Sejak Selasa sampai Rabu (11/3/2015) detikTravel menerima banyak opini masyarakat via email dan Twitter. Mereka unjuk bicara soal dampak tingginya dollar terhadap kegiatan traveling.
Hampir semua traveler berpendapat kenaikan harga dollar berpengaruh terhadap rencana jalan-jalan ke luar negeri. Mereka dan keluarga atau teman-teman membahas soal ini sejak kemarin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"USD naik ngaruh lah. Tiket kan jadi mahal," kicau @irfanfq.
"Sakitnya di sini," kata @dodon_jerry.
Apalagi bagi mereka yang biasa bergaya backpacker atau budget traveler. Kenaikan harga dollar bikin pusing kepala.
"Buat kami para backpackers sangat berpengaruh. Harus revisi APBD *DPRD banged yak," ujar @phrjakarta sambil bercanda.
Banyak dari mereka yang menunda liburan ke luar negeri. Bahkan ada juga yang sampai berhenti browsing paket liburan.
"Stop browsing paket liburan," ujar @simplemom12.
"Kalau aΔ·u tunda karena nggak punya duit buat liburan," imbuh @FridaYuniar.
Tapi bagaimana kalau hasrat traveling harus dipenuhi? Banyak dari para traveler yang mengajak banting setir dari traveling ke luar negeri, menjadi menjelajah negeri sendiri. Jarak mungkin jauh, tapi kan semua dihitung dengan rupiah.
"Mungkin ini saatnya keliling Indonesia dulu," kicau @newhandimaurer.
"Mau dollar harga berapa kek, jelajah Indonesia saja dulu dari Sabang sampai Merauke," sambung @rei_abenteurer.
Bagaimana dengan Anda? Tetap lanjut berangkat, menunda atau malah batal traveling ke luar negeri? Jika punya opini soal ini, silakan kirim email ke redaksi@detik.travel.
(sst/sst)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Meresahkan, Rombongan Pendaki Karaoke di Puncak Gunung Andong
Kopitiam dan Rahasia Budaya Ngopi Warga Singapura, Ada Kopi O dan Kopi C