Welcome d'travelers !

Ayo share cerita pengalaman dan upload photo album travelingmu di sini. Silakan Daftar atau

Minggu, 15 Des 2019 10:45 WIB

TRAVEL NEWS

Diterjang Hujan Angin, Cagar Budaya di Mataram Ambruk

Harianto Nukman
detikTravel
Balai Kambang di Taman Mayura pasca ambruk (Harianto Nukman/detikcom)
Mataram - Balai Kambang di Taman Mayura, Kota Mataram, ambruk diterjang hujan disertai angin kencang. Bangunan itu adalah salah satu cagar budaya di Lombok.

Hujan deras disertai petir dan angin kencang yang turun pada Sabtu (14/12/2019) siang kemarin sekitar pukul 14.40 Wita, mengakibatkan banyaknya pohon tumbang dan menimpa beberapa bangunan rumah milik warga. Tak terkecuali Balai Kambang yang berada di tengah kolam Taman Mayura.

Dihimpun detikcom pada Minggu (15/12/2019) salah satu sumber yang ditulis oleh Artanegara pada laman kebudayaan.kemdikbud.go.id menyebutkan sejarah Taman Mayura berhubungan erat dengan sejarah keberadaan komunitas Bali di Lombok.

Diterjang Hujan Angin, Cagar Budaya di Mataram Ambruk(Harianto Nukman/detikcom)
Taman Mayura sudah ada sejak Kerajaan Singasari atau Karangasem Sasak di Lombok pada awal abad ke-19. Ketika itu di Lombok masih terdapat kerajaan-kerajaan kecil. Dari kerajaan-kerajaan kecil itu sampai dengan tahun 1838 tinggal dua kerajaan saja yang ada, yaitu Singasari dan Mataram. Kedua kerajaan ini terlibat dalam peperangan.

Kerajaan Singasari mengalami kekalahan. Raja dan keluarganya melakukan puputan di Sweta. Hanya dua orang anak kecil keturunan Kerajaan Singasari yang berhasil diselamatkan dan dibawa ke Karangasem (Bali).

Kerajaan Mataram walaupun berada di pihak yang menang, namun rajanya tewas dalam peperangan itu. Sebagai pewaris tahta Kerajaan Mataram adalah Anak Agung Gde Ngurah Karangasem (Putra Mahkota) dan adiknya yang bernama Anak Agung Ngurah Ketut Karangasem. Pada tahun 1839 Kerajaan Singasari berhasil ditumpas habis oleh Kerajaan Mataram.

Diterjang Hujan Angin, Cagar Budaya di Mataram AmbrukBalai Kambang sebelum ambruk diterjang angin (Harianto Nukman/detikcom)
Pada pertengahan abad ke-19, putra mahkota Kerajaan Mataram membangun puri di atas bekas Puri Kerajaan Karangasem Singasari yang hancur. Pembangunannya selesai pada tahun 1866. Puri itu diberi nama Singasari atau Karangasem, dan kemudian diganti menjadi Cakranegara.

Ketika terjadi perang melawan Belanda (Ekspedisi Lombok) pada tahun 1894 yang berakhir dengan kekalahan Kerajaan Mataram, puri kerajaan hancur. Peristiwa penting yang terjadi pada waktu itu adalah ditemukannya keropak (naskah lontar) Desawarnana atau yang kemudian terkenal dengan nama Negarakertagama.

Kekalahan Kerajaan Mataram atas Belanda berarti berakhirnya masa pemerintahan dengan sistem kerajaan di Lombok. Peristiwa itu juga menandai awal masa pemerintahan Hindia Belanda di Lombok.

Konon taman indah ini dulu namanya adalah Taman Kelepug, karena suara mata air di tengah kolam yang berbunyi kelepug-kelepug. Nama Mayura artinya burung Merak. Aslinya berasal dari bahasa Sansekerta, Mayora. Hanya saja lafaz Bali dan masyarakat setempat mengucapkannya menjadi Mayure.

Balai Kambang atau disebut juga Balai Kencana, yang pada saat menjelang perang melawan Belanda tahun 1894 digunakan sebagai tempat untuk menyimpan mesiu dan senjata, selain itu Balai Kambang pernah juga dipergunakan sebagai ruang sidang pengadilan.

Balai Kambang menjadi lokasi wisata karena di lokasi ini selain indah, dahulu juga merupakan sisa peninggalan Raja Anak Agung Made Karangasem dari Bali, saat menjajah Pulau Lombok. Dia kemudian mendirikan Taman Mayura sekitar tahun 1744 Masehi.

Simak Video "Penemuan Uang Kuno Blitar"
[Gambas:Video 20detik]
(rdy/rdy)
BERITA TERKAIT
BACA JUGA