Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 29 Sep 2015 18:55 WIB

TRAVEL NEWS

Dolar Tinggi, Pariwisata Diklaim Paling Tahan Banting

Wahyu Setyo Widodo
detikTravel
Sapta Nirwandar dan narasumber forum diskusi (Wahyu/detikTravel)
Sapta Nirwandar dan narasumber forum diskusi (Wahyu/detikTravel)
Jakarta - Nilai tukar dolar yang terus menguat membawa masalah tersendiri bagi dunia pariwisata. Namun ternyata, pariwisata punya daya tahan yang cukup kuat terhadap dolar dibandingkan sektor lainnya.

"Sektor pariwisata itu paling resilient terhadap krisis. Punya daya tahan. Itu bisa dibuktikan, dari data UNWTO, pariwisata masih tumbuh meski krisis terjadi. Di tingkat global masih tumbuh 4%, Asia Pasifik 4%, di Asia Tenggara 3%, ini peluang bagi kita," ujar Sapta Nirwandar, pakar pariwisata, dalam acara forum diskusi 'Dolar Menguat Bagaimana Pariwisata Kita' di Restoran Mie HCM, Plaza Semanggi, Jakarta, Selasa (29/9/2015).

Menurut Sapta, setidaknya ada 2 alasan utama kenapa sektor pariwisata punya daya tahan yang lebih dibandingkan sektor lain. Alasan pertama yaitu adanya pergeseran tren pariwisata yang seakan sudah menjadi lifestyle dan alasan berikutnya adalah meningkatnya jumlah golongan menengah ke atas.

"Sektor pariwisata sudah menjadi gaya hidup tersendiri. Apalagi di kota-kota besar, ada yang kurang kalau tidak traveling. Sudah ada pergeseran ke arah sana. Golongan menengah yang meningkat juga jadi kekuatan. Mereka punya spare income yang lebih jadi bisa liburan, setidaknya mengunjungi sanak saudara dan keluarga saat Lebaran," ujar Sapta.

Sektor pariwisata yang tahan banting ini bisa menjadi peluang bagi para pelaku industri pariwisata untuk lebih dikembangkan lagi, terutama sektor domestik. Wisatawan dalam negeri pasti mengurangi perjalanan keluar negeri.

"Kemungkinan pariwisata kita bisa tumbuh masih ada, tapi pertumbuhannya masih di bawah global. Tetap harus kita genjot, promosi harus tetap jalan dan perlu kerjasama semua stakeholder," ungkap mantan Wakil Menteri Pariwisata ini.

Sapta menambahkan, jika bisa diibaratkan, pariwisata adalah sektor yang paling belakangan terkena dampak apabila terjadi krisis ekonomi. Namun apabila ekonomi naik maka sektor pariwisata lah yang pertama memperoleh keuntungan.

Bagai dua sisi mata uang, naiknya dolar harusnya menjadi momentum untuk menggenjot wisatawan domestik. Meski belanja mereka tidak tinggi, cash flow dari mereka akan tetap dibutuhkan oleh industri pariwisata dalam negeri.

(krn/krn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA