Jangankan Indonesia, pariwisata Australia saja terdampak gara-gara dolar meroket. Banyak hotel dijual dan menyebabkan Singapura tertarik membeli banyak hotel di Negeri Kanguru itu.
Seperti Rupiah, nilai tukar Dolar Australia juga melemah di hadapan dolar AS dan turut berdampak dalam sektor pariwisata di sana. Industri hotel jadi seret dan para investor Singapura melihat kesempatan untuk membeli hotel-hotel di Australia.
Business Times Singapura, dilihat detikTravel Rabu (30/9/2015) menulis artikel bertajuk 'Weak A$ drawing more S'pore interest in hotel assets Down Under'. Investor dari Singapura sangat tertarik mengakuisisi hotel yang cenderung untuk MICE di Australia. Kebanyakan mereka mengakuisisi hotel di Sydney, Melbourne dan Perth.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa transaksi yang sudah berlangsung misalnya SC Capital Singapura mengambil Rydges Darwin Airport Hotel and Resort di Marrara sebesar sekitar AUD 84 juta (Rp 862 miliar), akusisi Four Points by Sheraton di Perth oleh Bonvests Holding sebesar AUD 91,5 juta (Rp 940 miliar) dan pembelian Diamant Hotel di Sydney oleh TEE Land sebesar AUD 23,2 juta (Rp 238 miliar).
Pada bulan ini, kabarnya Pontiac Land Group juga sudah membidik dua gedung kuno di Sydney, untuk direnovasi menjadi hotel mewah dengan 240 kamar. Harganya diperkirakan mencapai sekitar AUD 300 juta (Rp 3 triliun).
Tak hanya Singapura, China dan beberapa negara Asia lainnya juga tertarik membeli hotel di Australia. Investor dari Asia rupanya memang senang berbisnis pariwisata di Negeri Kanguru ini.
Selain karena mata uangnya sedang melemah, populernya properti hotel di Australia juga disebabkan oleh lokasinya yang ada di wilayah Asia Pasifik, serta betapa transparan dan stabilnya peraturan hukum dan pajak di sana. Selama dolar Australia masih melemah, tampaknya tren membeli hotel di Australia masih akan terus berlanjut.
(krn/fay)










































