"Sebenarnya kita tidak bisa menilai kinerja Kemenpar dari kinerja 100 harinya. Kita harus sabar dan menunggu, konsep-konsep dan strategi apa yang akan dikeluarkan Kemenpar selanjutnya. Semuanya tidak bisa cepat," papar pakar pariwisata Hermawan Kartajaya kepada detikTravel, di The Ritz-Carlton Jakarta, Jl DR Ide Anak Agung Gde Agung, Mega Kuningan, Jakarta, Rabu (28/1/2015) malam.
Pria yang juga menjabat sebagai CEO MarkPlus Center Tourism and Hospitality ini menyebut, contoh kinerja signifikan Kemenpar dalam 100 hari pertama dengan konsep yang jelas adalah strategi pemberian bebas visa kepada 5 negara. Salah satu negaranya adalah Tiongkok dengan potensi kunjungan turis yang besar dan jadi prioritas. Tak ayal, 100 juta turis Tiongkok traveling ke berbagai negara dalam 1 tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, kinerja lain yang harus diapresiasi adalah pembukaan rute penerbangan langsung Denpasar-Beijing oleh Garuda atas kerjasama dengan Kemenpar. Bisa dibilang, pembukaan rutenya pun merupakan kelanjutan dari strategi pembebasan visa kepada Negeri Bambu.
"Masyarakat Tiongkok sebenarnya masih trauma terhadap peristiwa 1998. Namun dengan pembukaan rute itu, kita seolah memberikan kepercayaan baru," ucap Hermawan yang juga menjadi bagian dari BPPI (Badan Promosi Pariwisata Indonesia).
Terakhir, adalah soal branding Wonderful Indonesia dan promosi lewat digital. Suatu konsep yang dianggap Hermawan sudah tepat, sebab kata-kata Wonderful Indonesia sudah dikenal sejak zaman Kemenpar masih bernama Kementerian Budaya dan Pariwisata. Sedangkan promosi digital, dianggapnya murah dan mudah.
(aff/aff)










































