((N(d)ΞΌ(d)-40)(r))/(Ο(b)((C(d)-ΞΌ(d) )N(d)-41/40 c)) (41c.a)/γ40γ^2
Sederet kombinasi huruf, simbol dan angka tersebut tampak rumit bukan? Orang awam pasti mengerutkan dahi saat melihat rumus matematika ini. Namun, itulah rumusan dari sesuatu yang paling diinginkan oleh para pelancong: sebuah perjalanan yang sempurna.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Unsur-unsur itulah yang dikombinasikan oleh Dr David Lewis, seorang psikolog konsultan penelitian Mindlab International yang berbasis di University of Sussex, Inggris. Menurutnya, liburan yang menghasilkan relaksasi maksimal berlangsung selama tiga hari, dengan jarak destinasi tak lebih dari 4 jam dari rumah si pelancong.
"Penelitian menunjukkan banyak orang yang bepergian jauh sangat stress. Mereka pulang dalam kondisi lebih lelah, bukannya lebih ceria," kata Dr Lewis dalam situs Mail Online, Selasa (17/7/2012).
Lanjut Dr Lewis, ini menjadi salah satu alasan liburan jangka pendek menjadi populer di Britania Raya. Banyak pelancong yang menemukan manfaat ketika mereka berlibur akhir pekan.
Beberapa elemen yang masuk dalam rumus tersebut mencakup N(d), C(d), a(d), dan r(d). Seluruh huruf 'd' mewakili durasi liburan. Huruf 'N' menunjukkan angka kemungkinan liburan dalam setahun, dan 'C' merujuk pada biaya liburan. Huruf 'a' menunjukkan tingkat kecemasan dalam waktu liburan, seperti teringat cuti kerja yang hampir berakhir serta tugas yang menumpuk. Terakhir, 'r' merujuk pada level relaksasi yang ingin didapatkan saat berlibur.
Dr Lewis berpendapat, tak jarang setelah liburan pelancong malah makin stress. Hal itu terjadi saat mereka kembali ke rutinitas pekerjaan, atau suatu hal yang membutuhkan perhatian ekstra.
"Harusnya liburan bisa mengisi "daya baterai" kita, dan membuat kita kembali segar," katanya.
Namun, Dr Lewis juga mengingatkan para pelancong untuk membatasi diri saat memanjakan tubuh. Menurutnya, hal itu akan berdampak pada risiko kesehatan si pelancong.
"Agenda memanjakan diri selama liburan juga terkadang berlebihan. Terlalu banyak berjemur, terlalu banyak makan dan minum. Semakin panjang liburan, maka semakin besar potensi risiko terhadap kesehatan seseorang," tambah sang psikolog.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong