan alam terbaik di Australia Barat.
The Pinnacles View di Australia Barat (Femi Diah/detikcom) |
Ketika matahari akhirnya tenggelam di balik cakrawala, suasana berubah begitu tenang. Cahaya keemasan memudar, menyisakan siluet batu-batu yang berdiri kokoh di tengah hamparan pasir.
Perjalanan hari itu belum berakhir. Setelah menikmati sunset, rombongan diajak makan malam yang sudah termasuk dalam paket tur. Menu yang disajikan sederhana, terdiri dari roti, pilihan daging ayam atau sapi, salad, stroberi, dan biskuit TimTam.
Stargazing di Pinnacles View, Australia Barat (Femi Diah/detikcom) |
Malam semakin pekat. Saat itulah Alicia mengajak kami mendongak ke langit. Tanpa polusi cahaya, langit di atas The Pinnacles tampak penuh bintang. Satu per satu rasi bintang ditunjukkan dan dijelaskan fungsinya sebagai penunjuk arah bagi para pelaut maupun penjelajah pada masa lalu.
Kemudian semua lampu dimatikan. Tidak ada suara selain angin gurun yang sesekali berembus.
Stargazing di Pinnacles View, Australia Barat (Femi Diah/detikcom) |
Di tengah kegelapan itu, ribuan bintang terlihat begitu jelas dengan mata telanjang. Sebagian peserta menggunakan teleskop yang dibawa dari Perth untuk melihat lebih dekat.
Momen sederhana itu menjadi penutup yang sempurna untuk perjalanan hari itu. Tak lama kemudian, semua peserta kembali ke bus.
"Silakan istirahat. Saya akan membawa kalian kembali ke Perth dengan aman," kata Alicia.
Ngeng..., bus pun melaju menembus malam menuju Perth, meninggalkan gurun penuh batu yang terasa seperti berasal dari dunia lain.
---
Traveler bisa liburan lebih murah dengan pembayaran melalui Allo Paylater, ada diskon 20% untuk semua produk wisata Western Australia, juga diskon Megafirst 10%, serta diskon Rp 500.000 untuk pemesanan di web dan apps Antavaya paket tur Australia.




















































Komentar Terbanyak
Femas, Pemuda Madiun yang Kabur dari Tur di Korea Terdeteksi di Masjid
Viral di Medsos, Peserta Tur Asal Madiun Diduga Kabur Saat Liburan ke Korea Selatan
Naik Tiga Tingkat! Indonesia Kini di Posisi ke-2 Destinasi Ramah Muslim