Senggigi adalah salah satu destinasi wisata yang paling banyak dikunjungi di Lombok, bahkan menjadi kawasan primadona utama para turis mancanegara dan lokal. Pasca masa tanggap darurat bencana gempa bumi, wisata Senggigi diharap bangkit kembali.
Akibat bencana gempa yang mengguncang Lombok, sejak Senin (6/8/2018) lalu kawasan wisata Senggigi sepi seperti tak berpenghuni. Ribuan wisatawan mancanegara dievakuasi untuk segera meninggalkan Senggigi bersamaan dengan evakuasi wisatawan di tiga gili, yakni Gili Trawangan, Gili Air, dan Gili Meno di Kabupaten Lombok Utara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fauzan Akbar, Manajer Pemasaran Kila Hotel Senggigi, merasakan betul beda jauh masa sebelum dan sesudah gempa bumi melanda Lombok Barat, tingkat hunian di hotelnya turun drastis.
"Sekarang ini mestinya high season. Tahun lalu di bulan-bulan ini kita sudah full booking. Sekarang tingkat hunian cuma 50 persen saja. Itu pun yang rata-rata menginap adalah relawan," tutur Akbar kepada detikTravel, Kamis (6/9/2018).
Kondisi lebih parah dirasakan oleh manajemen Hotel Aruna. Hotel dengan kapasitas mencapai 143 kamar, saat ini terpakai hanya 5 kamar.
"Bayangkan, cuma 3 persen saja," keluh Sofyan Hadi, seorang senior sales eksekutif di hotel tersebut.
Menyikapi hal itu, Pemkab Lombok Barat melalui Dinas Pariwisata, berinisiatif untuk menggelar lagi event tahunan Festival Pesona Senggigi.
"Gelaran event ini juga untuk menyuarakan kita sudah bangkit. Kita ingin wisatawan Nusantara maupun mancanegara tahu bahwa Senggigi sudah pulih," ujar Kepala Bidang Promosi Dinas Pariwisata Lombok Barat, Sumarto.
Festival tersebut akan digelar pada tanggal 1-2 Oktober nanti. Untuk kali ini, Pemkab Lombok Barat mengusung tema Rowah Asuh Gumi Paer. Salah seorang anggota Dewan Kesenian Lombok Barat, Lukman, menjelaskan makna tema tersebut.
"Festival kali ini menjadi ritual ruwatan bumi agar Allah SWT senantiasa memberi perlindungan dan memelihara bumi Lombok Barat," paparnya.
Kesenian tradisional Lombok, tarian Gendang Beleq (Ditok Sade/Istimewa) |
"Bahkan kita akan menyelenggarakan juga trauma healing," jelas Lukman.
Fauzan Akbar menyambut baik komitmen Pemkab Lombok Barat. Lebih jauh, manajer pemasaran Kila Hotel itu meminta agar Pemkab bisa segera membersihkan puing-puing bangunan yang menuju destinasi wisata.
"Secara psikis, kita ingin tidak ada lagi bekas-bekas gempa yang menimbulkan trauma itu," ujarnya.
Berikutnya, ia meminta Pemkab Lombok Barat untuk segera memperbaiki fasilitas umum di area destinasi wisata.
"Hal tersebut bisa dilakukan selain dengan melakukan promosi," ungkapnya. (krn/aff)












































Kesenian tradisional Lombok, tarian Gendang Beleq (Ditok Sade/Istimewa)
Komentar Terbanyak
Koster Tepis Bali Sepi, Wisman Naik, Domestiknya Saja yang Turun
Melawai Plaza: Markas Perhiasan Jakarta yang Melegenda Itu Tak Lagi Sama
Tangis Istri Pelatih Valencia Pecah, Suasana Doa Bersama Jadi Penuh Haru