Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 01 Ags 2017 15:40 WIB

TRAVEL NEWS

Cerita Menegangkan Pilot Cantik Afghanistan Terbang Keliling Dunia

Johanes Randy Prakoso
Redaksi Travel
Pilot Shaesta Waiz (Randy/detikTravel)
Pilot Shaesta Waiz (Randy/detikTravel)
Batam - Dalam penerbangan solo keliling dunia yang dilakukan Shaesta Waiz, ia juga kerap menjumpai pengalaman menegangkan. Apa saja ya?

Terbang solo dengan misi keliling dunia tentu bukan perkara mudah, apabila untuk seorang wanita. Namun demi kecintaan pada dunia penerbangan dan perhatiannya pada wanita di seluruh dunia, pilot Shaesta Waiz dari Afghanistan rela melakukannya.

Dalam misinya untuk mengedukasi para wanita di seluruh dunia, Shaesta yang terbang dengan menggunakan pesawat Beechcraft Bonanza A36 juga pernah beberapa kali mengalami kejadian yang menegangkan.

Shaesta pun membagikan kisahnya langsung di depan para pelajar akademi pilot dan awak media di IT Batam Center pada Senin kemarin (31/8/2017). Shaesta sendiri khusus datang dari Singapura loh.

Selama hari ini detikTravel akan membahas sosok Shaesta Waiz, pilot wanita pertama Afghanistan yang punya misi terbang solo keliling dunia dengan misi mengedukasi kaum wanita di seluruh dunia untuk mengejar mimpi. Tak jarang ia mengalami kejadian menegangkan dalam perjalanannya.

"Saya pernah kena turbulence selama tiga jam saat terbang dari Bahrain menuju Mesir. Saat itu di padang pasir, tidak ada bandara atau orang. Tiga jam itu sangat menguras tenaga dan melelahkan," ujar Shaesta.

Selain terkena badai, Shaesta juga sempat tidak pede saat melintasi Samudera Atlantik. Berada di atas salah satu samudera terbesar dunia, tentu sudah tidak ada jalan kembali bagi Shaesta melainkan maju.

Shaesta yang tengah melakukan presentasi (Randy/detikTravel)Shaesta yang tengah melakukan presentasi (Randy/detikTravel) Foto: Randy/detikTravel
"Pernah saya ragu saat melintasi Samudera Atlantik, bensin pesawat tidak cukup untuk kembali, jadi pilihannya harus maju terus. Saya pun mensugesti diri sendiri, kalau saya akan jadi pilot perempuan ke-9 yang akan melintasi Samudera Atlantik," cerita Shaesta.

Namun selain kejadian menegangkan, ia juga sempat tidak dipercaya oleh teknisi pesawat karena adalah seorang wanita. Saat itu Shaesta harus mendarat karena mesin pesawatnya rusak.

Setelah diyakinkan oleh Shaesta, barulah teknisi itu percaya dan membenarkan pesawat miliknya. Keberadaan wanita sebagai pilot memang kadang masih mendapat sangkalan dari banyak orang di dunia penerbangan.

Ketika berhadapan dengan faktor alam dan keraguan dari orang di sekitar, Shaesta menyebut kalau ketenangan jadi kuncinya. Selain itu, misi besar yang diemban Shaesta juga sekaligus jadi motivasi.

"Terbang keliling dunia itu tidak boleh panik soal cuaca, ini adalah pesawat kecil dan saya memiliki misi yang besar," ujar Shaesta.

Shaesta dijadwalkan untuk terbang melintasi 21 negara dan lima benua. Pada tanggal 10 Agustus mendatang, ia akan terbang dari Singapura menuju Bali sebelum melanjutkan perjalanan kembali ke Darwin, Australia. (bnl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
Load Komentar ...
NEWS FEED