"Sebenarnya ada satu persoalan pariwisata yang menarik, kita belum maksimal mengolah laut biru kita," ujar Wamen Parekraf, Sapta Nirwandar dalam pembukaan Indonesia Tourism and Creative Economy Fair (ITCEF) di Cendrawasih Hall, JCC Senayan, Jakarta, Jumat (29/8/2014).
Sapta sedikit berkisah, kelautan Indonesia yang baru tersohor di dunia adalah Raja Ampat di Papua Barat. Apalagi, baru-baru ini Raja Ampat makin populer karena Sail Raja Ampat. Sedangkan, sudah banyak resor di sana yang mengunakan mata uang Euro untuk pembayaran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sapta mengungkapkan, banyak kepulauan-kepulauan di Indonesia yang potensi baharinya belum diolah maksimal. Masih banyak pulau yang belum memiliki resor yang memadai atau penawar jasa aktivitas air seperti snorkeling atau diving.
"Bayangkan, Maladewa saja punya 400 resor di 400 pulau. Kita punya 17 ribu pulau. Kalau tiap 3 ribu pulau masing-masing punya resor, wah makin mudah turis datang ke sini," papar Sapta.
Lanjut Sapta, beberapa destinasi yang punya potensi wisata bahari atau kelautan di Indonesia seperti Nias, Sumbawa, Flores dan lain-lain. Sapta pun mengajak investor untuk membangun resor dan mengajak pemerintah untuk terus mengarap potensi laut Indonesia demi pariwisata.
"Pariwisata tidak bergerak sendiri, tapi harus bekerjasama dengan sektor-sektor lain," tutup Sapta.
(shf/shf)












































Komentar Terbanyak
Koster: Wisatawan Domestik ke Bali Turun gegara Penerbangan Sedikit
Ditonjok Preman Pantai Santolo, Emak-emak di Garut Babak Belur
Koster Akui Jumlah Wisatawan Domestik ke Bali Turun di Libur Nataru