Jika menengok ke belakang, tepatnya di pertengahan tahun 2015, vandalisme menghebohkan dunia pernah dilakukan oleh seorang ABG China bernama Ding Jinhao (15). Ketika itu, ia sedang liburan ke salah satu kuil kuno di Luxor, Mesir.
Sayang, kepergiannya tidak diikuti dengan tindakan yang bertanggung jawab. Sebelum pergi dari kuil, Ding Jinhao ternyata meninggalkan jejak. Ia meninggalkan sebuah tulisan tangan di dindingnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melihat aksinya, sontak orang-orang sedunia mencaci maki. Para pengguna internet pun mencari keberadaannya. Orangtua Ding Jinhao sampai meminta maaf kepada publik lewat media di Tiongkok
Rupanya, kejadian ini juga terjadi di gunung sakral milik Jepang, yakni Gunung Fuji. Mirisnya, kejadian ini diduga dilakukan oleh orang Indonesia.
Tak hanya satu, vandalisme dilakukan di 3 batu Gunung Fuji. Seluruhnya dilakukan menggunakan pilox berwarna merah.
Dari tiga grafiti, yang paling mencolok adalah tulisan 'Cla-X Indonesia'. Tulisan ini diduga diterjemahkan menjadi 'Klaten Indonesia'.
Dikabarkan, Badan Urusan Kebudayaan Jepang langsung turun tangan untuk mengambil langkah terhadap coretan-coretan di Gunung Fuji tersebut. Aksi vandalisme ini sangat disayangkan, mengingat gunung dengan ketinggian 3.776 mdpl ini adalah tempat yang disucikan dan disakralkan oleh masyarakat Jepang.
Kedua tindakan ini tentu tidak dibenarkan. Jika dibandingkan, vandalisme di Luxor lebih parah, karena diguratkan ke panel batu bertuliskan aksara kuno. Sehingga, bekasnya permanen. Padahal itu adalah panel batu bersejarah berusia ribuan tahun.
Sedangkan vandalisme di Gunung Fuji dilakukan dengan cat semprot. Pihak Jepang mengatakan akan memakai obat kimia khusus untuk menghapus cat itu dari batu.
Meski begitu, kedua tindakan vandalisme ini tentu tidak terpuji. Ini merupakan tindakan tidak bertanggung jawab dan tidak perlu dicontoh.
Marilah sama-sama menjadi tempat wisata dan situs warisan dunia. Ayolah menjadi traveler bertanggung jawab!
(ptr/fay)










































