Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Kamis, 14 Nov 2019 19:34 WIB

TRAVEL NEWS

Buat Orang Jerman, Tampon Wanita Itu Barang Mewah Lho!

Bonauli
detikTravel
Ilustrasi tampon (iStock)
Jakarta - Tiap negara punya daftar sendiri dalam kategori mewah. Kalau buat orang Jerman, tampon yang merupakan produk kewanitaan adalah sebuah barang mewah. Kok?

Tampon pada dasarnya merupakan produk yang berfungsi mirip pembalut buat wanita, dengan bentuk silinder yang terbuat dari kapas. Pembalut jenis ini masih marak digunakan oleh beberapa negara seperti Jerman.

Yang menarik, tampon masuk dalam kategori barang mewah di Jerman. Kategori barang mewah membuat kantong tercekik. Jerman mengenakan pajak yang cukup besar untuk daftar barang mewah. Padahal, pembalut jadi salah satu barang wajib bagi kaum hawa setiap bulannya.

Saking mewahnya, (pajak) tampon bisa disejajarkan dengan wine, rokok, dan produk lainnya. Parahnya lagi, pajak untuk tampon bahkan lebih tinggi dibandingkan dengan salmon, kaviar hotel, dan taksi.

Pajak barang mewah ini dianggap memberatkan perempuan. Alhasil warga Jerman melakukan petisi daring yang menuntut diturunkannya pajak pembalut.

Petisi ini menjadi tuntutan dari kampanye kesetaraan gender yang dilakukan di Jerman. Ada sekitar 200 ribu orang yang menandatangani petisi ini.

Akhirnya setelah melakukan pemungutan suara di parlemen, tampon dicabut dari daftar barang mewah. Sehingga produk sanitasi ini bisa dibeli dengan harga yang lebih murah.

Keputusan ini akan diterapkan pada 1 Januri 2020. Pajak produk sanitasi barang mewah akan dipotong 19 persen dan produk kesehatan sehari-hari 7 persen.

Masih ada waktu 2 bulan sampai keputusan tersebut untuk berlaku. Traveler yang akan mengunjungi Jerman pada akhir tahun jangan lupa untuk mempersiapkan pembalut ya!




Simak Video "Asal Muasal Sepeda yang Kini Jadi Tren di New Normal"
[Gambas:Video 20detik]
(bnl/bnl)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA
d'Rooftalk
×
Manuver Izin Reklamasi Ancol
Manuver 'Izin' Reklamasi Ancol Selengkapnya