Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 12 Feb 2019 16:50 WIB

TRAVEL NEWS

Bandara Husein: Dibuat Belanda, Diambil Jepang, Kini Komersial

Robi Setiawan
detikTravel
Bandara Husein/ Foto: Avitia Nurmatari
Bandara Husein/ Foto: Avitia Nurmatari
Jakarta - Bandar Udara (Bandara) Internasional Husein Sastranegara telah menjadi salah satu gerbang utama transportasi udara di Bandung, bahkan Jawa Barat. Bandara yang tidak terlalu besar ini, cukup sibuk karena menghubungkan kota besar, Bandung dengan daerah lainnya.

Dirangkum dari berbagai sumber, Bandara Internasional Husein Sastranegara dibuat oleh Belanda pada 1920. Mulanya bandara tersebut dibangun dengan nama Luch Waart Afleding. Kemudian setelah 1942 lapangan bandara tersebut diambil alih oleh Jepang sampai 1945.


Setelah Indonesia merdeka 1945, bandara tersebut sempat vakum atau tidak beroperasi sampai 1949. Kemudian pada 1969 bandara diambil alih oleh Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) untuk digunakan sebagai pangkalan militer sampai 1973. Mulai 1974, bandara ini pun resmi menjadi bandara komersial.

Selanjutnya pada 1983 berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan Nomor: KM 68/HK 207/PHB-83 tanggal 19 Februari 1983, klasifikasi Pelabuhan Udara ditingkatkan dari kelas III mejadi kelas II.

Pada 1994 dilaksanakan Pengalihan Pengelolaan Bandar Udara dari Departemen Perhubungan kepada PT Angkasa Pura II sesuai PP RI Nomor 26 Tahun 1994 tanggal 30 Agustus 1994 tentang Penambahan Penyertaan modal Negara RI ke dalam Modal sahan PT Angkasa Pura II.

Sebagai bandara komersial utama di Kota Bandung, fasilitas Bandara Internasional Husein Sastranegara sudah lengkap, termasuk transportasi. Grab sebagai salah satu transportasi andalan di bandara ini bahkan mencatat ada lebih dari 100 ribu perjalanan ke Bandara Internasional Husein Sastranegara.


Marketing Director Grab Indonesia, Mediko Azwar mengatakan tingginya angka pesanan menuju bandara ini menunjukkan bahwa Grab menjadi sarana transportasi intermoda, yang memberikan opsi praktis dan efisien bagi para pengguna jasa angkutan udara.

"Pencapaian pada tahun 2018 ini memacu Grab sebagai O2O mobile platform terkemuka di Indonesia untuk meningkatkan pengalaman pelanggan kami dalam memajukan industri pariwisata di Indonesia pada 2019," ujar Mediko seperti dikutip dalam laman resmi Grab, Selasa (12/2/2019). (ega/fay)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED