Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 12 Okt 2019 16:45 WIB

TRAVEL NEWS

Hanya Pakai Kayu, Rumah Adat di Desa Wisata Ini Usianya 200 Tahun

Nurcholis Maarif
detikTravel
Foto: Nurcholis Maarif/detikcom
Foto: Nurcholis Maarif/detikcom
Way Kanan - Konon masyarakat pinggiran sungai Way Kanan zaman dahulu menggunakan sungai sebagai jalur transportasi utama. Mereka hidup berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain.

Lalu pada abad ke-17, sekelompok masyarakat memutuskan membangun rumah kayu dan menetap di daerah pinggir sungai yang kini dikenal sebagai Kampung Gedung Batin di Kecamatan Blambangan Umpu, kabupaten Way Kanan, Lampung.

Inilah awal mula adanya rumah tua yang kini berusia lebih dari 200 tahun seperti yang dituturkan Abdul Wahid (68), generasi ke-6 dan tokoh masyarakat Gedung Batin.

Menurut Wahid, awalnya hanya ada 9 rumah lalu bertambah dan beberapa roboh karena ditinggal penghuninya. Sedangkan pembangunan rumah masih menggunakan alat tradisional dan terlihat dari rumah-rumah yang bertahan.


"Dulu sekitar kita ada hutan besar, masyarakat tuh tinggal tebang saja. Kalau dulu itu nggak pakai mesin, tinggal pilih kayu. Misalnya butuh kayu yang 12 meter, yah ditebang saja sebatang. Ditatah begitu sehingga ujung dan pangkal sama," ucap Wahid saat ditemui beberapa waktu lalu.

Rumah-rumah yang terbuat kayu tersebut, ternyata tak menggunakan paku sebagai alat perekat sambungannya. Para pekerja konstruksi saat itu menggunakan batang bambu.

"Itu tukang yang rumah ini orang China, menandai sambungan di kode-kode itu. Pakai pasak dia, ga pakai paku ini, dipasak sama bambu, diraut pas sama lubang, manual," imbuhnya.

Lokasi Kampung Wisata Gedung Batin dapat ditempuh sekitar setengah jam dari Jalan Lintas Sumatera yang membelah Way Kanan. Jalannya juga sudah teraspal dan melewati beberapa perkampungan dan perkebunan karet.

Hanya Pakai Kayu, Rumah Adat di Desa Wisata Ini Usianya 200 TahunFoto: Nurcholis Maarif/detikcom

Saat tim detikTravel berkunjung, suasana kampung terlihat tenang. Rumah tua ini berbentuk panggung di mana kita harus menaiki tangga terlebih dahulu untuk masuk ke dalamnya. Kata Wahid, dulu warga memanfaatkan kolong rumah untuk menyimpan hewan ternak yang dipeliharanya.

Saat mengunjungi salah satu rumah, ruang utamanya luas dan langsung menyambung ke dapur. Ada juga beberapa kamar dan di ruang utama ini ada lemari yang menyimpan barang-barang peninggalan masa lalu.

Selain itu, setiap rumah juga mempunyai nama masing-masing yang tertulis dalam papan di halaman depan. Terlihat juga kalau rumah ini memang disambung tidak dengan alat modern seperti paku.

Kayu dan papannya juga terlihat masih kokoh. Suasana siang yang panas berubah menjadi sejuk saat masuk dalam rumah yang terbuat dari kayu ini.

Sampai saat ini, kata Wahid, adat dan tradisi masih dijalankan masyarakat setempat. Ia mencontohkan pemberian gelar seorang anak yang harus dulu menaiki pepadun, sebuah kursi adat yang sudah ada turun temurun.

Hanya Pakai Kayu, Rumah Adat di Desa Wisata Ini Usianya 200 TahunFoto: Nurcholis Maarif/detikcom


"Nanti anak saya kalau menggantikan saya, harus naik di situ dulu, jadi pakai tari tigol, disaksikan oleh seluruh kabupaten Way Kanan, diundang secara resmi melalui tokoh adat bahwa di Gedung Batin ini ada kodawi (upacara adat)," ucapnya.

"Nggak sembarangan itu, pakai potong kebo (kerbau), kadang 7 kebo. Tapi memang tergantung kemampuan kita," jelasnya.


Kini sejak dipromosikan menjadi kampung wisata, Gedung Batin sudah mulai banyak dikunjungi. Ada juga mahasiswa yang melakukan penelitian dengan subjek sejarah maupun arsitektur rumah tua yang masih bertahan ratusan tahun ini.

Pada 2018, Gedung Batin meraih penghargaan kampung wisata favorit kedua dari Anugerah Pesona Indonesia yang digelar Kementerian Pariwisata. Selain itu, sungai di dekatnya menjadi arena festival rafting bambu yang digelar setiap tahun.

Sementara itu, menurut Kepala Desa Kampung Gedung Batin Alvera Devi (48), masyarakat setempat turut senang menyambut wisatawan yang datang. Apalagi wisatawan tidak dipungut biaya tiket atau penginapan.

"Alhamdulillah masyarakat senang, ada perubahan, setiap tahun ada acara rafting bambu, wisatawan mancanegara masuk. Tadinya nggak ada warung di sini, dulu kita keluar," ucap Alvera.

"Sekarang sudah mulai ada warung. Kalau penginapan setiap rumah warga jadi homestay," imbuhnya.

Lanjut Alvera, sejak adanya dana desa yang digagas Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT), masyarakat setempat juga merasakan manfaatnya. Pihaknya mengalokasikan dana desa untuk pembangunan jembatan yang menghubungkan antar dusun di Kampung Gedung Batin.

Ia juga berencana mengalokasikan dana desa guna pemberdayaan masyarakat untuk mengelola kampung wisata Gedung Batin.

Adapun informasi lainnya mengenai Kemendes PDTT, bisa dicek di sini.





Simak Video "Dapur Way Kanan, Masa Depan Wirausaha di Lampung"
[Gambas:Video 20detik]
(prf/ega)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA