Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Sabtu, 19 Okt 2019 20:40 WIB

TRAVEL NEWS

Maskapai Ini Uji Coba Penerbangan 20 Jam Nonstop, Tujuannya?

Putu Intan Raka Cinti
detikTravel
Foto: Ilustrasi pesawat (iStock)
Foto: Ilustrasi pesawat (iStock)
Jakarta - Penerbangan nonstop selama 20 jam dari New York ke Sidney sedang diuji coba oleh Qantas, maskapai Australia. Hal ini punya beberapa tujuan.

Untuk melakukan penerbangan ini, pesawat harus dilengkapi dengan teknologi yang lebih canggih dengan efisiensi bahan bakar yang lebih baik, rentang lebih panjang, dan perencanaan logistik yang dibantu komputer.

Saat ini, belum ada penerbangan langsung dari Sidney ke New York. Hal ini karena tidak ada pesawat komersial yang memiliki jangkauan terbang sekitar 16.020 kilometer dengan kondisi muatan penumpang dan kargo penuh.




Oleh karena itu agar rencana ini terwujud, perlu adanya pesawat yang mumpuni. Saat ini, Airbus dan Boeing tengah menyiapkan hal tersebut. Rencananya Qantas akan menentukan pilihan pesawat pada akhir 2019 mendatang lalu memulai layanan komersial pada awal 2022.

Untuk uji coba terbang, Qantas menggunakan pesawat Boeing 787-9 Dreamline. Uji coba ini melibatkan 50 orang penumpang.

Qantas mengatakan penerbangan uji coba ini berfungsi sebagai misi pengumpulan data, dengan tim peneliti dari Universitas Sydney yang ditempatkan di pesawat dan dan di darat untuk memantau pola tidur, konsumsi makanan dan minuman, pencahayaan, pergerakan fisik, dan hiburan dalam penerbangan untuk menilai dampak pada kesehatan, kenyamanan, dan jam biologis.




Uji coba ini diperlukan karena penerbangan nonstop menyangkut ketahanan tubuh dan otak manusia. Penumpang akan menghabiskan banyak waktu ketika melakukan perjalanan, tak hanya 20 jam di udara tetapi juga akumulasi waktu mulai dari menunggu keberangkatan hingga ketersediaan landasan pacu pesawat.

Sementara itu, terdapat pula efek samping kesehatan yang mungkin dialami penumpang. Udara kabin yang kering yang dapat menyebabkan kulit kering, sakit kepala, dan dehidrasi. Efek lainnya adalah kemungkinan terjadi penggumpalan darah yang disebabkan karena terlalu lama duduk serta jetlag yang makin buruk karena perjalanan jauh.




Selain itu, Qantas juga membutuhkan izin dari regulator penerbangan Australia terkait dengan izin kerja awak kabin seperti pilot dan pramugari untuk bisa bekerja lebih dari 20 jam.

Meskipun memiliki sejumlah tantangan, penerbangan ini memiliki manfaat bagi para pebisnis. Misalnya saat ini penerbangan dari New York ke Sydney membutuhkan waktu paling cepat 24 jam dengan sekali pemberhentian atau 40 jam bila waktu transit lebih lama.

Bila penerbangan 20 jam ini dilakukan dengan sukses, para pebisnis akan diuntungkan karena menekan waktu perjalanan. Hal ini sesuai dengan target konsumen Qantas yang merupakan kalangan pebisnis.




Simak Video "Unggah Foto di Kabin Pesawat, Kaesang Sindir Garuda Indonesia"
[Gambas:Video 20detik]
(krs/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA