Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 23 Jan 2018 18:10 WIB

TRAVEL NEWS

Wanita Pakistan Pertama, Touring Sendirian Pakai Motor

Ahmad Masaul Khoiri
Redaksi Travel
Zenith Irfan, wanita Pakistan pertama touring motor (Dok. Zenith Irfan/CNN Travel)
Zenith Irfan, wanita Pakistan pertama touring motor (Dok. Zenith Irfan/CNN Travel)
Lahore - Touring menggunakan motor amat identik dengan kumpulan para pria. Namun hal itu terbantahkan saat wanita asal Pakistan ini melakukannya seorang diri.

Melansir CNN Travel, (23/1/2018), ialah Zenith Irfan. Ia ingin meuwujudkan mimpi ayahnya untuk berkeliling dunia menggunakan sepeda motor. Namun, sang ayah meninggal lebih dulu.

Sebagai anak tertua, Zenith memutuskan untuk mengambil tantangan itu dan memberikan stereotip berbeda di Pakistan sebagai biker wanita. Zenith merupakan mahasiswa berusia 21 tahun dari Lahore, Pakistan sebelah timur laut.

Zenith telah menjadi biker wanita yang tak kenal takut. Ia melakukan perjalanan melalui wilayah negara konservatif di mana adalah hal tabu bagi wanita untuk menjelajah seorang diri, apalagi menggunakan roda dua.

Zenith IrfanZenith Irfan di daerah pegunungan (Dok. Zenith Irfan/CNN Travel)


Transformasi yang tidak mudah

Hal itu bermula pada tahun 2013, ketika adik laki-lakinya membeli sepeda motor bermesin kecil 70 cc. Sang ibu mendesaknya untuk mengajari Zenith bagaimana cara berkendara untuk menyelesaikan ambisi almarhum sang ayah.

"Pada awalnya itu adalah perjuangan besar bagi saya. Saya begitu bingung bagaimana mengelola gigi, kopling, rem. Itu sangat membingungkan dan membuat frustrasi tapi kemudian saya bisa mengatasinya," kata Zenith.

Zenith memulai touring menggunakan sepeda motor sebagai bagian tugas moral dari sekitar daerah Lahore. Beberapa bulan kemudian dia memutuskan untuk menjelajah lebih jauh lagi selama enam hari melalui wilayah Azad Kashmir, sebuah wilayah yang disengketakan terletak di Pakistan timur laut yang berbatasan dengan India dan China.

"Saya ingin pergi ke Kashmir karena saya sudah banyak mendengarnya. Mereka mengatakan 'Kashmir, Jannat E Nazir', artinya surga di bumi. Saya tidak ingin menjadi orang yang melihatnya hanya dari foto. Saya ingin pergi dan mengalaminya sendiri di motor saya," kata Zenith.

Pertama-tama, Zenith pergi ke ibu kota Pakistan, Islamabad, lalu menuju kawasan pegunungan dengan lanskap sungai juga lembah yang subur di Murree. Inilah kawasan pinggiran kota yang terletak di lereng selatan Himalaya barat.

Dari sana dia pergi ke ibu kota Kashmir. Perjalanannya berlanjut melalui kawasan Neelam Valley di mana ada kota juga desa-desa yang indah seperti Sharda dan Kel.

Bermeditasi di tengah jalanZenith Irfan bermeditasi di tengah jalan Foto: (Dok. Zenith Irfan/CNN Travel)

Zenith: Saya merasa bebas

"Ketika saya berada di jalan, datang dari pikiran, tubuh, dan jiwa saya, bahwa saya merasa bebas," katanya ketika merasa hal berbeda karena berada jauh dari kota yang padat juga ramai.

"Saya bisa bermeditasi dengan benar, saya benar-benar merasa berbeda, sangat emosional, dan terbebaskan", sambung Zenith.

Keberhasilan perjalanan jarak jauh pertamanya pada bulan Agustus 2015. Zenith berniat melangkah lebih jauh lagi, yakni touring sejauh 3.200 kilometer dari Lahore melalui Pakistan Utara sampai ke Jalur Khunjerab yang berbatasan langsung dengan China.

Saat sampai di tujuan, Zenith senang diberitahu bahwa sementara ini hanya dirinyalah pengendara wanita asing yang telah melakukan perjalanan ke sana. Zenith adalah pengendara sepeda motor pertama Pakistan yang telah bertemu dengan penduduk setempat.

Selama 20 hari, Zenith telah melakukan perjalanan ke tempat-tempat termasuk Dataran Tinggi Deosai. Inilah salah satu dataran tinggi tertinggi di dunia. Juga ke Chilas, sebuah desa kecil yang sangat konservatif di mana penduduknya bermusuhan dengan orang luar hingga mengancamnya dengan bebatuan.

Yang menjadi perhatian utama Zenith adalah tentang kecelakaan lalu lintas. Apalagi saat dia mengendarai sepeda motor berdampingan dengan truk di jalan-jalan yang berbahaya. Namun bahaya adalah sesuatu yang selalu ada dan tidak cukup untuk menghentikannya.

Zenith Irfan bersama motornyaZenith Irfan bersama motornya (Dok. Zenith Irfan/CNN Travel)

Gadis tidak mengendarai sepeda motor

Zenith menjelaskan adanya anggapan bagi pengendara wanita yang bisa terkena sanksi sosial di tempatnya. Hal itu dikarenakan tidak banyak pengendara motor wanita di Pakistan dan jumlahnya pun amat sedikit.

Dia melawannya dengan tidak memakai pakaian feminin dan menyembunyikan dirinya di dalam helm, sepatu bot, juga jaket.

"Mereka jelas mengira bahwa saya laki-laki. Setiap kali saya berhenti untuk menanyakan arah dan mereka sadar saya perempuan, mereka tidak tahu harus berbuat apa. Mereka hanya berdiri di sana dengan mulut ternganga dan tidak tahu bagaimana harus menanggapinya," jelas Zenith.

Lalu, Zenith dengan cepat menarik gas motornya. Tidak memberi waktu penduduk lokal untuk berpikir bahwa dirinya adalah seorang wanita. Zenith pernah merasa gugup akan reaksi orang akan kegiatannya itu dari seorang pria yang mengatakan kepadanya, "Anak perempuan tidak mengendarai sepeda motor," kata pria itu kepada Zenith.

Selain itu, Zenith menerima dukungan dan dorongan yang luar biasa sepanjang perjalanan dari turis lain yang ditemuinya. Di antaranya ada pula dari tentara di pos pemeriksaan keamanan dan beberapa di antaranya dari traveler wanita yang ditemuinya.

Ada seorang di antara mereka, saat di Misgar, sebuah desa kecil di dekat China, yang meninggalkan kesan mendalam itu.

"Kami tidak bisa saling mengerti saat dia berbicara dalam bahasanya sendiri. Dia mengatakan kepada saya melalui seorang penerjemah lokal, 'Apa yang Anda lakukan itu tidak dapat dipercaya'. Dia sangat senang melihat saya di sana," kata Zenith.

Zenith Irfan berada di perjalananZenith Irfan berada di perjalanan (Dok. Zenith Irfan/CNN Travel)

Kenangan terbaik Zenith

Perjalanan jarak jauh tentu amat melelahkan, apalagi bagi seorang wanita yang bepergian seorang diri. Namun, dia mengatakan bahwa kenangan positif dalam perjalanannya akan bertahan lebih lama daripada sebuah ketidaknyamanan.

"Saya belum pernah melihat salju sebelumnya, jadi saya pikir bagian yang terbaik adalah ketika saya melihat salju di pegunungan," katanya.

"Itu adalah sesuatu yang biasanya saya lihat di internet atau TV, dan ketika saya melihatnya dalam kehidupan nyata, sangat jelas dan putih dan sangat indah. Saya tidak dapat mengungkapkan bagaimana hal itu membuat saya merasa membuatku emosional," katanya.

Bahagia yang kedua mencapai Pass Khunjerab.

"Perjalanan ke sana (Pass Khunjerab) selama berhari-hari dan saya harus berjuang dengan motor saya. Motor saya tidak terlalu kuat dan harus membawanya ke atas gunung. Jadi, ketika akhirnya sampai di tempat tujuan, itu adalah prestasi besar," kata Zenith.

Saat ini, Zenith lebih memilih untuk fokus pada kegiatan kuliah. Tapi, dia telah membuat rencana perjalanan yang lebih jauh lagi ke depannya.

Dalam daftarnya, ada perjalanan ke Mithi, sebuah kota kecil di Provinsi Sindh. Di sana ada orang Hindu dan Muslim tinggal bersama, Lembah Swat yang dikenal sebagai Swiss di Pakistan karena pemandangannya yang menakjubkan, bahkan sampai ke Dubai, di mana dia dilahirkan. (msl/aff)
BERITA TERKAIT
NEWS FEED