Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Rabu, 06 Nov 2019 17:22 WIB

TRAVEL NEWS

Cerita Guide Dayak Lundayah: Kaget Dibilang Terkenal oleh Bule

Syanti Mustika
detikTravel
Krayan dari ketinggian (Okta/detikcom)
Krayan dari ketinggian (Okta/detikcom)
Jakarta - Potensi wisata yang dimiliki Krayan membuatnya tetap disambangi turis walaupun berada di pedalaman hutan Kalimantan. Nah, ini sepotong kisah guide Dayak Lundayah saat pertama kali membawa turis bule di Krayan.

Suku Dayak Lundayah merupakan suku asli yang menghuni wilayah Krayan, Kalimantan Utara. Di sana mereka punya forum adat bernama Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT) yang mengatur pergerakan ekonomi dan wisata Suku Dayak di dua negara, yaitu dengan Malaysia dan Indonesia, khususnya wilayah perbatasan.




Untuk wilayah Krayan, yang bertanggungjawab untuk ekowisata adalah Alex Balang. Dia merupakan Ketua Komisi Ekowisata Forum Masyarakat Adat Dataran Tinggi Borneo (FORMADAT). Alex, yang mengaku sebagai guide pertama di Krayan, pun berkisah kepada detikcom bagaimana Krayan bisa dikenal oleh turis.

"Jujur, saya juga tidak paham bagaimana awalnya dulu turis kenal dengan saya. Yang saya tahu mereka setiap bertemu dengan saya, mereka menyodorkan lembaran dari Lonely Planet yang memuat nama saya. Mereka bilang saya sangat terkenal," ujar Alex membuka cerita.

Alex Balang (Syanti/detikcom)Alex Balang (Syanti/detikcom)

Dia pun mengatakan bahwa ketika itu sudah ada empat orang turis yang datang ke Krayan karena panduan dari Lonely Planet dan mencari dirinya. Awalnya, yang menggunakan jasanya adalah pilot-pilot pesawat perintis yang datang ke Krayan.

"Bermula dari pilot pesawat perintis yang orang Amerika pernah datang ke Krayan. Mungkin dari atas Krayan terlihat sangat indah dan kemudian dia ingin mengelilingi Krayan. Bisa jadi akhirnya dia mempromosikan Krayan ke sesama teman pilotnya hingga mulailah bule datang ke Krayan," jelasnya.

Karena dulu belum ada sarana komunikasi yang memadai, Alex pun hanya bisa dihubungi melalui telepon sebuah penginapan. Butuh waktu seharian untuk dia bisa mendapatkan kabar karena lokasi penginapan sangat jauh dari rumahnya.

"Saya kan dulu tidak ada telepon, jadi turis-turis itu mencari saya melalui telepon Penginapan Agung. Nanti orang penginapan akan datang ke kampung saya di Lembudud dan ke sana butuh 4 jam jalan kaki. Dan saya ke Long Bawan juga butuh 4 jam untuk menyambut telepon turis tersebut. Dulu kan adanya wartel (warung Telkom) nah nanti turis akan meninggalkan kontaknya dan saya akan telepon balik," ceritanya.




Setelah membuat janji, turis pun datang ke Krayan. Nah, di sinilah momen mereka menyodorkan kertas dari Lonely Planet kepada Alex sekaligus minta dirinya membuatkan itinerary perjalanan wisata.

"Bule-bule yang datang pun langsung menanyakan, 'apakah kamu Alex Bawang?'. Saya kaget kenapa mereka tahu nama saya kan. Mereka pun melihatkan kertas Lonely Planet dan meminta saya membuatkan tempat-tempat yang harus mereka kunjungi selama di Krayan. Mereka ingin jelajahi Krayan," lanjutnya.

Keindahan alam Krayan membuat Alex sering membawa turis asing untuk keliling Krayan. Turis yang datang pun dari beragam negara. "Kebanyakan turis yang itu dari Inggris, Swiss, Amerika, Australia. Dulu kebanyakan turis asing," jelas Alex.

Alex pun juga mengatakan bahwa turis yang datang ke Krayan biasa melapor dulu kepadanya. Setelah itu dirinya akan memberikan pendapat tempat-tempat yang bisa didatangi turis. Bahkan dia juga sudah menyiapkan paket-paket wisata untuk turis.

"Turis yang datang itu biasanya akan bertemu dan konsultasi dengan saya. Nanti saya akan memberikan rekomendasi dan juga menawarkan paket-paket wisata kepada mereka," kata Alex.

Cerita Guide Dayak Lundayah Pertama Kali Bawa TurisKrayan dari udara. (Foto: Pradita Utama/detikcom)

Terkait paket wisata untuk turis, Alex punya Jungle Trekking dengan pilihan durasi hari. Turis bisa memilih paket trekking yang mana sesuai waktu dan budget yang mereka punya.

"Paket yang kita punya mulai dari 5 juta untuk 5 hari. Itu semua sudah masuk akomodasi, makan, transportasi di Krayan, guide dan porter. Semua tergantung keinginan turis ingin berapa lama dan seperti apa," jelas Alex.

Alex tidak bergerak sendiri. Bersama dengan Forum adat Dataran Tinggi Borneo yang mengayomi etnis yang berada di perbatasan Indonesia dan Malaysia, merek saling berkoordinasi jika sedang membawa turis. Karena rutenya bisa menembus ke perbatasan negara.

"Sekarang sudah gampang. Turi bisa menghubungi saya dengan telepon genggam atau internet. Saya sering juga menggunakan email untuk koordinasi, terutama mengirimkan dokumen-dokumen seperti paspor, KTP dan lainnya," tutupnya.

Nah, traveler minat jelajahi Krayan?




Simak Video "Kucuran Keringat Demi Menerangi Perbatasan"
[Gambas:Video 20detik]
(sym/krs)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA