Suka Duka Bandara di Indonesia Timur

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Pengalaman Buruk di Bandara

Suka Duka Bandara di Indonesia Timur

Sri Anindiati Nursastri - detikTravel
Kamis, 14 Feb 2013 14:35 WIB
Suka Duka Bandara di Indonesia Timur
Bandara Wamena di Papua (Sastri/ detikTravel)
Jakarta - Banyak hal menarik yang bisa dilihat saat berada di bandara-bandara Indonesia Timur. Ada yang bangunannya bagus, ada juga yang terbengkalai. Tak jarang traveler mengalami kejadian-kejadian unik di bandara.

Bandara memegang peran krusial sebagai pintu gerbang pariwisata. Tak heran banyak kota di dunia berlomba-lomba untuk membuat bandara yang terbaik, terbagus, ternyaman, atau terlengkap fasilitasnya. Penduduk Indonesia juga patut bangga dengan bangunan Bandara Sultan Hassanuddin, Makassar, yang minimalis dan modern. Bandara Ngurah Rai di Denpasar juga sedang diperbaharui, mengingat Pulau Bali adalah destinasi utama turis luar negeri.

Tapi bandara di timur Indonesia punya kisah lain. Belum banyak wisatawan yang menjamah wilayah ini. Beberapa kota besar punya bandara yang mampu menampung pesawat besar seperti tipe Boeing. Tapi, mayoritas kota di Indonesia wilayah timur hanya punya bandara khusus pesawat perintis seperti tipe Cessna.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

detikTravel mengalami sendiri suka duka di bandara-bandara Indonesia timur. Bandara Sultan Hasanuddin di Makassar tentu jadi yang paling nyaman dan berfasilitas lengkap. Bandara di kota-kota besar seperti Kupang, Jayapura dan Ende bisa dimasuki pesawat besar, berbeda dengan kota-kota di pedalaman.

Bandara Komodo Labuan Bajo di NTB adalah salah satunya. Bandara ini hanya bisa disinggahi pesawat-pesawat perintis seperti Susi Air dan Wings Air. Bangunannya pun sederhana, bagian dalamnya cenderung kosong. Hanya 2 toko yang menjual suvenir khas setempat. Sangat disayangkan, padahal Taman Nasional Komodo adalah salah satu magnet bagi turis mancanegara.

Bandara di Kota Ende, NTT, juga bernasib sama yakni hanya bisa dimasuki pesawat perintis. Namun, bangunan Bandara H Hasan Aroeboesman itu sudah modern dan bersih. Kebersihannya terjaga, troli pun dengan mudah didapat. Berbeda dengan Bandara Sentani di Jayapura, Papua.

Keken Hamzah, salah satu pemenang Dream Destination Papua 2012 yang diadakan detikTravel, menemukan keganjilan di Bandara Sentani. Wisatawan tak bisa sembarang ambil troli, karena tiap troli sudah dikuasai para porter.

"Waktu itu saya datang ke Bandara Sentani pagi, sekitar jam 09.00-10.00 WIT. Bandara lagi ramai. Biasanya kan banyak banget troli di pojokan tempat ambil bagasi, tapi ternyata nggak ada. Eh, di belakang saya ada porter-porter berseragam, masing-masing pegang troli," ujar Keken saat bercerita kepada detikTravel, Kamis (14/2/2013).

Para porter ini, lanjut Keken, 'menjual' troli satu paket dengan jasa mengangkut barang. Makin banyak barang yang dibawa, makin mahal pula harganya.

"Kalau 1 koper sekitar Rp 20.000. Kalau banyak bisa sampai Rp 50.000 atau lebih," tambahnya.

Masih di Papua, bandara di Kota Wamena lain lagi ceritanya. Kota ini terletak jauh di pedalaman Papua, dipagari Pegunungan Jayawijaya. Tak heran hanya pesawat perintis yang bisa masuk ke sini. Namun, yang jadi perhatian di Bandara Wamena adalah bangunannya.

Alih-alih tembok, Bandara Wamena hanya dibatasi ram kawat dan seng sebagai dindingnya. Di salah satu 'tembok seng' itu, tulisan 'Check Counter' terpampang besar-besar menggunakan cat semprot warna merah dan kuning. Bandara ini tak berlantai, hanya beralaskan tanah.

Sama seperti di bandara-bandara pedalaman lainnya, penumpang yang memesan tiket pesawat perintis harus ditimbang beserta barang bawaannya. Setelah menimbang berat, saatnya membayar airport tax. Pada kertas itu tertulis harga "Rp 11.000", namun seringkali petugas bandara meminta Rp 25.000-30.000 dari wisatawan.

Sebuah pemindai 'dipajang' di pintu masuk ruang tunggu Bandara Wamena. Ya, 'dipajang' karena tidak berfungsi sama sekali. Untunglah masih ada kursi-kursi logam yang membuat duduk cukup nyaman. Sekali lagi, hal ini sangat disayangkan karena warga Papua, turis domestik, dan turis mancanegara bercampur baur di Bandara Wamena yang artinya ada potensi wisata di sana.

Dekat Papua, ada Bandara Frans Kaisiepo di Biak yang cukup ramah wisatawan. Ruangannya ber-AC dan cukup nyaman. Bandara ini jadi tempat transit penerbangan menuju Papua, dan bisa dimasuki pesawat besar seperti Garuda Indonesia dan Merpati Airlines.

Hal-hal unik dan ajaib ini menjadi pengalaman baru, sekaligus pembelajaran bagi traveler. Setidaknya, pembangunan infrastruktur dan fasilitas bandara di Indonesia tidak hanya terfokus pada kota-kota besar tapi juga berbagai destinasi wisata yang potensial. Kalau gerbang udara tersedia dengan baik dan nyaman bagi traveler, pintu pariwisata Indonesia timur akan semakin terbuka lebar.

(sst/aff)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads