Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 07 Jul 2019 16:10 WIB

TRAVEL NEWS

Sawahlunto Jadi Warisan Dunia, Indonesia Makin Pede Datangkan Wisman

Nurcholis Ma'arif
detikTravel
Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto/ Foto: Dok Kemenpar
Tambang Batu Bara Ombilin Sawahlunto/ Foto: Dok Kemenpar
Jakarta - UNESCO menetapkan bekas tambang batu bara Ombilin Sawahlunto sebagai warisan dunia. Kementerian Pariwisata menyambut positif kabar tersebut.

Deputi Bidang Pengembangan Industri dan Kelembagaan Kementerian Pariwisata (Kemenpar), Ni Wayan Giri Adnyani berharap akan ada dampak susulan dengan meningkatnya kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Sawahlunto.

"Pengakuan internasional ini akan meningkatkan kepercayaan, kredibilitas, dan kalibrasi bagi destinasi wisata Indonesia. Untuk bisa lolos dan menembus UNESCO tentu melewati kurasi dengan standar dunia. Artinya standar Sawahlunto adalah standar UNESCO dan Indonesia bisa semakin percaya diri bersaing mendatangkan wisatawan," kata Giri dalam keterangannya, Minggu (7/7/2019).

Menurutnya, Sawahlunto sebagai destinasi wisata memiliki nilai sejarah kuat sebagai kota tambang batu bara pertama di Indonesia peninggalan zaman Belanda. Kota Sawahlunto juga memiliki daya tarik keindahan dikelilingi pegunungan hijau dan masih banyak bangunan peninggalan Belanda.

"Sawahlunto kini dapat menjadi destinasi pilihan wisman dan wisnus ke Sumatera Barat. Sawahlunto kini bisa sangat menjual seperti banyak destinasi wisata di Sumatera Barat seperti Danau Singkarak, Kota Padang, Mentawai, Ngarai Sianok, dan Bukittinggi," jelasnya.


Lanjut Giri, jumlah kunjungan wisman ke Sumatera Barat dari data BPS kurun waktu Januari-Mei 2019 tercatat hampir 25.000 wisatawan. Wisman yang datang masih didominasi turis asal Malaysia. Ke depannya, turis-turis asing lain dari Asia dan Eropa bisa lebih banyak lagi tertarik mengunjungi Sawahlunto.

"Dengan masuknya dalam situs warisan dunia UNESCO, artinya Sumatera Barat semakin kaya potensi pariwisatanya. Ada sport tourism Tour de Singkarak, wisata halal juga tersedia, dan punya situs warisan dunia," pungkasnya.

Sementara itu Menpar Arief Yahya turut mengucapkan selamat atas pencapaian Sawahlunto yang baru saja ditetapkan sebagai situs warisan dunia. menurutnya, Kota Sawahlunto merupakan satu dari banyak permata yang siap naik pentas di panggung pariwisata nusantara. Kota mungil ini memang sudah menjadi buah bibir berkat polesan cantik di kawasan kota tuanya.

"Kalau sudah menjadi heritage site UNESCO, Sawahlunto yang disebut sebagai 'Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto' itu lebih mudah dipromosikan karena sudah diakui dunia. Kita akan terus promosikan Sawahlunto," jelas Arief.

Sebelumnya, Arief juga mengatakan tak pernah bosan mempromosikan potensi Indonesia secara langsung di markas UNESCO. Tahun lalu, Indonesia juga telah sukses mencatatkan dua geoparknya masuk dalam daftar UNESCO Global Geopark (UGG), yakni Rinjani Lombok di Nusa Tenggara Barat dan Ciletuh Sukabumi di Jawa Barat.

"Dalam framework pengembangan destinasi itu kami selalu menggunakan konsep 3A, atraksi, akses, dan amenitas. Dan jika ingin menjadi global player, harus menggunakan global standard. Kemenpar akan terus ikut membantu pengembangan pariwisata Sawahlunto. Makanya kita pun selalu memberikan dukungan berbagai atraksi pariwisata di sana," ujar Arief.

Sementara itu Direktur Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Nadjamuddin Ramly mengatakan Sawahlunto merupakan warisan budaya dunia kelima yang dimiliki oleh Indonesia.


Ramly mengatakan Indonesia sudah memiliki empat warisan dunia kategori alam yakni Taman Nasional Komodo (1991), Taman Nasional Lorentz (1999), Hutan Tropis Sumatera (2004), dan Taman Nasional Ujung Kulon (1991). Kemudian empat warisan dunia kategori budaya, yaitu Candi Borobudur (1991), Candi Prambanan (1991), Situs Sangiran (1996), dan sistem Subak di Bali (2012).

Nadjamuddin menjelaskan Kota Sawahlunto dimasukkan ke dalam daftar sementara warisan dunia kategori budaya pada 2015. Sejak saat itu, proses pengumpulan data, penyusunan dokumen pendukung, dan diskusi panjang dengan para ahli dan akademisi dari dalam dan luar negeri makin intensif dilakukan.

"Sampai pada akhirnya muncul usulan agar memperluas tema nominasi untuk memperkuat Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value)," kata Nadjamuddin dalam keterangannya, Minggu (7/7/2019).

Menurutnya, perluasan tema nominasi ini berimplikasi pada perluasan wilayah nominasi dengan menggabungkan beberapa kota atau kabupaten, yaitu Kota Padang, Kota Padang Panjang, Kota Solok, Kabupaten Solok, Kabupaten Padang Pariaman, Kabupaten Tanah Datar di Sumatera Barat ke dalam satu wilayah nominasi yaitu "Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto".

"Adapun pengajuan kriteria 'Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto' yang menjadi Nilai Universal Luar Biasa (Outstanding Universal Value) adalah kritera dua dan empat," tambah Nadjamuddin.

Kriteria dua adalah tentang adanya pertukaran penting dalam nilai-nilai kemanusiaan sepanjang masa atau dalam lingkup kawasan budaya, perkembangan arsitektur dan teknologi, seni monumental, perencanaan kota, dan desain lanskap. Sedangkan kriteria empat adalah tentang contoh luar biasa dari tipe bangunan, karya arsitektur dan kombinasi teknologi atau lanskap yang menggambarkan tahapan penting dalam sejarah manusia.

Nadjamuddin mengatakan dalam keterkaitannya dengan kriteria dua, keunikan tambang Ombilin itu menunjukkan adanya pertukaran informasi dan teknologi lokal dengan teknologi Eropa terkait dengan eksploitasi batu bara di masa akhir abad ke-19 sampai dengan masa awal abad ke-20 di dunia, khususnya di Asia Tenggara.

"Dalam hal ini, keunikan tambang batu bara Ombilin di Sawahlunto menunjukkan contoh rangkaian kombinasi teknologi dalam suatu lanskap kota pertambangan yang dirancang untuk efisiensi sejak tahap ekstraksi batubara, pengolahan, dan transportasi. Sebagaimana yang ditunjukkan dalam organisasi perusahaan, pembagian pekerja, sekolah pertambangan, dan penataan kota pertambangan yang dihuni oleh sekitar 7.000 penduduk," paparnya.

Nadjamuddin juga menambahkan bahwa pengajuan draf awal dokumen nominasi dengan perubahan nama usulan menjadi "Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto" ke pusat warisan dunia UNESCO dilakukan pada 30 September 2016. Hal itu kemudian dilanjutkan dengan revisi berulang kali sehingga sampai dengan pengiriman naskah nominasi final pada akhir Januari 2018.

"Naskah tersebut akhirnya dinyatakan lengkap dan selanjutnya dievaluasi kelayakannya menjadi warisan dunia oleh ICOMOS. ICOMOS merupakan Badan Penasehat Pusat Warisan Dunia UNESCO kategori budaya," ujarnya.


Tahap evaluasi tersebut melalui beberapa tahap. Mulai dari evaluasi lapangan, permintaan dokumen informasi tambahan yang pertama, wawancara telekonferensi, dan permintaan dokumen informasi tambahan yang kedua. Setelah hasil evaluasi ICOMOS terbit, maka muncul permintaan baru agar Pemerintah Indonesia memeriksa hasil rekomendasi ICOMOS tersebut dan mengirimkan informasi kesalahan faktual dari hasil rekomendasi tersebut ke UNESCO.

"Ada beberapa catatan yang harus diselesaikan sebelum batas waktu 1 Desember 2021. Setelah penetapan status Warisan Dunia UNESCO, diharapkan semua pihak terkait 'Ombilin Coal Mining Heritage of Sawahlunto' dapat bekerja sama untuk tetap mempertahankan status warisan dunia UNESCO," harap dia. (ega/ega)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA