Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 16 Apr 2019 13:20 WIB

TRAVEL NEWS

Rahasia Sukses Wisata Banyuwangi: Tak Boleh Ada Hotel Melati

Ahmad Masaul Khoiri
detikTravel
Ilustrasi Banyuwangi (Rachman Haryanto/detikcom)
Ilustrasi Banyuwangi (Rachman Haryanto/detikcom)
Jakarta - Wisata Banyuwangi yang kini menanjak, tak terjadi sekilas. Perlu perjalanan menahun hingga adanya larangan membangun hotel bintang 3 ke bawah atau melati.

Namun, kebijakan pemerintah Kabupaten Banyuwangi itu bukan tanpa alasan. Ada beberapa aspek yang dipertimbangkan dalam setiap pengelolaannya.

1. Larangan hotel kelas melati

"Akomodasi tetap kami dorong. Hotel melati tidak boleh, hanya bintang 3 ke atas. Karena itu ceruk untuk masyarakat," jelas Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas dalam sebuah diskusi di Jakarta, Senin (16/4/2019).

"Hotel baru itu pun harus ada identitas dan ornamen lokal. Peradaban lokal juga harus tumbuh dan kita poles sedikit Banyuwangi dengan kreativitas maka akan bisa berkembang," imbuh dia.

Kemudian, Anas menjelaskan bahwa adanya event harus dibarengi 3A (amenitas, akses dan atraksi). Meski ada bandara, kata dia, dan nggak ada atraksi maka orang pun nggak mau datang. Tapi meski ada atraksi nggak ada hotel orang juga nggak mau datang, jadi tiga-tiganya harus bersamaan.


"Soal hotel, kami ini di Banyuwangi belajar ke tetangga sebelah, kami tidak buka obral izin hotel. Kalau tidak nanti bakal ada persaingan tarif tidak sehat," ucap dia.

Maka, di Banyuwangi pernah dilakukan moratorium pembangunan hotel selama hampir 2 tahun. Karena, hotel yang pemerintah izinkan belum selesai dibangun. Jadi, pihaknya hanya mengizinkan pembangunan hotel setelah yang diizinkan selesai dibangun, beroperasi barulah dibuka izin hotel baru.

"Karena kalau nanti dengan dan atas nama investasi hotel dibuka sembarangan pada waktu pengunjungnya belum terbentuk kasihan nanti akan ada perang tarif. Maka hotelnya murah-murah harganya nanti," tegas dia.

Kawah IjenKawah Ijen (Dienul/d'Traveler)

2. Pemberdayaan homestay masyarakat

Sekarang di Bayuwangi hanya ada hotel bintang 3 ke atas. Homestay-homsetay yang ada di sana pun dimiliki masyarakat setempat.

"Homesaty kami totalnya 540-an. Jadi perbandingan homestay kami lebih banyak. Karena, yang melati itu kami hold, karena sekali bikin 50 kamar tapi yang homestay ini 3-4 kamar tapi orang desa bisa hidup," jelas dia.

"Karena, cost-nya tidak ada penjaga ya, dari masyarakat sendiri. Dan itu sekarang bisa diakses lewat media online untuk mencarinya," imbuh Anas.

Berpa jumlah hotel bintang 3 ke atas di Banyuwangi? Kata Anas, jumlahnya cukup banyak, ada yang 200 kamar dan ada yang menambah 50 kamar lagi dengan jumlah total amenitas ada 3.000-an.

"Yang bintang 3 ke atas kira-kira 1500-an," jelas dia.


3. Jumlah kunjungan

Akomodasi tak pernah lepas dengan okupansinya. Lalu berapa jumlah wisman yang berkunjung ke sana?

"Itu dari 5.000 menjadi 102.000. Tumbuhnya pesat sekali. Itu kira-kira 5 tahun. Kebanyakan mereka dari Eropa karena mereka suka gunung. Kalau Australia itu suka pantai. Karena ada Ijen dan rata-rata ke sana. Pintu masuknya dari Jakarta juga sekarang ada direct dari Surabaya," tukas Anas.

Kini, wisatawan asing dan domestik yang datang ke Banyuwangi sudah tinggal lebih lama. Bahkan ada beberapa yang tinggal selama setengah bulan.

"Dulu lenght of stay-nya cuma semalam. Sekarang sudah dua malam. Bahkan sekarang ketika mereka tahunya bukan hanya Ijen, mereka tahu atraksi ada yang sampai setengah bulan di Banyuwangi. Bahkan ada yang bolak-balik dari luar negeri setahun 3-4 kali," kata dia.

Lalu berapa jumlah wisatawan domestik? Dikatakan Anas bahwa, dulu, beberapa tahun lalu kunjungannya hanya 600.000 dan sekarang menjadi 5,3 juta orang yang tertarik ke destinasi unggulan, seperti Kawah Ijen, Taman Nasional Baluran, Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Alas Purwo hingga snorkeling di G Land.

4. Wisata halal

Tak hanya itu, Banyuwangi secara tidak langsung juga menerapkan wisata halal. Anas lalu memberkan cara-caranya. Apa itu?

"Jadi begini, di Banyuwangi wisata halal sudah halal semua. Maka brand tidak harus brand halal tapi kami membuat cara-cara bagaimana wisata halal itu tumbuh. Contoh, setiap hotel di Banyuwangi karena muslimnya banyak kami tidak izinkan wisata hiruk pikuk. Maka segmentasi Banyuwangi wisata alam," jelas dia.

Konsekuensinya, pemerintah tidak mengizinkan hotel-hotel memiliki tempat karaoke dan tempat hiburan. Dan itu sudah menjadi perjanjian tidak tertulis.

"Kalau ada karaoke dan tempat hiburan, izinnya nggak keluar. Kenapa, menjaga segmentasi pasar. Nah sebenarnya masuk halal tadi tapi nggak dimunculin kayak NTB. Ini soal strategi dan ternyata nggak ada korelasi hiburan malam dengan tumbuhnya wisatawan," urai dia.


Simak Juga 'Mengenal Berbagai Budaya di Banyuwangi Ethno Carnival':

[Gambas:Video 20detik]

(msl/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA