Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Selasa, 29 Okt 2019 12:41 WIB

TRAVEL NEWS

Cerita Perayaan Festival Cahaya di Pasar Baru Jakarta

Putu Intan Raka Cinti
detikTravel
Perayaan hari Diwali di Pasar Baru. (Foto: Putu Intan Raka Cinti/detikcom)
Jakarta - Suka cita Diwali, perayaan bagi umat Hindu di seluruh dunia, turut dirasakan masyarakat keturunan India di Indonesia. Inilah sepotong cerita perayaan Diwali umat Hindu India di Pasar Baru, Jakarta.

Senin malam (28/10/2019), puluhan umat Hindu India berkumpul di Kuil Hare Krishna Pasar Baru, Jakarta Pusat. Mereka berkumpul untuk merayakan Diwali, hari besar yang diperingati setiap bulan Oktober atau November menurut kalender India.

Kuil tempat mereka berkumpul itu dipenuhi lilin. Di bagian depan ruangan ada patung Krishna, salah satu tokoh sentral dari Diwali. Acara berjalan khidmat dan penuh suka cita. Diawali dengan nyanyian, tarian, pembahasan atau amanat dari kitab suci, lalu dilanjutkan dengan tarian, dan menyalakan lilin di depan patung Krishna.

Menurut Prabhu Bal Mukunda Das, President Temple Sri Nilacala Dhama, Diwali merupakan perayaan dharma yang menang dari adharma. Dapat diartikan sebagai kebaikan menang dari kejahatan.

Kisah Perayaan Festival Cahaya dari Pasar BaruPerayaan hari Diwali di Pasar Baru. (Foto: Putu Intan Raka Cinti/detikcom)

Dikutip dari Independent, Diwali atau dikenal juga dengan sebutan Dipavali, berasal dari bahasa Sanskerta yang berarti deretan nyala lampu atau cahaya. Ada pula sebutan Festival Cahaya untuknya.

Makna ini juga disinggung Prabhu Bal Mukunda Das dalam obrolan dengan detikcom. Dipa itu artinya lampu. Sedangkan Wali artinya jalan. Sehingga Dipawali bisa diartikan jalan cahaya atau jalan untuk kebajikan," terangnya.

Istilah ini muncul dari kisah di balik perayaan Diwali. Menurutnya ada dua versi cerita, yang berasal dari India Utara dan India Selatan. Pertama dari India Utara, masyarakat memaknai Diwali sebagai hari peringatan Rama melenyapkan Rahwana. Seperti pada epos Ramayana, Rama berhasil menyelamatkan istrinya, Shinta yang diculik Rahwana, raksasa yang angkuh dan sombong.

"Pada saat Rama kembali ke Ayodya, saat itu kondisi bulan gelap atau disebut amawasai. Saat itu penduduk Ayodya menyalakan lampu," katanya.




Itulah mengapa Dipawali kerap disebut sebagai festival cahaya. Lampu-lampu itu menjadi lambang kemenangan atas kegelapan.

Lain lagi dengan cerita dari India Selatan. Di India Selatan, masyarakat merayakan Dipawali sebagai kemenangan Krishna atas Narakasura. "Sri Krishna melenyapkan Narakasura, raksasa yang membangun planet sendiri tapi sangat angkuh dan sebanyak 16.000 wanita diambil, ditahan, dan menjadi tawanan perang," ujar Prabhu Bal Mukunda Das menjelaskan lebih lanjut kisah itu.

Karena sikap Narakasura yang serakah, Krishna meminta Narakasura kembali ke jalan yang benar. Akan tetapi Narakasura tak menghendaki hal itu dan justru mengajak berperang. Dalam peperangan melawan Krishna, Narakasura kalah. Pada saat itulah ia meminta Krishna untuk membersihkan dirinya dari kejahatan. Peristiwa ini kemudian diperingati dengan perayaan dimana umat berkumpul dan makan bersama. Perayaan ini dilakukan untuk mengingatkan bahwa kejahatan akan kalah dengan kebaikan.

Kisah Perayaan Festival Cahaya dari Pasar BaruPerayaan hari Diwali di Pasar Baru. (Foto: Putu Intan Raka Cinti/detikcom)

Perayaan hari Diwali yang dilakukan di Pasar Baru ini tak hanya dihadiri oleh umat Hindu keturunan India, tetapi juga terbuka untuk umum, seperti sekelompok orang yang terlibat dalam Tur Little India yang digagas Jakarta Food Traveler/Wisata Kreatif Jakarta. Menurut Ira Latief, Ketua Jakarta Food Traveler/Wisata Kreatif Jakarta, tur ini dilakukan bertepatan dengan Diwali karena ingin memperkenalkan perayaan tersebut ke khalayak luas.

"Sebenarnya di Jakarta ini cukup besar masyarakat keturunan India tapi Diwali belum banyak orang yang tau," kata Ira.

Salah satu peserta tur, Tria, mengungkapkan pendapatnya usai ikut serta dalam perayaan Diwali. "Orangnya (keturunan India) ramah-ramah. Toleransinya tinggi. Menurut saya dekorasinya bagus, terutama saat gelap. Walaupun tempatnya mungil tapi artistik."

Rangkaian perayaan Diwali hari itu ditutup dengan makan bersama dan pesta kembang api. Sebuah contoh keindahan toleransi ketika peringatan hari kemenangan ini tak hanya dinikmati masyarakat keturunan India tetapi juga masyarakat lintas etnis dan agama.


(krs/aff)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA