Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 30 Nov 2018 17:10 WIB

TRAVEL NEWS

Redam Zero Dollar Tour, Kemenpar Gaet Wisman China di CITM

Mustiana Lestari
detikTravel
Foto: Johanes Randy
Foto: Johanes Randy
Jakarta - Sebanyak 107 negara mengikuti gelaran China Internasional Travel Mart (CITM) 2018 di Shanghai New International Expo Center (SNIEC), 16-18 November. Negara-negara tersebut mengincar wisatawan China yang dikenal rajin ke luar negeri.

Menteri Pariwisata Arief Yahya mengatakan, CITM 2018 memiliki potensi mendatangkan devisa negara sebesar USD 55,1 juta. Bahkan, Kementerian Pariwisata (Kemenpar) berusaha membidiknya melalui program business to business dan business to consumer.

"Seperti Indonesia, negara lain pun tertarik dengan CITM 2018. Tak heran, kali ini pesertanya membeludak. Padahal, tahun lalu hanya diikuti 50 negara, dan 30 negara pada tahun 2016," ujarnya dalam keterangan tertulis, Jumat (30/11/2018).



Dengan banyaknya partisipasi negara-negara tersebut, Arief semakin yakin bahwa market di sini sangat menjanjikan. Selain pesertanya yang meningkat dua kali lipat, jumlah target transaksinya pun naik signifikan dari tahun sebelumnya. Wajar saja jika kemudian CITM 2018 membidik 70.000 pengunjung dan 2.000 exhibitors.

Dari Indonesia, Kemenpar melibatkan 40 industri dan 10 Dispar. Ada dua maskapai yang memperkuatnya, yaitu Garuda dan Sriwijaya. Untuk travel agent/tour operator, sedikitnya ada 27 nama yang berasal dari 10 provinsi.

Karena itu, Arief sangat menyayangkan adanya polemik berkepanjangan terkait Zero Dollar Tour. Sebab, dampaknya sangat serius terhadap kunjungan wisman ke Bali. Padahal, berdasarkan Online Travel Agent (OTA) terbesar di China, Bali menduduki peringkat 1, The Best Honeymoon Destination 2018.

Untuk menempatkan Bali pada posisi seperti sekarang, tentu bukan hal mudah. Arief bahkan harus melakukan strategi promosi untuk pasar China dengan kombinasi Branding, Advertising, dan Selling (BAS). Menurutnya sayang sekali jika kemudian reputasi Bali digerus dengan polemik Zero Dollar Tour.

"Saya sudah ingatkan, jangan biarkan gaduh berkepanjangan. Pariwisata itu industry hospitality, bisnis yang mengedepankan keramah-tamahan. Kalau masalahnya business to business, selesaikan di level asosiasi," tegasnya.



Arief khawatir, situasi ini akan dimanfaatkan atau ditunggangi oleh kompetitor Bali dan sekaligus kompetitor Wonderful Indonesia. Para kompetitor bisa saja memprovokasi agar turis China tak lagi ke Bali dan berbelok ke negara lain. Karena itu, semua harus cerdas menyikapi permasalahan ini. Arief berpesan agar tak membiarkan kegaduhan ini merusak iklim industri pariwisata Indonesia.

Untuk mengantisipasi kemungkinan terburuk, Arief sudah berkoordinasi dengan Association of The Indonesian Tour and Travel Agencies (ASITA) agar bertemu dengan China National Tourism Association (CNTA), dan membuat "White List Tour Agencies - Tour Operators."

"Kedua belah pihak harus sama-sama membuat daftar atau meregistrasi TA-TO, sehingga mudah mengontrolnya ketika ada keluhan. Saya pikir ini cara paling halus dan paling bijak untuk menyelesaikan masalah Zero Dollar Tour di Bali. Ibarat menangkap ikan, kita tidak harus membuat airnya keruh. Masing-masing asosiasi bisa saling mengontrol anggotanya untuk menjaga iklim bisnis yang baik," tandasnya.

Sementara itu, Dubes RI untuk China Djauhari Oratmangun mengatakan pariwisata itu tidak ada perang. Semua senang, semua gembira. Bahkan, USA saja bangun booth besar di arena CITM 2018 meskipun mereka sedang terlibat perang dagang dengan China.

Djauhari mengungkapkan ada 150 juta outbounds China dan terus naik setiap tahunnya. Mereka memiliki capital, hobi belanja dan makan. Mereka juga penggemar pantai, wisata bahari dan budaya. Selama ini, ia pun berkreasi untuk menarik wisatawan China ke Indonesia.

"Kita jangan sampai kalah dengan negara-negara tetangga. Mereka sangat aktif dan agresif mempromosikan destinasinya. Contohnya Thailand yang menjadi sparing partner dan sekaligus "musuh" profesional. Malaysia juga pernah punya masalah dengan China, tapi mereka cepat menuntaskan itu. Tanpa harus gaduh," tukasnya.

Negara Asia lain yang perlu dicontoh ada Hong Kong dan Macau. Keduanya berusaha keras dan melakukan promosi pariwisata besar-besaran untuk mencari pasar China. "Semua memburu pasar China!" pungkasnya.

Adapun negara-negara yang hadir pada gelaran CITM 2018 antara lain dari Afrika ada Gambia, Kenya, Marocco, Zimbabwe dan Afrika Selatan. Dari Amerika ada Brazil, Canada, Chile, Mexico, Peru dan United States.

Kemudian dari benua Eropa, antara lain ada Prancis, Jerman, Belanda, Denmark, Italia, Rusia, Spanyol, Norwegia, Polandia, Switzerland, dan lain-lain. Sementara dari Asia sendiri, selain Indonesia ada Malaysia, Singapore, Jepang, Thailand, Myanmar, Laos, Srilanka, Korea, dan lain-lain. Termasuk juga India, Pakistan dan Turki. Tak ketinggalan ada pula Australia. (mul/mpr)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED