Traveling konon terbukti dapat menurunkan persentase serangan jantung dan berbagai penyakit mematikan lainnya. Dikumpulkan detikTravel dari berbagai sumber, Kamis (21/1/2016) diketahui kalau traveling memang baik untuk kesehatan.
Secara fisik, traveling membuat traveler lebih aktif bergerak. Coba bandingkan aktivitas kamu saat traveling dengan rutinitas kamu di sekolah atau kantor yang lebih banyak duduk dan menghabiskan waktu di depan monitor.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fakta lain, minimnya aktivitas seseorang juga menyebabkan datangnya penyakit kronis seperti serangan jantung, diabetes tipe dua hingga kanker. Sejumlah penykit kronis tersebut diketahui menyumbang angka kematian hingga tiga juta orang per tahunnya.
Pihak Global Ageing Coalition juga membuat penelitian, bahwa seorang wanita yang traveling setiap enam tahun atau kurang diketahui mempunyai persentase serangan jantung yang lebih tinggi ketimbang perempuan yang liburan dua kali dalam setahun.
Studi lain juga menunjukkan, bahwa pria yang tidak traveling mempunyai persentase kematian 30% lebih tinggi akibat serangan jantung. Seorang dokter sekaligus penemu dari Brain health Center, Paul Nussbaum juga mengatakan bahwa traveling baik untuk kesehatan otak.
"Karena traveling menantang otak dengan pengalaman dan suasana baru dan berbeda. Traveling merupakan kebiasaan yang penting untuk kesehatan otak sekaligus membangun ketahanan otak selama hidup," jelas Dokter Paul Nussbaum seperti dilihat di situs resminya.
Intinya liburan dari kerja dan rutinitas dapat memberi kesempatan pada badan untuk ben (sst/sst)










































