Sejak sepekan terakhir ini, badai pasir karena kuatnya tiupan angin masih terus terjadi utamanya di kaldera lautan pasir. Kuatnya tiupan angin di sekitar lautan pasir, yang merupakan fenomena siklus tahunan, khususnya memasuki bulan Juli hingga September. Tak hanya itu, tupan angin membuat Pura Agung yang terletak tepat di bawah Gunung Bromo, terlihat tertutup debu yang berterbangan.
Angin kencang atau badai pasir ini akan hilang biasanya beberapa bulan ke depan. Meski dilanda angin kencang namun fenomena ini tidak mengganggu aktivitas wisatawan, hanya saja wisatawan harus mengenakan masker atau penutup hidung dan mulut. Sebabnya, debu halus dari abu vulkanik Bromo beterbangan cukup membahayakan bagi kesehatan khususnya pernafasan.
Syafrilia, salah seorang wisatawan mengaku, meski di kaldera terjadi badai pasir, namun pesona Gunung Bromo tetap terlihat menawan. "Tetap indah panoramanya, bahkan meski ada banyak debu berterbangan, ayik juga bua foto-foto. Gunung Bromo memeng tiada matinya," ujarnya kepada detikTravel, Selasa (11/7/2017).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski demikian kawasan lautan pasir masih terbuka bagi wisatawan hanya saja tidak mendekat dalam radius satu kilometer dari bibir kawah. Meski aktivitas Gunung Bromo stabil, namun status Gunung Bromo masih level waspada dan sangat membahayakan jika pengunjung naik ke kawah.
(aff/aff)












































Komentar Terbanyak
Gerbong Wanita Dipindah ke Tengah, Setuju?
KA Argo Bromo Anggrek Tabrak KRL, MTI: Momentum Perbaiki Perlintasan Kereta
AS Siapkan Paspor Edisi Khusus, Tampilkan Wajah Donald Trump