Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Senin, 28 Agu 2017 16:50 WIB

TRAVEL NEWS

Misi 2 Srikandi Menapaki Everest

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Mathilda Dwi Lestari (23) pendaki seven summit (Foto: Masaul/detikTravel)
Mathilda Dwi Lestari (23) pendaki seven summit (Foto: Masaul/detikTravel)
Sukabumi - Kini, tak sedikit perempuan-perempuan yang berkegiatan outdoor. Setidaknya, ada dua srikandi yang ingin menggapai puncak tertinggi dunia.

Mereka tidak tergabung dalam satu tim pendakian. Yang satu ingin mencapai seven summit dan yang satunya grand slam, yakni seven summit ditambah dua puncak di kutub utara dan selatan.

Dalam sarasehan perintis pecinta alam di Tanakita, Sukabumi, 24-25 Agustus lalu dikenalkan pula dua srikandi itu. Yang pertama adalah Mathilda Dwi Lestari (23) pendaki seven summit, dan yang kedua adalah Dian Syahputri Fitri Handayani (34) pendaki grand slam.

BACA JUGA: Pesan Duo Sahabat Soe Hok Gie Buat Pecinta Alam

Srikandi pertama, Mathilda atau biasa dipanggil Hilda akan mendaki puncak terakhir, yakni Puncak Everest pada Maret-Mei 2018. Ia baru kembali ke tanah air bulan Juli kemarin usai menyelesaikan pendakian di Gunung Denali, Amerika Utara.

"Sudah suka dari SMA di Pamulang dengan keluarga yang tidak ada background pecinta alam. Persiapannya bagi 30-30-10. Latihan fisik dari 2014 main ke gunung-gunung dan melihat dinamika tim. Lalu mental 30 didapat dari latihan di tiap minggunya yang ditambah berat beban di kerilnya juga waktu yang dicepetin. Mental pengetahuan praktek di gunung seperti apa," urai Hilda yang merupakan anggota Mahitala, Unpar.

"30 ketiga adalah alat dan 10-nya adalah doa dan sponsor," tambah dia.

Bagi Hilda yang berasal dari Tangerang itu, ia ingin menginspirasi para srikandi Indonesia. Walau gunung identik dengan laki-laki, ia ingin menunjukkan bahwa wanita bisa melakukannya pula.

BACA JUGA: Filosofi Naik Gunung dari Para Legenda Pendaki Indonesia

"Kita inspirasi perempuan Indonesia bahwa mereka bisa melakukan hal di luar batas perempuan, yakni pendakian yang didominasi laki-laki. Kita masih muda kita lakukan dan kita yakin bisa mempersembahan ini untuk Indonesia," kata dia.

"Kita angkat pula sisi humanis perempuan di gunung es," imbuhnya.

Hilda bercita-cita menjadi tim perempuan pertama yang mendaki seven summit. Sudah enam gunung ia lalui bersama rekannya. Antara lain Cartenz, Elbrus, Kilimanjaro, Aconcagua, Vinson Massif dan Denali.

Selain pemandangan cantik, Hilda menyukai kebersamaan saat pendakian. Ada rasa bahagia dalam dirinya ketika duduk diam memandang pemandangan alam sekitar yang bikin hatinya tenang.

Dian Syahputri Fitri Handayani (34) pendaki grand slamDian Syahputri Fitri Handayani (34) pendaki grand slam (Foto: Masaul/detikTravel)


Ambisi Menggapai Grand Slam dan Bakti Sosial Membangun Kelas di Kaki Gunung

Srikandi yang kedua adalah Dian Syahputri Fitri Handayani (34). Ia berasal dari Perbaungan, Serdang Bedagai, Sumut.

Grand slam adalah seven summit lalu ditambah puncak di Kutub Utara dan Selatan. Putri sudah melakukan pendakian ke Kilimanjaro, Cartenz, Elbrus, dan terakhir ke Denali dan Aconcagua. Namun belum sampai puncak karena terhalang badai.

Alumni Kapa Fakultas Teknik UI ini ingin memulai pendakian grand slam secara pribadi dan hanya ikut pendakian massal terbukan. Di samping itu, ia ingin bikin ruang kelas sebanyak 70 ruang di kaki gunung yang ia daki.

"Kalau di Indonesia pasti di Papua. Saya berhenti pekerjaan di Dubai sebagai teknisi kontraktor minyak Schlumberger demi mewujudkan impian saya ini," kata Putri.

Ia mempunyai target untuk menyelesaikan pendakiannya tahun 2019. Kendala yang ia alami ada di pendanaan, karena sejauh ini masih memakai dana pribadi dan untuk selanjutnya ingin memakai sponsor.

"Saya ingin menginspirasi para wanita untuk bermimpi besar. Di mana wanita enggak banyak yang kerja di perminyakan secara umum lalu harus memiliki target lain yang lebih besar," urai dia.

Putri sudah dari kecil atau SMP sudah mendaki gunung karena jarak yang dekat, seperti Gunung Sibayak. Dari alam ia mengaku lebih bisa mengenali diri dan mampu melihat batas diri sendiri.

"Kalau saya lebih menikmati alam, self discovery, push limit, belajar menikmati hal susah dan menyesuaikan keadaan yang sulit. Gunung itu indah, semakin tinggi viewnya beda. Melihat sesuatu di layar dan dengan mata sendiri itu sesuatu berbeda," jelas dia.

Orang tua Putri maupun Hilda selalu khawatir saat anaknya melakukan pendakian, namun tekad bulatlah yang membuat mereka akhirnya mendoakan. Traveler tertarik seperti mereka? (msl/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA