Hal itu diungkapkan oleh Lalu Ahmad Yani yang mewakili pengusaha pariwisata setempat. Ia menyampaikan agar pendakian ke Rinjani segera dibuka pasca gempa lombok melewati jalur alternatif yang berisiko kecil.
"Kedatangan wisatawan, selain membangkitkan ekonomi juga sebagai trauma healing bagi masyarakat," kata Yani saat melakukan dialog dengan Pengusaha Wisata dan Kepala Dusun di Desa Senaru, Lombok Utara, Selasa (25/9/2018).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pemerintah daerah melalui Dinas Pariwisata, segera melakukan komunikasi dengan TNGR sesuai instruksi Menko Maritim di Gili Indah, agar segera memperbaiki jalur dan spot pendakian yang rusak akibat gempa," tutur Bupati Lombok Utara, Najmul Akhyar.
Terkait bagaimana upaya membangkitkan pariwisata di Senaru, bupati memerintahkan kepada dinas pariwisata untuk membuat event guna membangkitkan lagi pariwisata, terutama kunjungan wisatawan ke objek-objek wisata di Kecamatan Bayan.
Kades Senaru, Isa Rahman menyampaikan usulan agar segera dilakukan perbaikan jalan akses menuju Air Terjun Senaru, agar roda perekonomian bisa kembali normal. Permintaan juga dari pelaku usaha lain, nantinya agar pendakian ke Gunung Rinjani dibuatkan semacam aturan adat atau awiq-awiq untuk menertibkan traveler yang akan berkunjung ke sana.
Baca juga: Dear Traveler, Gunung Rinjani Kemungkinan Ditutup Sampai 2020
Sementara itu, terpisah, terkait dengan usulan rencana peraturan adat yang akan diberlakukan bagi traveler yang hendak berwisata di kawasan Gunung https://www.detik.com/tag/gunung/ Rinjani. Masyarakat adat di Lombok Utara merasa tidak diajak dan dilibatkan dalam menjaga kelestarian alam di sana.
"Sebagai bagian dari masyarakat adat, kami tidak pernah dilibatkan dalam hal apapun. Pariwisata di Rinjani harus melibatkan Masyarakat Adat Bayan juga dalam pengambilan kebijakan. Jangan kami masyarakat adat hanya dijadikan objek saja," ungkap Sumadim, divisi hukum di Majelis Pengemban Adat Bayan (Mapan).
Lebih jauh, Sumadim menjelaskan keberadaan tentang masyarakat adat yang erat hubungannya dengan Gunung Rinjani. Hal itu dibuktikan dengan adanya Tiga Meloka penjaga pintu masuk kawasan Rinjani, yaitu Maq Lokaq Senaru dari Jalur Senaru, Mak Lokaq Torean untuk Jalur Torean dan Maq Lokaq Sajang dari Jalur Sembalun.
"Dulu setiap orang yang hendak naik ke Gunung Rinjani harus mendapat izin dari ketiga Maq Lokaq atau pengampu tersebut sesuai dengan jalur pendakiannya, disertai dengan Ritual Toq Lekoq Buaq oleh Mak Lokaq di malam hari dan pagi harinya sebelum berangkat dilaksanakan Ritual Menyembek kepada pendaki. Seiring perjalanan waktu semua hilang oleh pemerintah itu sendiri melalui TNGR," ungkap Sumadim.
Dikatakannya juga bahwa setiap tahun ada saja wisatawan yang meninggal dunia di sana, baik lokal maupun mancanegara. Seharusnya tanggung jawab ketiga Amaq Lokaq untuk melakukan ritual mengasuh gunung yang telah dikotori wisatawan.
"Masih banyak nilai-nilai kearifan lokal yang hilang di Rinjani ini," ujar Sumadim.
Diketahui, Menko Maritim Luhut Binsar Pandjaitan ikut menghadiri Rapat Koordinasi Percepatan Normalisasi Pariwisata Pasca Bencana Gempa Lombok. Rapat ini diadakan di Gili Trawangan, Minggu (16/9) lalu. (msl/fay)












































Komentar Terbanyak
Bisa-bisanya Predator Seks Pati Ngaku Lagi Jalani Ritual di Makam Raden Gunungsari
Pesawat Garuda Berputar-putar 4,5 Jam di Langit India, Terhalang Uji Coba Rudal
Bukan Cuma Riau, Ini Deretan Kota Penghasil Minyak Bumi Terbesar di Nusantara