Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 11 Nov 2018 13:40 WIB

TRAVEL NEWS

November Ini, Festival Suar Teja Raboran Akan Digelar di Sumbawa

Harianto Nukman
detikTravel
Foto: Pawai Budaya Sumbawa (dok Dispar Sumbawa)
Foto: Pawai Budaya Sumbawa (dok Dispar Sumbawa)
Sumbawa - Liburan ke Sumbawa, traveler tak hanya bisa menikmati keindahan alamnya. Tapi juga festival budaya yang begitu menarik.

Pariwisata di Kabupaten Sumbawa, Nusa Tenggara Barat tengah menggeliat. Dinas Pariwisata di sana sedang menyiapkan beberapa event yang memadukan atraksi seni dan budaya di beberapa spot wisata di Kecamatan Moyo Hulu.

Dihubungi detikTravel, Kadispar Kabupaten Sumbawa, H Junaidi menjelaskan bahwa pihaknya bulan November tahun 2018 ini tengah melangsungkan event Suar Teja Raboran (Sutera 2018).

"Pergelaran Suar Teja Raboran merupakan upaya pelestarian tradisi dan budaya lokal masyarakat Sumbawa. Event ini juga berupaya mengakomodir para pelaku, pegiat dan pemerhati seni di Kecamatan Moyo Hulu," terang H Junaidi, Minggu (11/11/2018).

Event ini diselenggarakan untuk memberi ruang apresiasi kepada pelaku seni untuk berkreasi dan mengekspresikan diri menjadi sebuah sajian hiburan atraksi yang menarik dan memiliki cita rasa seni.

Selain itu, H Junaidi juga menjelaskan, Sutera 2018 bertujuan untuk memperkenalkan potensi pariwisata di Kecamatan Moyo Hulu. Untuk diketahui bahwa Moyo Hulu memiliki objek wisata seperti Sarkofagus (situs megalitikum) Air Terjun Ai Beling, Liang Bukal, dan Bendungan Batu Bulan.

Lebih jauh, ketua panitia penyelenggara event ini, Randal Patisamba menjelaskan, Suar Teja Raboran 2018 sebagai manifestasi dari nilai-nilai budaya, kesejarahan, perjuangan, kesatuan, humanisme, romansa dan gotong royong yang diharapkan menjadi penyemangat dan mampu memberi pencerahan serta inspirasi kepada Tau Tana Samawa.

Sutera 2018 ini juga ingin mengajak pemuda pemudi dan masyarakat untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap kekayaan khasanah budaya daerah, sehingga tertanam rasa memiliki terhadap nilai-nilai kebudayaan lokal yang ada.

"Selain sebagai moment silaturrahim, event Suar Teja Raboran harus mampu menggali nilai-nilai budaya dan tradisi yang ada serta mengangkat kembali adat budaya yang mulai hilang dalam tatanan kehidupan kita sebagai Tau Samawa," ungkap Randal Patisamba.

Raboran sendiri merupakan sebuah pegunungan di wilayah Kecamatan Moyo Hulu. Dulunya, tempat ini dijadikan sebagai padepokan, yakni tempat penggemblengan para pejuang kemerdekaan di Sumbawa.

Di tempat itu para laskar Raboran ditempa dan dilatih oleh Sandro Acin yang merupakan pimpinan mereka. Sandro Acin yang terkenal dengan julukan Acin Raboran memiliki kemampuan dan kesaktian. Ilmu dan kesaktian inilah yang ditularkan kepada para pengikutnya. Di gunung Raboran juga terdapat situ megalitikum berupa kuburan batu peninggalan masa prasejarah.

Nah, pada event Sutera 2018 ini, akan diisi dengan berbagai kegiatan, di antaranya Pawai Budaya. Pawai budaya merupakan karnaval seni budaya yang akan diikuti oleh kontingen kesenian sekolah, beberapa Oraganisasi Perangkat Daerah dan desa se-Kecamatan Moyo Hulu.

Adapun tema pawai budaya tahun ini adalah mengangkat cerita atau legenda rakyat Tutir. Kegiatan adat budaya Samawa dan permainan tradisional anak. Pelaksanaan pawai budaya sekaligus menjadi acara pembukaan rangkaian Suar Teja Raboran pada hari Minggu 11 November 2018 di Lapangan Sepakbola Dusun Pelita, Desa Mokong.

Pada tanggal yang sama event pawai budaya dirangkai dengan Sepeda Tour D'Sutera yang akan diikuti oleh berbagai komunitas dan klub sepeda yang ada di Kabupaten Sumbawa dan Sumbawa Barat. Rencananya start dari Kantor Camat Moyo Hulu dan finish di Kawasan wisata Liang Bukal. Rute sepeda ini melewati Kawasan wisata yang ada di Moyo Hulu, salah satunya Bendungan Batu Bulan.

Event berikutnya yaitu Gelar Seni dan Budaya. Materi pagelaran seni budaya menampilkan kolaborasi unsur kesenian, tradisi, budaya, permainan rakyat atau bisa juga perpaduan unsur kesenian budaya seperti Qasidah Rebana, Rabalas Lawas, Bagonteng, Sakeco, Ratib, Ngumang dan Tari kreasi baru yang dikemas semenarik mungkin. Pentas Seni budaya dilaksanakan selama 4 malam pada 12-16 November.

Tarian Ngasak Rame (dok Dispar Sumbawa)Tarian Ngasak Rame (dok Dispar Sumbawa)
Selanjutnya event Sedekah Lawang Agung, yaitu sebuah tradisi ungkapan rasa syukur masyarakat Desa Pernek untuk memohon keselamatan dan kesejahteraan kepada Allah. Acara ini dilaksanakan pada sore hari yang diisi dengan memberi makan anak-anak di Kampung Pernek.

Rencananya akan ada bazar kuliner tradisional dan pameran hasil kerajinan UMKM Desa Pernek dan Moyo Hulu pada 16 November di Lapangan Sepakbola Desa Pernek.

Berikutnya Rantok Rama. Rantok atau alat penumbuk padi tradisional Suku Samawa. Rama berarti ramai atau masal. Jadi Rantok Rama merupakan sebuah acara membunyikan Rantok menggunakan antan yang disebut Baguntung.

Baguntung biasa dilakukan oleh kaum wanita pada saat menumbuk padi. Acara ini merupakan bagian dari kegiatan proses daur hidup masyarakat Sumbawa. Tradisi ini juga menjadi bagian dari prosesi perkawinan adat Sumbawa.

Atraksi Baguntung akan dikemas secara kolosal dan dipadukan dengan atraksi kesenian daerah lainnya seperti Badede dan Ngumang. Acara dilaksanakan 14 November di kawasan Bendungan Batu Bulan pada Rabu sore.

Event ini ditutup dengan pelbagai pagelaran yang menyajikan atraksi kesenian yang dikemas dalam kolaborasi yang unik dan sangat menarik.

Malam penutupan itu akan menampilkan pagelaran seni budaya yang mengangkat cerita rakyat dan atraksi seperti Rabalas Lawas, Sakeco, Ngulang, Ratib dan kolaborasi musik tradisional pada 17 November di halaman Kantor Camat Moyo Hulu.

(dok Dispar Sumbawa)(dok Dispar Sumbawa)
(krn/krn)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED