Setiap bulan Desember sampai Februari, kawasan perairan, Karimunjawa mengalami musim barat. Pada musim ini, cuaca sangat tak bersahabat. Bahkan ombak tingginya bisa mencapai 6 meter.
Alhasil, banyak wisatawan terdampar dan tak bisa pulang sampai berhari-hari. Pada awal-awal musim, pengunjung hanya bisa menunggu gelombang reda.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Namanya terpaksa. Sebenarnya naik kapal nelayan tak boleh dilakukan," ujar Kasitapem Trantib Karimunjawa, Warso saat acara Survei Let's Go Karimunjawa dari Pelni di Ruang Serbaguna Karimunjawa, Sabtu (14/3/2015) malam.
Belajar dari pengalaman, wisatawan dianjurkan untuk tidak datang selama musim buruk yang biasa dikenal dengan musim barat. Syukurnya, menurut Warso, tahun ini tidak ada masalah.
Pihak Taman Nasional Karimunjawa pun punya masukan sendiri mengenai musim barat ini. Menurut Kepala Seksi Wilayah II Karimunjawa, Sutris Haryanta, ada baiknya kawasan Karimunjawa ditutup selama musim tersebut.
"Kalau di Taman Nasional ada kebijakan menutup area wisata selama musim buruk," ujarnya.
Dari sana, banyak keuntungan yang bisa didapat. Yang pertama, menurut Sutris, terumbu karang bisa recovery karena tak tersentuh manusia.
Kemudian wisatawan pun bisa nyaman. Lalu, masyarakat Karimunjawa bisa berinteraksi kembali karena tidak ada turis yang datang. Terakhir, selama musim ini, ada baiknya hotel dan homestay renovasi agar saat musim liburan, mereka sudah siap menyambut tamu.
"Jadinya wisatawan puas, pihak industri pariwisata pun bisa maksimal menawarkan jasanya," tutup Sutris.
Sejauh ini, belum ada keputusan bagaimana menyikapi musim barat tersebut. Yang pasti para wisatawan diminta melihat BMKG sebelum memutuskan liburan ke sini terutama saat musim barat.
(sst/sst)










































