Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Jumat, 12 Jul 2019 13:10 WIB

TRAVEL NEWS

Sampah Bungkus Cokelat Masih Utuh, Kedaluwarsa Tahun 1986

Afif Farhan
detikTravel
Foto: (Instagram)
Foto: (Instagram)

FOKUS BERITA

Bumi Rumah Kita
Jakarta - Sampah plastik akan sulit terurai dan merusak lingkungan. Seperti baru-baru ini, ditemukan sampah bungkus cokelat yang masih utuh berusia puluhan tahun.

Sampah plastik membutuhkan waktu yang sangat lama untuk terurai di alam. Sampah plastik pun sudah menjadi 'musuh' yang harus diperangi, karena bisa merusak lingkungan sampai membunuh hewan.

BACA JUGA: Dikira Makanan, Burung Ini Kasih Puntung Rokok ke Anaknya

Baru-baru ini dirangkum detikcom pada Jumat (12/7/2019), berbagai organisasi pecinta lingkungan di seluruh dunia memposting foto yang memilukan. Suatu sampah plastik yang ditemukan di lautan (tidak dijelaskan lokasinya), berupa bungkus cokelat merk 'Mars'.

Ketika dilihat, tanggal kedaluwarsanya yakni 27-09-86. Artinya, cokelat itu kedaluwarsanya di tahun 1986!



Sampah bungkus cokelatnya masih terlihat utuh. Selama ini, bisa jadi sampah plastik tersebut mengambang terombang-ambing di lautan. Duh!

detikcom pernah mewawancarai DR-Ing Widodo S Pranowo, Ketua Laboratorium Data Laut dan Pesisir, Pusat Riset Kelautan KKP. Menurutnya, sampah lastik di lautan sudah menjadi masalah global.

"Problem global saat ini yang krusial dihadapi manusia di bumi adalah sampah plastik dan perubahan iklim-laut," ujar Widodo.

Widodo menambahkan bahwa sampah plastik di laut punya banyak macam dengan berbagai kualitas dan bahan. Sehingga ada yang cepat terdegradasi menjadi mikroplastik dan ada yang membutuhkan lebih lama. Bahkan ada yang bisa lebih dari 100 tahun untuk terdegradasi.

Rupanya sampah makroplastik yang terdegradasi menjadi mikroplastik memiliki dampak tersendiri. Ini akan membuat densitas massa air di samudera menjadi lebih kental karena penuh dengan larutan mikroplastik.

"Aliran massa air global tersebut sering disebut sebagai The Conveyor Belt Global Current atau dikenal sebagai Atlantic Meridinal Overturning Current (AMOC). Sehingga bisa saja mikroplastik dari seluruh lautan dan samudera suatu saat bisa saling bertemu berkumpul satu sama lain," jelas Widodo.

AMOC adalah aliran arus laut dari area tropis yang lebih hangat ke utara. Sampah mikroplastik tersebut dimungkinkan terbawa aliran arus di kolom air permukaan. Kemudian bisa saja teralirkan ke lapisan kolom massa air yang lebih dalam, sesuai dengan lintasan the conveyor belt global current tersebut.

BACA JUGA: 22 Kilogram Sampah Plastik Ditemukan di Bangkai Paus Ini

Bahkan, sampah-sampah plastik di lautan juga berbahaya bagi manusia. Jika sampah-sampah plastiknya termakan ikan, maka kandungan gizi di dalam ikan sudah tercemar oleh bahan kimia dari sampah-sampah plastiknya.

BACA JUGA: Makan Ikan Biar Pintar, Kalau Ikan Mengandung Plastik Bagaimana?



Simak Video "Tak Kunjung Diteken Anies, Sampah Plastik Masih Hantui DKI"
[Gambas:Video 20detik]
(aff/aff)

FOKUS BERITA

Bumi Rumah Kita
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
NEWS FEED