Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 06 Agu 2017 11:25 WIB

TRAVEL NEWS

Masuk Area Taman Nasional, Desa Ranupani Akan Dijaga dan Diawasi

Muhammad Aminudin
Redaksi Travel
Desa Ranupani (Aminudin/detikTravel)
Desa Ranupani (Aminudin/detikTravel)
Malang - Desa Ranupani di kaki Semeru ikut masuk dalam area Taman Nasional Bromo Tengger Semeru. Oleh sebab itu, Desa Ranupani akan dijaga dan diawasi.

Ranupani merupakan desa enclave (kawasan kantong) Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (BBTNBTS) selaku pengelola lahan konservasi. Wilayah ini berada di ketinggian 2.100 Mdpl, ini pun dalam pengawasan untuk pengolahan lahan, baik itu masyarakat maupun konservasi.

BACA JUGA: Terletak di Kaki Semeru, Begini Indahnya Desa Ranupani

Kepala Bidang Teknis Konservasi BB TNBTS Wahyudi mengatakan, Ranupani desa enclave yang memiliki luas sekitar 3579 hektare, lebih luas dari desa enclave lain, yakni Ngadas di Kecamatan Poncokusumo, Kabupaten Malang.

"Di TNBTS ada 2 desa berada dalam kawasan TNBTS sehingga disebut desa enclave, yakni Ngadas dan Ranupani. Luas enclave Desa Ngadas sekitar 414 hektar, sedangkan luas desa enclave Ranupani 3579 hektare, jadi cukup luas," ungkap Wahyudi berbincang dengan detikTravel, Sabtu (5/8/2017).

Dijelaskan, masuk desa enclave karena Ranupani ada lebih dahulu dan menjadi tempat bermukim Suku Tengger. Sehingga keberadaan desa tersebut tetap harus ada, walaupun di sekelilingnya adalah kawasan konservasi yang perlu dilindungi.

"Beda dengan dengan desa konservasi, dimana kegiatannya harus berbasis konservasi. Tetapi Ranupani diberikan ruang pengolahan lahan bagi masyarakatnya, ada pal batas antara lahan dikelola dengan lahan TNBTS," beber Wahyudi.

Diungkapkan, Ranupani akan menjadi role model berupa kemitraan pengelolaan zona tradisional. Melihat sangat pentingnya kelestarian ekosistem yang berdekatan dengan lahan dikelola masyarakat.

"Hal ini sangat perlu kita kembangkan dengan masyarakat Ranupani, karena lokasinya yang cukup tinggi sekitar 2000 Mdpl, sehingga kebutuhan kayu bakar akan sangat tinggi, salah satu untuk penghangat ruangan," tegas Wahyudi.

Kades Ranupani Sutamat ditemui detikTravel di kediamannya, mengaku, jika masyarakat Ranupani ketat menjaga adat istiadat untuk kelestarian alam.

"Kita turut mencegah kebakaran hutan, perambahan hutan juga. Kami disini mengolah lahan pertanian dengan hasil kentang, kubis dan brambang prei," beber Sutamat.

Setahu dia, lahan dikelola sejak dulu oleh nenek moyangnya jauh lebih luas dari saat ini. Lahan pertanian menyatu dengan area pemukiman, diketahuinya hanya sekitar 500 hektare saja.

"Dulu direbut penjajah, awalnya luas lahan pertanian bisa dikelola, sekarang hanya 500 hektare," tambahnya. (rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED