Sentani sejatinya sedang berkabung. Penebangan liar sedang terjadi di hutan-hutannya. Sementara itu, bencana alam seperti banjir terjadi dalam beberapa bulan lalu. Lalu, pengaruh budaya luar pun mulai melupakan masyarakat sekitar tentang tradisi adat. Lantas, Festival Budaya Sentani menjadi senjata untuk menghadapi itu semua.
"Tema tahun ini adalah Bertahan dalam Guncangan Badai. Baik dari badai sesungguhnya atau 'badai-badai' yang lain," ujar Kepala Dinas dan Budaya Pariwisata Kabupaten Jayapura, Jairus D Ohe, dalam acara jumpa pers Festival Danau Sentani 2013 di Lantai 17, Gedung Sapta Pesona, Jl Medan Merdeka Barat, Jakarta, Selasa (11/6/2013).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa bulan lalu, banjir juga terjadi di Danau Sentani. Rumah-rumah penduduk tenggelam satu setengah meter," ungkap Jarius.
Inilah badai dalam arti kata sesungguhnya. Meski demikian, masyarakat Sentani tetap antusias untuk menyambut Festival Danau Sentani 2013.
"Budaya luar juga sudah mulai mempengaruhi kita (masyarakat Sentani-red)," kata Jarius.
Di festival tersebutlah, masyarakat Sentani akan berpesta. Rangkaian acara budaya dan kuliner akan mengingatkan kekayaan budaya yang mereka miliki. Wisatawan pun bakal dibuat terkesima.
"Festival Danau Sentani juga berperan dalam perkembangan Sentani dan Kabupaten Jayapura. Pesawat Garuda, Lion, Sriwijaya menambah penerbangan. Jalanan pun semakin bagus," ujar Jarius.
Jumlah hotel pun terus meningkat. Hingga kini, terdapat 22 hotel berbintang dan 27 hotel non bintang di sekitar Kabupaten Jayapura dan Sentani. Homestay pun makin berkembang.
"Selama 5 tahun dari tahun 2008, Festival Danau Sentani punya peran yang besar," tutup Jarius.
(shf/shf)










































