Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 17 Jul 2018 09:32 WIB

TRAVEL NEWS

Himpunan Pramuwisata Indonesia Sebut Tour Leader Erwin Bukan Anggotanya

Johanes Randy Prakoso
detikTravel
Wakil Ketua HPI DPD DKI Jakarta, Reyhan A Pattiwael (Randy/detikTravel)
Wakil Ketua HPI DPD DKI Jakarta, Reyhan A Pattiwael (Randy/detikTravel)
Jakarta - Kasus wisatawan Indonesia ditinggal tour leader di Maroko jadi perhatian semua pihak. Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) memberi tanggapan.

Ditemui detikTravel usai seminar 'How To Be a Great Tourist Guide' di Fave Hotel LTC Glodok, Senin (16/7/2018), Wakil Ketua Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) DPD DKI Jakarta, Reyhan A Pattiwael, menyebut kalau tour leader bernama Erwin Aprianto tidak tergabung dalam organisasi HPI.

BACA JUGA: Wisatawan Indonesia Ditinggal Tour Leader di Maroko, Netizen Geger!

Tonton juga video: 'Menyusuri Mutiara Biru Maroko'

[Gambas:Video 20detik]


"Kalau kami memahaminya seperti ini saja, kalau dia itu dari Jakarta atau punya lisensi sejauh ini kita nggak pernah mendata punya anggota dengan nama atau inisial tersebut. Belum ada yang mengklarifikasi pada kami kalau dia adalah anggota kami," terang Reyhan.

Lebih lanjut, Reyhan mengungkapkan kalau tak mudah untuk menjadi pramuwisata (pemandu wisata) atau tour leader resmi di bawah HPI. Ada sertifikasi hingga kompetensi yang harus dipenuhi.

"Karena untuk menjadi anggota HPI secara nasional, itu kami patokannya selalu pada lisensi yang diberikan oleh pemerintah melalui dinas pariwisata di daerah masing-masing. Jadi itu sangat jelas di kami, very strict," ujar Reyhan.

Reyhan pun mengaku kalau belum mengetahui secara pasti tentang oknum tour leader itu. Namun, hal tersebut menjadi peringatan bagi para pramuwisata hingga pemerintah.

Ada regulasi yang harus diikuti, khususnya bagi pelaku wisata yang ingin membawa tamu berwisata.

"Yang pasti itu jadi alert buat kami, untuk regulator pada Pemerintah bagaimana kita lebih tertib dalam melakukan enforcement. Bukannya kita seperti orang sentimen, tapi ada oknum yang seperti ini akhirnya kita memang perlu regulasi. Sebenarnya regulasi ada tapi bagaimana itu tertib, menghindarkan oknum-oknum yang mencari kesempatan. Karena yang dirugikan pada akhirnya kan tamu juga," jelas Reyhan.

Lebih jauh, Reyhan pun tidak memungkiri kalau istilah open trip kian marak di kalangan traveler.

"Open trip itu kan marak sekarang khususnya di kalangan online. Dan itu tidak bisa dipungkiri dunia semakin flat, sekarang eranya apa yang dibilang market sharing. Jadi orang merasa punya opportunity dia punya sedikit knowledge," tutup Reyhan.

Akhirnya, traveler pun diminta untuk lebih selektif dan berhati-hati dalam memilih pramuwisata dan tour leader. Jangan sampai mau jalan-jalan tapi malah akhirnya dirugikan.

Sebelumnya di media sosial ramai postingan tentang 5 traveler peserta open trip backpacker yang ditinggal oleh tour leader bernama Erwin Aprianto di Maroko. Uang mereka dibawa Erwin. Pihak rekanan juga mengeluh, Erwin juga hampir tidak membayar mobil sewaan.

Di dalam komentar forum-forum traveler disebutkan bukan sekali ini dia lari dari tanggung jawab. Sementara 5 tamu yang ditinggalkan, untungnya selamat dan sudah pulang sendiri ke Indonesia sambil dipandu KBRI Rabat.

Minggu, 15 Juli 2018, Erwin akhirnya bisa dihubungi detikTravel dan mengatakan masih di Maroko. Dia mengklarifikasi dan mengaku habis diculik orang. Ceritanya pun menimbulkan perbincangan baru di antara para traveler, apakah ceritanya bisa dipercaya atau tidak. Erwin kini ditampung KBRI Rabat, usai lapor diri atas kejadian penculikan.


Himpunan Pramuwisata Indonesia Sebut Tour Leader Erwin Bukan Anggotanya
(rdy/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA