Menpar Ajak Media Jaga Citra Pariwisata

Yuk ceritain perjalananmu dan bagikan foto menariknya di sini!
bg-escape

Menpar Ajak Media Jaga Citra Pariwisata

Moch Prima Fauzi - detikTravel
Kamis, 25 Okt 2018 21:20 WIB
Menpar Ajak Media Jaga Citra Pariwisata
Foto: Dok Kemenpar
Jakarta - Bencana yang melanda Indonesia tak hanya memberi dampak kerusakan pada infrastruktur warga, namun juga sektor pariwisata. Selama terjadinya bencana, Menteri Pariwisata Arief Yahya ingin agar media yang meliput bencana menjadi pelindung bagi sektor pariwisata.

Ia mencontohkan media di Thailand dengan pemerintahnya. Menurut Arief kedua pihak bersinergi agar citra negaranya tetap baik di mata internasional.

"Pemerintah mereka itu juga committed banget. Saya kasih contoh media di sana juga menjaga sekali pemberitaan buruk negaranya. Kalau ada kudeta juga mereka cepat sekali kan mengatasinya. Mereka juga sudah paham pentingnya pemberitaan di negaranya itu," kata Arief dalam keterangan tertulis, Kamis (25/10/2018).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT



Saat menggelar focus group discussion (FGD) "Pencanangan Gerakan Jurnalisme Ramah Pariwisata" di Hotel Sari Pan Pasific Jakarta, Rabu (24/10), Arief mengajak seluruh media untuk ikut berkolaborasi dengan Kemenpar.

Saat ini, kata dia, media telah dianggap menjadi guardian pariwisata Indonesia terlebih di era digitalisasi di mana semua informasi bisa didapat dengan mudah.

"Arus informasi di tengah kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tak dapat dibendung. Setiap orang dengan mudah mendapatkan dan berbagi informasi yang tingkat kebenarannya belum pasti. Informasi hoax, horor, menakutkan beredar setiap saat dan memiliki daya rusak yang kuat terhadap ekosistem pariwisata. Ini harus ditangkal. Dan ini merupakan tugas media sebagai pengawal pariwisata Indonesia. Karena kalau hoax berlanjut yang dirugikan adalah kita semua," katanya.



Sementara itu tampil sebagai salah satu pembicara, Kepala Pusat Data, Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan dirinya telah mengetahui dengan serangan berita bohong atau hoax. Menurutnya, hoax biasanya muncul pascabencana terjadi. Ia sendiri telah mengetahui dari mana hoax tersrbut berasal.

"Ini asalnya dari luar. Dari pesaing-pesaing pariwisata Indonesia. Mereka mengambil kesempatan sehingga pariwisata kita sepi. Ini sudah saya cross cek langsung dengan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN). Karena itu, klarifikasi soal hoax menjadi sesuatu yang bersifat segera untuk dilakukan," imbuh Sutopo.

"Kami sudah hafal betul itu. Saat terjadi bencana seperti gempa, gunung meletus atau tsunami berita bohong atau hoax muncul. Dan ini jelas merugikan pariwisata Indonesia," lanjutnya.

Sementara itu Staf Khusus Menteri Pariwisata Bidang Komunikasi dan Media Don Kardono menjelaskan besarnya peran media untuk menangkal pemberitaan yang merugikan.

"Banchmark-nya tidak perlu jauh. Negara pesaing seperti Thailand dan Malaysia telah melakukan itu. Salah satu kunci keberhasilan pariwisata mereka, karena kuatnya dukungan media dalam memberikan persepsi positif. Khususnya terhadap kejadian negatif yang dapat merugikan industri pariwisata mereka," kata dia.

"Kalau ini bisa kita lakukan, pariwisata nasional akan cepat maju. Di sini dibutuhkan kepiawaian para jurnalis dalam membuat lead berita yang negatif agar dapat memberikan persepsi positif," imbuhnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, saat ini Indonesia telah menetapkan sektor pariwisata sebagai prioritas dan core economy negara. Pariwisata diproyeksikan menjadi penyumbang devisa nomor satu di Indonesia. Untuk itu, menurutnya, ekosistem pariwisata harus diupayakan tumbuh, hidup, dan berkembang dalam iklim yang aman, nyaman, dan kondusif sehingga memberi upaya besar terhadap citra negara dan pencapaian target kinerja pariwisata.

"Dan ini merupakan tugas kita bersama terlebih lagi media sebagai salah satu garda terdepan pariwisata Indonesia," ungkapnya.

(mul/mul)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads