Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 03 Ags 2017 17:50 WIB

TRAVEL NEWS

Kamu Ngaku laki, Cobalah Liburan ke Medan Perang

Ahmad Masaul Khoiri
Redaksi Travel
Ilustrasi liburan di medan perang (dok CNN)
Ilustrasi liburan di medan perang (dok CNN)
Moskow - Berbagai macam jenis perjalanan ditawarkan oleh agen travel, tak terkecuali yang ekstrem. Kamu ngaku 'laki', cobalah liburan ke kawasan krisis.

Dihimpun detikTravel, Kamis (3/8/2017), di saat turis menghindari Suriah, ada operator tur di Rusia malah menyediakan tur ke sana. Traveler bisa berwisata selama 5 hari, tapi tanpa asuransi. Hehehe...

Megapolis Kurort, begitu nama operator tur yang berbasis di Moskow, Rusia. Per 2016, Megapolis Kurort meluncurkan 'Assad Tour' yang bisa mengantar turis ke negara perang berkepanjangan, Suriah.

Ada loh operator tur yang menawarkan jasa ini (dok CNN)Ada loh operator tur yang menawarkan jasa ini (dok CNN)

Orang yang berperan di balik Assad Tour adalah Anatoly Aronov. Dia sendiri melabeli wisatawan yang berminat ikut Assad Tour sebagai 'crazies' alias wisatawan nekat dan gila.

Dalam paket perjalanan ini, traveler bisa wisata ke Suriah all-in termasuk tiket pesawat PP Moskow-Damaskus, serta akomodasi. Dengan catatan, tanpa asuransi jiwa, kisaran harga yang dipatok USD 1.500 (Rp 21 juta) per orang.

Mereka para traveler 'gila' ini akan naik pesawat menuju Damaskus dan check in di hotel. Kemudian akan ada supir yang mengantarnya berkeliling.

Berkenalan dengan Traveler 'Gila'

Beda cerita dengan agen travel di atas, ada traveler bernama Drury, pria berumur 50 tahun asal Inggris. Ia sejalan dengan tawaran agen tur tadi karena lebih memilih mendatangi tempat-tempat konflik yang sering terjadi perang saat liburan.

Bernama lengkap Andrew Drury, adalah seorang bos perusahaan konstruksi di Surrey, desa yang tak jauh lokasinya dari London. Dia sudah berkeluarga dan memiliki anak. Namun sejak dari muda, ia tak bisa meninggalkan hobinya, yakni berlibur ke medan perang.

Kata dia perjalanannya adalah risiko dan pelajaran. Pelajaran untuk melihat dan memahami dunia lebih dalam. 20 Tahun silam, Drury mengambil keputusan terbesar dalam hidupnya ketika memliki banyak uang, memang memudahkan dirinya untuk traveling ke daerah-daerah konflik, di Afrika misalnya.

Andrew Drury sang traveler nekat (dok. CNN)Andrew Drury sang traveler nekat (dok. CNN)

Ia melintasi perbatasan Uganda dan Republik Kongo. Dia berlarian di tengah perang yang pecah antara masyarakat kedua negara tersebut. Belum lagi ketika bertualang ke Chechnya. Dia sempat diincar oleh tentara Rusia ketika di tempat bekas ledakan bom. Dia melarikan diri dan mengelak untuk diintrograsi. Di Afghanistan, dia pun bermalam di rumah penduduk yang mana orang sana sudah terbiasa memegang senjata!

Di Amerika, dia merasakan pengalaman yang mendebarkan. Dia pernah hidup di dalam lingkungan kelompok supremasi kulit putih di Amerika Serikat, Ku Klux Klan (KKK). Tak sembarang orang bisa bertemu dengan kelompok tersebut, serta pergerakannya sulit diketahui.

Belum lagi, dirinya sempat ketakutan setengah mati ketika mencoba berkenalan dengan suku Kurdi di Suriah. Bukan tanpa sebab, beberapa tahun belakangan ini Suriah dilanda gejolak ISIS (Islamic State of Iraq and Syria) yang dicap sebagai teroris paling berbahaya di dunia.

Tapi Drury masih bisa menjelajahi Suriah, berkenalan dengan orang setempat dan merasakan tinggal di sana. Drury beberapa kali diingatkan, bahwa nyawa orang asing lebih berharga di sana ketimbang apapun!

"Jangan pernah bilang kepada orang yang bertanya kepada Anda, di mana Anda tinggal dan besok mau pergi ke mana. Bahkan, kepada mereka yang sudah Anda percaya. Bilang saja, besok akan pulang," kenangnya ketika berada di Suriah.

Ada yang menarik ketika dirinya plesiran ke Mogadishu, ibukota Somalia. Seperti banyak diberitakan media internasional, Somalia kerap dilanda perang saudara dan merupakan tempat berbahaya untuk dikunjungi turis. Lalu, apa kata Drury yang pernah datang ke sana?

"Orang-orang berpikir, Somalia penuh dengan gengster dan pengedar narkoba tapi yang saya lihat tidak seperti itu. Mereka benar-benar mencintai orang-orang terdekatnya (meskipun seorang turis yang baru berkenalan) dan memberikan yang terbaik," tuturnya.

Bahkan, Drury mendirikan klub basket bagi masyarakat Mogadishu. Dia mengeluarkan kocek pribadi untuk membangun lapangan dan kerap kali datang untuk melihat anak-anak muda di sana bermain basket. Ada rasa kekeluargaan yang erat antara Drury dengan Somalia dan dia tak pernah duga sebelumnya.

Drury juga pernah datang Korea Utara untuk bermain golf di Pyongyang. Pengalaman-pengalamannya menjelajahi medan perang, membuatnya pribadi dengan mental yang kuat dan berani. Dia tahu harus melakukan apa, pergi ke mana dan tidak panik ketika perang pecah di dekatnya. Bisa di bilang dentuman senjata dan berbagai model senjata api bukan barang yang baru baginya.

Drury mempersiapkan perjalanan liburan ke medan perang dengan rapi. Dia tidak mau mati konyol hanya untuk datang dan kemudian tidak tahu bagaimana situasi. Maka sering kali, Drury ikut paket tur dari operator-operator tur yang memang menawarkan perjalanan ke medan perang, seperti Untamed Borders.

Traveler tertarik untuk menjadi traveler 'gila'? Tapi ingat ya, jangan sembarang coba-coba mengikuti Drury kalau mental dan persiapan belum matang!

(rdy/aff)
BERITA TERKAIT
Load Komentar ...
NEWS FEED