"Sektor pariwisata itu paling resilient terhadap krisis. Punya daya tahan. Itu bisa dibuktikan, dari data UNWTO, pariwisata masih tumbuh meski krisis terjadi. Di tingkat global masih tumbuh 4%, Asia Pasifik 4%, di Asia Tenggara 3%, ini peluang bagi kita," ujar Sapta Nirwandar, pakar pariwisata, dalam acara forum diskusi 'Dolar Menguat Bagaimana Pariwisata Kita' di Restoran Mie HCM, Plaza Semanggi, Jakarta, Selasa (29/9/2015).
Menurut Sapta, setidaknya ada 2 alasan utama kenapa sektor pariwisata punya daya tahan yang lebih dibandingkan sektor lain. Alasan pertama yaitu adanya pergeseran tren pariwisata yang seakan sudah menjadi lifestyle dan alasan berikutnya adalah meningkatnya jumlah golongan menengah ke atas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sektor pariwisata yang tahan banting ini bisa menjadi peluang bagi para pelaku industri pariwisata untuk lebih dikembangkan lagi, terutama sektor domestik. Wisatawan dalam negeri pasti mengurangi perjalanan keluar negeri.
"Kemungkinan pariwisata kita bisa tumbuh masih ada, tapi pertumbuhannya masih di bawah global. Tetap harus kita genjot, promosi harus tetap jalan dan perlu kerjasama semua stakeholder," ungkap mantan Wakil Menteri Pariwisata ini.
Sapta menambahkan, jika bisa diibaratkan, pariwisata adalah sektor yang paling belakangan terkena dampak apabila terjadi krisis ekonomi. Namun apabila ekonomi naik maka sektor pariwisata lah yang pertama memperoleh keuntungan.
Bagai dua sisi mata uang, naiknya dolar harusnya menjadi momentum untuk menggenjot wisatawan domestik. Meski belanja mereka tidak tinggi, cash flow dari mereka akan tetap dibutuhkan oleh industri pariwisata dalam negeri.
(krn/krn)












































Komentar Terbanyak
Ibu Kota Negara Tetap di Jakarta, IKN Jadi Apa?
Prabowo: Jangan Terlalu Kagum pada Bangsa yang Kaya dari Merampas Bangsa Lain
Viral Bule Hadang Mobil di Nusa Dua, Ia Berlutut Minta Tolong